
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Pasar Terban, salah satu pusat perdagangan ikonik di Kota Yogyakarta, akan mulai beroperasi secara resmi pada 10 Januari 2026. Pasar ini dirancang menjadi percontohan pasar ayam yang aman, nyaman, bersih, dan halal, sekaligus menambah fasilitas perdagangan bagi masyarakat serta pedagang di sekitar Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, mengatakan pembangunan dan renovasi Pasar Terban telah dilakukan oleh Satker Pelayanan Provinsi sejak April hingga September 2025, dengan biaya mencapai Rp 55.999.598. Pihaknya memastikan seluruh pembayaran telah selesai, dan pasar siap dioperasikan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pasar Terban diharapkan menjadi percontohan sebagai pasar ayam yang aman, nyaman, bersih, dan halal. Selain itu, pasar ini juga akan mengoptimalkan potensi lokasi karena berada di kawasan bisnis dan pendidikan. Ruang aktivitas pasar perempuan yang sebelumnya satu lantai kini diperluas menjadi tiga lantai,” ujar Ambar, saat memaparkan diacara Wiwitan Pasar Terban, Selasa (30/12/2025).
Ambar menjelaskan, pemindahan pedagang ke gedung baru akan dilakukan mulai 4 Januari 2026 hingga 10 Januari 2026, sehingga pasar dapat beroperasi penuh pada tanggal 10 Januari 2025.
“Kami memilih tanggal 4 Januari agar masa Natal dan Tahun Baru tidak terganggu, mengingat permintaan ayam pada periode tersebut biasanya tinggi,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga telah meningkatkan infrastruktur pasar lama, termasuk transportasi umum, parkir, fasilitas umum, serta sistem kebersihan dan sanitasi.
“Kami memastikan kebersihan fasilitas pasar dan pengawasan lingkungan agar memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjadikan Pasar Terban sebagai pasar modern yang berintegritas, bersih, halal, dan adaptif terhadap perkembangan digital seperti pembayaran QRIS. Menurutnya, ini bisa dilakukan melalui penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang benar, termasuk jaminan kehalalan dan kebersihan dalam aktivitas jual beli, khususnya untuk produk pangan.
“Dengan bangunan baru ini, kompleksitas Pasar Terban harus bertambah. Jenis layanan bertambah, pelaku usaha bertambah, termasuk UMKM yang sebelumnya berjualan di sekitar UGM kini masuk ke pasar. Ini indikator kemajuan,” ujarnya usai acara.
Lanjut Hasto menyoroti keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) yang membuat Pasar Terban unik dibanding pasar lainnya.
“Pasar Terban bukan sekadar transaksi ekonomi. Hal yang sangat spesial di pasar ini adalah ayam dan rumah potong ayamnya. Ini satu-satunya pasar yang telah dilengkapi proses pemotongan hewan,” tuturnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang baik agar Pasar Terban bisa menjadi percontohan pengelolaan pasar berbasis kerakyatan.
“Sehingga kalau ada studi banding bagaimana mengelola sampah di pasar, ya disini bisa menjadi percontohan,” imbuh Hasto.
Kendati demikian, ia optimis pasar ini akan menjadi center of action, center of referral, sekaligus pilot project untuk kompleksitas bisnis berbasis masyarakat. Serta menjadikan sebagai laboratorium ekonomi bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum.
“Pengelolaan pasar secara fisik dan substansi tidak mudah, tetapi dengan fasilitas baru ini, kita bisa memulai cara baru yang lebih positif,” pungkas Hasto.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












