Selamat Datang Di Portal Berita Online Warta Jogja "Santun Dan Berbudaya" Selamat Datang Di Portal Berita Online Warta Jogja "Santun Dan Berbudaya" Selamat Datang Di Portal Berita Online Warta Jogja "Santun Dan Berbudaya"

Pagelaran Wayang Kulit ” Mensikapi Kegelisahan Di Tengah Pandemi

WARTA JOGJA | BANTUL — Lakon carangan biasa dimainkan untuk pagelaran wayang climen di Padhepokan Karang Kadhempel, Gayam, Argosari, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Situasi saat ini karena Pandemi Corona Covid – 19 memang menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan diraskan oleh berbagai kalangan, baik perorangan, kelompok, instansi juga institusi.

Banyak kalangan yang mencoba melakukan berbagai terobosan untuk mempertahankan eksistensi ataupun berupaya lepas dari keterpurukan karena pandemi.Salah satu dalang yang baru naik daun sebelum mewabah pandemi juga berupaya bagaimana geliat seni yang ditekuninya tidak terpuruk karena dibelakangnya banyak kelompok maupun perorangan praktis terdampak karena ditunda dan bahkan diurungkannya jadual-jadual yang sudah disusunnya jauh sebelum pandemi.

Ki Seno Nugroho yang memang punya banyak penggemar dan luar biasa baik penonton langsung maupun di You Tube menampilkan Wayang Climen.
Waktu 2 jam bukan saat yang lama untuk memainkan wayang climen. Pengrawit atau penabuh gamelan Juga tidak sebanyak lakon pakem.

Malam ini, Minggu, 12 Juli 2020 Wayang climen mengambil lakon “Bagong Cemburu” jawab Gunawan Admin Ki Seno Nugroho ketika ditanya responden.Tokoh Bagong di tangan Ki Seno menjadi istimewa ketika dikemas untuk menuntaskan cerita-cerita carangan untuk menghibur warga di tengah pandemi ini. Yang secara finansial tetap didapat, kepuasan batin dalang dan Crewnya untuk mengekspresikan jiwa seni yang dimilikinya dan sangat menghibur meski tidak secara langsung pemirsa bisa menikmati pementasan wayang kulit secara climen ini.

Secara langsung memang tidak ada yang menonton di lokasi pementasan. Acara dilaksanakan sesuai protokol Corona Covid-19.
Keresahan tampak jelas terlihat dari kegelisahan Admin Pak Seno, betapa beliau amat rindu dengan nasi kotak / nasi box yang selalu didapat ketika ada tanggapan langsung baik perorangan maupun instansi. Kangen berada di tengah penonton dan masyarakat yang pasti menggemarinyanya.

Bagong Cemburu dapat diambil kesimpulan bahwa bagaimana peran seorang istri, peran suami selaku anggota masyarakat biasa yang harus selalu beradaptasi dengan masyarakat, lingkungan dan harus bertanggungjawab terhadap keluarga tanpa membatasi peran serta istri terhadap masyarakat di sekitarnya. Lakon yang diambilnya adalah cerita sehari-hari yang terjadi di masyarakat.

Ending dari cerita ini sosok Bagong yang sudah termakan hasutan tokoh Bejo melalui Petruk akhirnya menyadari kekurangan dan kesalahannya. Menjadi lebih hidup ketika Sang Dalang menyisipkan cerita “Kleting Kuning” yang lakon selengkapnya, diperankan oleh ke empat sinden yang menemani malam itu.

Pandemi memang membawa dampak termasuk salah satunya peradapan baru. Tetapi bagaimana seorang Seno Nugroho tetap konsisten dengan profesi yang digelutinya dan berjaya termasuk lancar mengumpulkan pundi – pundi sebelum pandemi dan hingga kini masih setia dan konsisten dengan wayang kulitnya dan berupaya untuk selalu bertanggung jawab kepada orang-orang di sekelilingnya termasuk krew semua elemen pendukungnya.

Ki Seno Nugroho dan admin (Gunawan) selalu berinovasi untuk mengikis kegalauannya oleh dampak Pandemi Corona Covid-19. Sebagaimana kita juga punya tanggung jawab yang sama dengan harapan situasi ini segera berakhir tanpa ada penambahan pasien dimanapun karena Pandemi ini.

WJ ( Runtik )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *