Ratusan massa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memadati gedung DPRD DIY di kawasan Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, pada Selasa 20 Oktober 2026 siang (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Ratusan massa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memadati gedung DPRD DIY di kawasan Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, pada Selasa 20 Oktober 2026 siang. Kedatangan massa yang mengatasnamakan aksi gabungan ini bertujuan untuk menyuarakan evaluasi kritis terhadap dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Berdasarkan pantauan di lokasi, rombongan massa mulai berdatangan sekitar pukul 12.00 WIB. Rombongan awal datang dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), disusul kelompok mahasiswa berpakaian serba hitam tanpa atribut kampus yang membentangkan spanduk bertuliskan “Yogyakarta Melawan”.
Tak lama kemudian, gelombang massa yang lebih besar dari Universitas Islam Indonesia (UII) berjas almamater biru tiba menggunakan kendaraan pikap dan membawakan bendera. Aksi semakin membesar saat rombongan massa dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berjas almamater merah turut memadati depan gerbang DPRD DIY di sepanjang Jalan Malioboro.
Dalam orasinya, perwakilan mahasiswa menyoroti berbagai isu strategis nasional, mulai dari efisiensi anggaran, penanganan bencana alam, hingga legitimasi kepemimpinan nasional.
“Program di negeri ini semenjak dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka semakin bobrok. Yang pertama, program MBG itu hanya menyerap anggaran pendidikan. Kami di sini, kami ingin kuliah diserap pendidikannya, diserap anggarannya untuk program MBG,” ucap salah satu orator dari UII asal Sumatra Barat di tengah aksi, pada Selasa 20 Oktober 2026.
Orator tersebut juga menyinggung penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta pembentukan kabinet pemerintahan yang dinilai terlalu gemuk.
“Banyaknya kebakaran di hutan yang tidak ditetapkan bencana alam dan mitigasi lambat. Yang terbaru, adanya kabinet yang gemuk, untuk apa kabinet yang gemuk? Bagi-bagi kue politik balas budi,” tegasnya.
Selain itu, massa aksi mempertanyakan keabsahan syarat administrasi serta legitimasi kepemimpinan nasional dan mendesak wakil rakyat di parlemen mengambil sikap tegas.
“Selanjutnya, DPR harus mengusung ini agar di-impeach, dimakzulkan. Setuju? Siapa setuju Wapres dimakzulkan? Dimakzulkan!” teriak orator di hadapan massa yang bersahutan menyetujui.
Menanggapi kedatangan massa, Ketua DPRD DIY Nuryadi hadir secara langsung menemui para demonstran untuk menampung aspirasi yang disampaikan.
“Kami menindaklanjuti aspirasi kalian semua. 2 tahun sudah berlalu pemerintahan kali ini maka menjadi wajar kalau rakyat memberikan evaluasi,” ujar Nuryadi di hadapan massa.
Nuryadi juga mengingatkan agar penyampaian aspirasi tetap berlangsung tertib dan damai.
“Pesan kita adalah jangan terjadi kerusuhan bagaimanapun mahasiswa adalah pada saat nanti akan menggantikan kita semua, maka sampaikanlah aspirasi itu dengan cara benar,” tandas Nuryadi.
Adapun tujuh tuntutan utama yang diusung oleh massa aksi mahasiswa se-DIY dalam evaluasi pemerintahan Prabowo-Gibran ini yakni diantaranya:
1. Evaluasi Total Penanggulangan Karhutla dan percepatan pemulihan bagi masyarakat terdampak.
2. Moratorium, Evaluasi, dan Transparansi Program Strategis Nasional, khususnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program strategis lainnya.
3. Regulasi Pengadaan, Tata Kelola, dan Transparansi BBM Subsidi di setiap daerah di Indonesia.
4. Perbaikan Pola Komunikasi Pemerintah, terutama komunikasi Presiden agar lebih menghormati rakyat.
5. Restrukturisasi dan Perampingan Kabinet Gemuk demi efisiensi birokrasi dan penyelamatan anggaran negara.
6. Penghentian Militerisme dalam berbagai bentuk, terutama keterlibatan militer di ranah sipil.
7. Penegakan Proses Peradilan HAM bagi 13 peristiwa pelanggaran HAM berat masa lalu.
Setelah menyampaikan orasi dan menyerahkan poin tuntutan di gedung DPRD DIY, sebagian massa berangsur-angsur bergeser menuju kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta untuk melanjutkan aksi secara damai.

Redaktur: Mawan

