
(Foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan ketersediaan stok pangan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dalam kondisi aman dan mencukupi. Meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, terutama cabai dan bawang merah, Pemda menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas wajar dan merupakan siklus tahunan akhir tahun.
Hal itu disampaikan dalam konferensi pers Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY di Ruang Rapat Wisanggeni, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Jumat 12 Desember 2025, usai melakukan pemantauan harga dan pasokan pangan di seluruh kabupaten/kota di DIY.
Asisten Sekretaris Daerah (Setda) DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiyana, menyampaikan apresiasi kepada TPID DIY yang dinilai konsisten menjaga stabilitas pangan daerah.
“Ini bagian dari cara kita berkomunikasi. Kita terbuka kepada masyarakat, menyampaikan mana yang kurang dan cukup, mana yang harganya naik, dan mana yang harus kita waspadai. Semua kita sampaikan bersama,” ujarnya.
Tri Saktiyana menegaskan, selain ketersediaan dan harga yang terkendali, aspek kenyamanan dan rasa aman masyarakat juga menjadi perhatian Pemda DIY menjelang Nataru.
“Dari sisi keamanan dan ketersediaan komoditas relatif terkendali. Menyambut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, aspek kenyamanan masyarakat yang perlu terus kita tingkatkan,” tegasnya.
Senada, Kepala Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY, Eling Priswanto, memastikan seluruh komoditas pangan pokok di DIY masih berada dalam kondisi surplus hingga akhir Desember 2025.
“Dapat disimpulkan bahwa hasil pemantauan menunjukkan kondisi dan distribusi pangan DIY aman. Terkait harga memang ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan, namun masih dalam rentang yang belum terlalu tinggi,” kata Eling.
Menurutnya, berdasarkan pemantauan TPID DIY di sejumlah pasar tradisional dan modern, kenaikan harga paling signifikan terjadi pada komoditas cabai. Di Pasar Piyungan, Kabupaten Bantul, harga cabai rawit merah mencapai sekitar Rp 60.000 per kilogram dan cabai merah keriting Rp 55.000 per kilogram. Sementara bawang merah naik hingga Rp 54.000 per kilogram.
Meski demikian, Eling menegaskan kenaikan harga tersebut tidak disebabkan oleh lonjakan permintaan masyarakat.
“Faktanya, di lapangan justru pasar cenderung sepi. Tidak ada peningkatan signifikan jumlah pembeli. Kenaikan harga ini lebih dipicu faktor eksternal seperti cuaca ekstrem, penurunan produksi, hama, serta bencana di daerah penyangga produksi cabai,” jelasnya.
Lanjut Eling, TPID DIY juga mencatat adanya anomali pasar, di mana harga meningkat meskipun aktivitas jual beli relatif lesu. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut adalah adanya permintaan di luar pasar tradisional, termasuk dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Walaupun di pasar sepi, harga tetap naik. Ini menunjukkan ada permintaan lain di luar pasar masyarakat, salah satunya dari program MBG,” ungkapnya.
Dengan demikian, Eling menilai program MBG memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat, khususnya di sektor produksi.
“MBG terbukti menumbuhkan perekonomian masyarakat. Produksi telur dari peternak di Kulon Progo, misalnya, hampir setiap hari terserap. Artinya, program ini mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama bagi UMKM dan peternak,” terangnya.
Dari sisi ketersediaan beras, Pemimpin Perum Bulog Kantor Wilayah Yogyakarta, Dedi Aprilyadi, memastikan stok beras di DIY berada dalam kondisi sangat aman. Saat ini Bulog DIY mengelola cadangan beras pemerintah sebanyak 40.300 ton yang tersimpan di empat gudang Bulog di Sleman, Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo.
“Dengan kondisi stok yang ada, saya menilai Provinsi DIY dalam keadaan sangat aman,” katanya.
Selain itu, Bulog juga telah menyalurkan bantuan pangan beras kepada 328.700 keluarga penerima manfaat (KPM) di DIY, dengan realisasi penyaluran mencapai 99,22 persen.
“Bulog juga terus menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) melalui 755 outlet di DIY,” jelas Dedi.
Kepala Tim Perumusan Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Arya Jodilistyo, menambahkan bahwa kenaikan harga cabai, bawang merah, dan telur ayam ras pada bulan Desember merupakan pola tahunan.
“Jika melihat data lima tahun terakhir, komoditas tersebut memang rutin menyumbang inflasi pada bulan Desember, baik di DIY maupun secara nasional. Namun saat ini sudah mulai terlihat tren penurunan harga,” ujar Arya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








