
Foto Olivia Rianjani
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Komunitas Trail Runners Yogyakarta (TRY) kembali menggelar ajang lari lintas alam Coast to Coast Night Trail Ultra (CTC) 2026 pada 14 – 15 Februari 2026 di pesisir Pantai Selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyelenggaraan tahun ini menjadi edisi spesial satu dekade (10 tahun) sejak pertama kali digelar.
TRY sendiri telah terdaftar sebagai anggota International Trail Running Association (ITRA) sejak 2016. Kategori 30K, 50K, 80K, dan 100K dalam CTC 2026 juga memberikan ITRA Point dan UTMB Index sebagai kualifikasi ajang lari trail terbesar dunia di Prancis.
Race Director CTC 2026, Roostian Gamananda, menjelaskan bahwa CTC sejak awal dirancang sebagai wadah latihan bersama komunitas trail runner, dengan konsep unik berupa lomba malam hari yang memanfaatkan kekayaan alam DIY, mulai dari pantai hingga perbukitan.
“CTC itu awalnya dibuat untuk latihan bersama. Konsepnya malam hari karena kami ingin memberi pengalaman nyata kepada pelari, khususnya ultra trail di atas 42 kilometer, yang pasti akan bertemu dengan kondisi malam di event-event besar. Experience ini yang ingin kami bawa sebagai bekal mereka ke lomba berikutnya,” ujar Roostian dalam jumpa persnya, pada Minggu 8 Februari 2026.
Berbeda dengan event lari pada umumnya yang digelar pagi hari, CTC secara konsisten memulai lomba pada malam hingga dini hari agar seluruh kategori dapat finis hampir bersamaan di pagi hari.
“Kami sengaja start malam supaya semua kategori bisa ketemu di garis finis, ngobrol bareng, dan merasakan kebersamaan. Ini bagian dari community gathering yang jadi ruh CTC,” kata Roostian.
Ia mengungkapkan event ini akan dikuti pelari dari 23 negara selain Indonesia tentunya, yakni diantaranya Rusia, Australia, China, Jepang, Thailand, Filipina, Vietnam, Belarusia, Kolombia, Kamboja, Kanada, Belanda, Aljazair, Korea Selatan, Kazakhstan, Bulgaria, Jerman, India, Prancis, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, dan Afrika.
“Kali ini mungkin ada negara-negara baru kalau nggak salah. Biasanya kan kalau trail itu kita didominasi Asia Tenggara sama Eropa, jadi ada negara-negara Afrika yang ikut pasti sama USA,” jelas Roostian.
6 Kategori Lomba, Termasuk 100K Relay
Pada CTC 2026 kali ini, panitia menghadirkan 6 kategori lomba, yakni 7K Cross Country, 15K, 30K, 50K, 80K, 100K Full Course, serta tambahan 100K Relay of 4. Jumlah peserta tahun ini melonjak signifikan menjadi 5.888 pelari, dibandingkan sekitar 3.000 peserta pada tahun sebelumnya.
“Tahun lalu kategori terjauh hanya sampai 80K, tahun ini kami kembali membuka 100K. Kategori ini tidak selalu ada setiap tahun karena persiapannya sangat kompleks,” ungkap Roostian.
Selain itu, CTC 2026 juga mengusung konsep inklusivitas dengan melibatkan pelari tuli di kategori 7K. Panitia berkolaborasi dengan Komunitas Bawayang untuk menyediakan interpreter bahasa isyarat.
“Kami tidak ingin ada rantai komunikasi yang terputus antara panitia dan pelari, apalagi menyangkut faktor keselamatan,” ucap Roostian.
Safety Hadirkan Mini ICU
Dalam penyelenggaraan tahun ini, kata Roostian, panitia menerapkan sistem keselamatan berlapis, termasuk dua mini ICU, satu bersifat mobile dan satu statis di Race Village, ambulans di water station, tim medis respons cepat, serta motor medis yang menyisir rute.
“Bagi kami, seluruh rute adalah zona kritis. Bukan berarti berbahaya, tapi artinya peserta harus mendapatkan perhatian penuh di sepanjang lintasan,” kata Roostian.
Panitia juga menyiapkan skema mitigasi cuaca ekstrem dengan opsi penundaan lomba selama 30 hingga 120 menit jika terjadi hujan lebat disertai petir.
“Jadi nanti saat memang hujan deras tidak ada petir it’s okay, bahkan pelari juga butuh hujan karena tubuh butuh itu buat tetap jalan. Cuma saat memang ada petir banyak dan itu berbahaya itu kita sudah menyiapkan skema penundaan race yang dimana itu mulai dari 30K, 60K, 90K, dan 120K. Nanti 120 menit terakhir baru kita akan pastikan kembali seperti apa, apakah kita benar-benar lanjut maksimal atau memang benar-benar kategori ini kita stop,” terang Roostian.
Dukungan Sport Tourism
Anggota DPRD DIY, Mlisman Puja Kesurma, menilai CTC sebagai event strategis untuk memperkuat promosi pariwisata Yogyakarta di tingkat nasional dan internasional.
“Peserta yang datang bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga mancanegara. Ini kesempatan besar menunjukkan keindahan Yogyakarta. Setelah lari, mereka bisa menikmati Malioboro, gudeg, dan destinasi wisata lainnya, jadi nantinya tidak hanya sebagai peserta lari harapannya mereka ke depan bisa jadi wisatawan Jogja,” ujarnya.
Kendati demikian, ke depan ia menekankan kolaborasi dengan pemerintah daerah dapat meningkatkan fasilitas pendukung, khususnya di kawasan Pantai Selatan Bantul.
“Pantai Parangtritis dan sekitarnya luar biasa indah. Tinggal bagaimana kita meningkatkan fasilitasnya agar semakin siap menerima wisatawan,” tandas Puja.
Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), Harfiansa Bimatara, menyampaikan apresiasi atas konsistensi TRY yang mampu mempertahankan CTC hingga satu dekade.
“Tidak mudah mengelola event berbasis komunitas selama 10 tahun. Ini menunjukkan komitmen luar biasa dan sejalan dengan program pengembangan IP Event Kementerian Pariwisata,” katanya.
Menurut Harfiansa, trail running memiliki keunggulan karena menggabungkan olahraga dan keindahan alam.
“Trail run bukan sekadar olahraga, tapi pengalaman menjelajah alam. Biasanya, orang yang sudah bersentuhan langsung dengan alam akan tumbuh rasa cinta dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.
Sebagai informasi, rute lomba akan melintasi sejumlah destinasi wisata unggulan seperti Pantai Parangtritis, Pantai Depok, Pantai Pelangi, Pantai Cemara Sewu, Gumuk Pasir, Goa Jepang, dan Goa Cemara, sekaligus melibatkan UMKM serta komunitas lokal sebagai bagian dari misi sport tourism.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








