Selamat Datang Di Portal Berita Online Warta Jogja "Santun Dan Berbudaya" Selamat Datang Di Portal Berita Online Warta Jogja "Santun Dan Berbudaya" Selamat Datang Di Portal Berita Online Warta Jogja "Santun Dan Berbudaya"

PW RMI-NU DKI Jakarta Luluskan 22 Konselor Pesantren Ramah Anak Angkatan Pertama

WARTAJOGJA.COM | JAKARTA- Pengurus Wilayah Asosiasi Pesantren NU atau Rabithah Ma`ahid Islamiyah (PW RMI-NU DKI Jakarta) bekerjasama dengan Ma`had Aly Zawiyah Jakarta telah selesai menyelenggarakan Pelatihan Konseling Pesantren Ramah Anak Angkatan Pertama bertempat di Ma`ahad Aly Zawiyah Jakarta, Cipinang Muara, Makassar, Jakarta Timur, Rabu s.d Kamis (24 s.d 25 Agustus 2022) yang diawali dengan Seminar Pesantren Ramah Anak: Apa, Mengapa dan Bagaimana? Pelatihan konseling ini dengan instruktur H Asep Haerul Gani, psikolog klinis yang berpengalaman mendampingi anak korban kekerasan, telah meluluskan 22 konselor pesantren ramah anak yang terdiri atas 12 konselor perempuan dan 10 konselor pria yang berasal dari pesantren, ma`had aly dan lembaga pendidikan Islam lainnya.

“Diadakannya pelatihan konseling pesantren ramah anak ini karena perlu ada solusi kongkrit agar segala bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh oknum di lembaga pendidikan seperti pondok pesantren dapat dicegah, dan bahkan dapat ditanggulangi dengan baik oleh pihak pondok pesantren sendiri,” Ujar Ketua PW RMI-NU DKI Jakarta, KH Rakhmad Zailani Kiki yang akrab disapa Ustadz Kiki, dalam siaran persnya.

Lebih lanjut Ustadz Kiki menyatakan bahwa idealnya semua pengajar, musyrif atau musyrifah, memiliki kompetensi sebagai konselor karena setiap santri memiliki karakteristik, watak dan permasalahan yang khas dan berbeda dengan santri lainnya. Terlebih mereka hidup bersama selama 24 jam dalam jangka waktu yang lama, sehingga perbedaan ini sering menimbulkan gesekan dan atau persoalan bagi diri si santri, bagi santri lainnya dan atau juga bagi pengajar dan pengelola pondok pesantren.

“Masih adanya pondok pesantren yang tidak ramah anak di Indonesia membuat dua kementerian, yaitu Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau KPPPA dan Kementerian Agama, menyusun dan menerbitkan buku Pedoman Pesantren Ramah Anak. Namun, kedua buku pedoman ini tidak akan jalan, hanya menjadi pedoman di atas kertas yang tidak menyelesaikan masalah, jika tidak ada kesadaran dan komitmen dari pihak pondok pesantren untuk menghilangkan segala bentuk kekerasan terhadap santrinya dan tidak adanya tenaga konselor yang memadai untuk menangani santri yang mengalami tindak kekerasan,” ujar Ustadz Kiki.

Ustadz Kiki menjelaskan bahwa dengan berhasilnya penyelenggarakan Pelatihan Konseling Pesantren Ramah Anak Angkatan Pertama ini, PW RMI-NU DKI Jakarta akan terus menyelenggarakannya untuk angkatan berikutnya dan siap bekerja sama dengan siapa pun untuk menyukseskan pelatihan konseling tersebut dengan cita-cita agar semua pondok pesantren memiliki pengajar, muysrif atau musyrifah, yang memiliki kompentensi sebagai konselor agar pondok pesantren tetap sebagai tempat yang selalu ramah terhadap anak.
( Miftahul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *