
Sianywati bersama keluarga membuat kue keranjang khas imlek di Kampung Tukangan, Kelurahan Tegal Panggung, Kemantren Danurejan, Yogyakarta (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Menjelang Perayaan Tahun Baru Imlek 2026, aroma manis kue keranjang kembali mengepul dari dapur sederhana di Kampung Tukangan, Kelurahan Tegal Panggung, Kemantren Danurejan, Yogyakarta. Tradisi membuat kue khas Imlek ini tetap hidup dan dijaga secara turun-temurun oleh keluarga Sianywati, generasi kedua pembuat kue keranjang di kampung tersebut.
Perayaan Imlek tahun ini jatuh pada 17 Februari 2026, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, kue keranjang bukan sekadar hidangan, melainkan simbol harapan, doa, dan kebersamaan keluarga. Tekstur lengket dan rasa manisnya dipercaya menyimpan makna mendalam bagi kehidupan dan hubungan antarmanusia.
Sianywati mengatakan, usaha ini telah dirintis sejak sebelum Indonesia merdeka. Ia melanjutkan tradisi yang diwariskan langsung dari sang nenek.
“Ini sudah dari zaman nenek saya, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sekarang saya yang meneruskan. Jadi sudah generasi kedua,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima, pada Rabu 4 Februari 2026.
Sianywati menjelaskan filosofi kue keranjang sangat kuat. Bahan utamanya, ketan, melambangkan perekat hubungan antaranggota keluarga.
“Ketan itu kan lengket, jadi maknanya supaya keluarga tetap lengket, rukun, saling merekat satu sama lain. Terus rasanya manis, harapannya hidup orang-orang yang makan kue ini juga manis. Kariernya manis, rezekinya manis, hubungannya juga manis,” katanya.
Asal-usul nama kue keranjang juga tak kalah menarik. Dahulu, kata dia, kue ini dicetak di atas keranjang yang dialasi daun pisang. Kini, karena sulit mendapatkan daun pisang, kertas kaca menjadi penggantinya.
“Dulu itu dicetaknya di keranjang yang dialasi daun pisang. Makanya disebut kue keranjang. Tapi sekarang susah cari daun pisang, jadi banyak yang pakai kertas kaca sebagai pengganti,” ungkap Sianywati.
Meski zaman telah berubah, proses pembuatan kue keranjang di rumah Sianywati tetap tradisional. Beras ketan dicuci bersih, digiling, dan diayak agar halus. Gula direbus hingga larut, kemudian dicampurkan ke dalam tepung ketan. Adonan dibiarkan sekitar satu hari sebelum dicetak dan dikukus selama sembilan jam menggunakan kompor minyak tanah, yang menurut Sianywati membuat panas lebih merata dan rasa lebih legit.
“Kalau pakai kompor minyak tanah, panasnya lebih merata. Selain itu, ini juga cara kami melestarikan cara lama dari nenek. Rasanya beda, lebih legit,” tuturnya.
Setelah dikukus, kue didinginkan sebelum dikemas. Tanpa pengawet, kue keranjang ini bisa bertahan hingga satu tahun jika disimpan di lemari pendingin. Dalam sehari, Sianywati mampu memproduksi sekitar 200 kilogram kue dengan berbagai ukuran, mulai dari setengah kilogram hingga satu kilogram. Harganya Rp 55 ribu per buah, dengan kemasan paket isi tiga, empat, atau lima buah.
Ia menyebut bahwa sebagian besar pesanan datang dari pelanggan setia yang sudah memesannya jauh-jauh hari. Meskipun permintaan terus meningkat, Sianywati memilih mempertahankan proses tradisional.
“Prosesnya dari dulu sama, tidak ada yang berubah. Inilah kekhasan kue keranjang saya. Kalau diubah, rasanya bukan lagi warisan nenek,” tutur Sianywati.
Selain itu, Sianywati juga rutin membuat bakcang, makanan khas Tionghoa berbahan beras yang dibungkus daun bambu, di luar musim Imlek. Baginya, dapur adalah ruang hidup penuh kenangan dan pelajaran dari nenek.
“Menjelang Imlek 2026, harapan saya cuma sehat. Kalau sehat, bisa terus bikin kue. Bisa nerusin usaha ini sampai kapan pun,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








