
Foto: Sarasehan Festival Hari Jamu Nasional
WARTA-JOGJA.COM, KULON PROGO, DIY – Semarak dan penuh makna. Taman Jamu Naturindo, kawasan Sedayang, Pengasih, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berubah menjadi pusat peraduan kearifan lokal pada Minggu (7/6/2026). Di lokasi ini, Dewan Jamu Indonesia DIY secara resmi menggelar puncak perayaan Hari Jamu Nasional 2026 dalam bentuk Festival Hari Jamu Nasional yang mengusung tema besar “Menjamu Masyarakat dengan Jamu”, dengan semboyan pendukung “Jamu Jogja Istimewa, Jamu Indonesia Mendunia”.
Acara yang digelar mulai pukul 08.00 WIB ini menjadi bukti nyata komitmen untuk mengangkat kembali posisi jamu sebagai warisan leluhur yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga menjadi solusi kesehatan, penggerak ekonomi, dan pelestari lingkungan. Rangkaian kegiatan dirancang lengkap dan menarik, menyasar berbagai kalangan usia mulai dari anak usia dini hingga masyarakat umum se-DIY.
Salah satu daya tarik utama festival tahun ini adalah serangkaian kompetisi kreatif dengan total uang pembinaan mencapai Rp10 Juta. Lomba yang dibuka meliputi kategori mewarnai untuk jenjang PAUD dan TK, lomba menggambar untuk tingkat SD/MI (terbagi kelas 1–3 dan 4–6), serta lomba membatik yang diperuntukkan bagi masyarakat umum berusia minimal 16 tahun. Seluruh karya peserta diarahkan mengangkat tema “Jamu & Kearifan Lokal”. Panitia menyediakan fasilitas lengkap berupa kertas gambar, kain, hingga goodie bag bagi setiap peserta.
Kegiatan ini juga diramaikan dengan kehadiran tokoh penting daerah, di antaranya Bupati Kulon Progo, Dr. H. R Agung Setyawan S.T., M.Sc., MM, dan GKBRAA Paku Alam X, yang turut mendukung terselenggaranya lomba membatik yang diselenggarakan bersama tokoh masyarakat Puro Pakualaman, mengangkat keindahan seni dan budaya bangsa.
Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Prof. Nyoman Kertia, hadir langsung memimpin jalannya kegiatan dan menyampaikan pesan utama dari peringatan tahun ini. Di hadapan peserta dan pengunjung, ia menegaskan inti dari tema yang diusung, mendekatkan jamu kembali ke kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Inti pesan kami sederhana namun mendalam, utamakan jamu. Tujuannya agar kita bisa mengurangi ketergantungan pada obat-obatan kimia. Melalui tema ‘Menjamu Masyarakat dengan Jamu’, kami ingin jamu hadir seperti halnya keramahan tuan rumah yang menyuguhkan yang terbaik bagi tamunya. Jamu harus menjadi sajian utama bagi kesehatan masyarakat,” ujar Prof. Nyoman saat memberikan keterangan kepada awak media.
Lebih jauh, akademisi sekaligus tokoh pengembang jamu ini menyampaikan harapan besar yang disematkan pada festival tahun 2026. Menurutnya, pengembangan jamu tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan semata, tetapi berkaitan erat dengan tiga pilar utama: kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.
“Harapan kami, seiring masyarakat semakin maju, kesehatannya pun semakin terjaga dengan baik. Selain itu, pengembangan jamu juga harus mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat, terutama para petani dan pengrajin. Tak kalah penting, lingkungan pun ikut terjaga karena bahan baku jamu bersumber dari kekayaan alam yang kita rawat bersama,” tambahnya.
Selain lomba, acara juga menghadirkan sesi Sarasehan, wadah edukasi dan interaktif khusus bagi ibu-ibu, pendamping peserta, serta kelompok masyarakat sekitar seperti PKK dan KWT. Materi yang disajikan sangat praktis dan bermanfaat, meliputi edukasi akupresur, khasiat bumbu dapur, hingga demonstrasi langsung cara membuat jamu, yang disampaikan oleh narasumber kompeten.
Bagi masyarakat umum yang berkunjung, panitia juga menyiapkan fasilitas lengkap dan menarik, mulai dari cek kesehatan gratis, kafe kopi terapi, rumah spa, hingga penyajian minuman jamu penyambut tamu (welcome drink). Para pemenang lomba nantinya akan mendapatkan penghargaan berupa piala, sertifikat, dan uang pembinaan, serta piala.
Dalam kesempatan itu, Prof. Nyoman juga menyinggung tantangan terbesar yang masih dihadapi dunia jamu hingga saat ini, yakni persoalan kepercayaan. Ia mengakui bahwa di masa lalu, persepsi kalangan ilmiah terhadap jamu belum sepenuhnya positif, dan hal ini berpengaruh besar terhadap pandangan masyarakat luas.
“Dulu tantangannya berat karena kalangan ilmiah kurang begitu percaya. Padahal, apa yang dikatakan atau dipercaya oleh komunitas ilmiah, biasanya akan langsung diikuti oleh masyarakat awam. Namun sekarang tantangan itu mulai berkurang. Kami tidak memaksakan kehendak, melainkan membuktikan. Kami tunjukkan, kami yakinkan, dan kami buktikan lewat data serta praktik nyata bahwa jamu itu aman dikonsumsi dan memiliki khasiat yang teruji,” tegas Prof. Nyoman Kertia.
Festival Hari Jamu Nasional 2026 di Kulonprogo ini bukan sekadar perayaan, melainkan langkah strategis untuk mengembalikan kejayaan jamu sebagai identitas bangsa. Lewat berbagai kegiatan yang edukatif, kreatif, dan menghibur, Dewan Jamu Indonesia DIY bertekad menjadikan jamu sebagai gaya hidup sehat masyarakat Yogyakarta, sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap lestari, berdaya guna, dan mampu bersaing hingga kancah internasional.
🌐 Penulis : Umar









