WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Festival Upacara Adat Genduri Ageng “Golong Gilik Bumi Handayani Manunggaling Kawula Gusti” digelar khidmat di Pendopo Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196, ditandai arak-arakan gunungan yang digotong beriringan bersama bergodo hingga memadati kawasan pendopo. Rangkaian acara diawali pentas senam Ketek Ogleng yang melibatkan sekitar 300 peserta dari PERWOSI Gunungkidul serta Kapanewon Saptosari, Tanjungsari, dan Rongkop.
Senam Ketek Ogleng tersebut diikuti sekitar 150 peserta dari PERWOSI Gunungkidul, masing-masing 50 peserta dari Kapanewon Saptosari, Tanjungsari, dan Rongkop. Kehadiran ratusan peserta menjadi bagian dari pembukaan kegiatan yang memadukan ekspresi seni, kebugaran, tradisi, dan kebersamaan masyarakat.
Kenduri Ageng tidak sekadar menjadi perhelatan adat, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan untuk merawat warisan budaya, memperkuat gotong royong, serta meneguhkan nilai-nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat Gunungkidul.
Mengusung semangat “Gayeng, Guyub, Waras Ragane, Tentrem Atine”, kegiatan tersebut menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat yang mampu berjalan mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Kenduri Ageng sekaligus apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, para sesepuh, tokoh masyarakat, pelaku budaya, dan seluruh warga yang mendukung kegiatan tersebut.
“Para pinuji syukur kita aturaken dhumateng Gusti Allah SWT, ingkang sampun maringi rahmat, berkah, kesehatan, saha kasempatan dhumateng kita sedaya, saengga saged makempal bebarengan ing adicara Kenduri Agung Kabupaten Gunungkidul menika.”

Menurut Endah, Kenduri Ageng merupakan wujud rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap budaya dan tradisi masyarakat Jawa. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana nguri-uri kabudayan, memperkuat persaudaraan, dan mengukuhkan semangat gotong royong.
“Adicara Kenduri Ageng menika minangka salah satunggaling wujud rasa syukur sekaligus pangurmatan tumrap budaya lan tradhisi masyarakat Jawa. Kegiatan menika ugi dados sarana nguri-uri kabudayan, ngiyataken paseduluran, saha ngukuhaken semangat gotong royong ing tengahing masyarakat.”
Endah menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak semata-mata berkaitan dengan kemajuan fisik dan infrastruktur. Pelestarian budaya, pemeliharaan nilai luhur, serta penguatan jati diri masyarakat juga perlu berjalan beriringan.
Kenduri Ageng, lanjutnya, menyatukan beragam tradisi dan kebudayaan Jawa yang sarat nilai religius. Di dalamnya terdapat filosofi sangkan paraning dumadi, manunggaling kawula Gusti, gotong royong, guyub rukun, serta ngupadi ayuning jagad.
Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di tengah arus modernisasi, masyarakat tidak perlu mempertentangkan tradisi dan kemajuan zaman, melainkan menyelaraskan keduanya dengan tetap berpegang pada nilai luhur.
“Sakmenika kita kedah saged nyelarasaken kemajuan jaman kaliyan nilai-nilai luhur ingkang sampun dados dhasar gesang masyarakat.”
Dalam sambutannya, Endah juga mengutip piwulang yang pernah disampaikan Proklamator Indonesia:
“Janganlah terpisah besar memilih cara modern atau cara Eropa. Janganlah juga terikat oleh masa konservatif atau masa sempit. Tetapi cocokkanlah semua dengan kodratnya.”

Piwulang tersebut menjadi penegasan bahwa kemajuan dan kebudayaan dapat berjalan berdampingan selama masyarakat tetap memiliki pijakan pada kodrat, jati diri, dan nilai luhur bangsa.
Endah menilai setiap tradisi Jawa memiliki suraos, filosofi, dan piwulang yang mendalam. Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk seremonial, tetapi juga harus disertai pemahaman dan pengamalan nilai yang terkandung di dalamnya.
“Kabudayan Jawa ingkang sampun ngrembaka ing tanah Jawi menika prayogi dados tuladha. Saben tradhisi gadhah suraos, filosofi, saha piwulang ingkang jero. Mila, nguri-uri budaya boten namung njagi wujudipun, nanging ugi mangertosi lan ngleksanani nilai-nilai luhur ingkang wonten ing salebeting budaya menika.”
Bupati juga berharap Kenduri Ageng membawa keberkahan bagi masyarakat serta memperkuat persaudaraan dan kerukunan. Ia mendoakan agar Gunungkidul senantiasa menjadi daerah yang subur, berkah, aman, tenteram, dan mampu memberikan penghidupan yang baik bagi masyarakat.
“Mugi bumi Gunungkidul tansah dados papan ingkang subur, berkah, murah rejeki, lan saged maringi panguripan ingkang sae tumrap sedaya masyarakat.”
Sementara itu, Perwakilan Penewu se-Kabupaten Gunungkidul, Sugito, S.H., M.H., menyampaikan harapan agar Kenduri Ageng menjadi sumber semangat, penghidupan, dan penguat kehidupan masyarakat.
“Semoga acara ini dapat menjadi sumber semangat, penghidupan, dan penguat kehidupan bagi masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Semoga segala sesuatu yang telah kita laksanakan bersama ini dapat memberikan manfaat dan keberkahan bagi kita semua.”
Sugito juga berharap masyarakat senantiasa memegang teguh semboyan “Gayeng, Guyub, Waras Ragane, Tentrem Atine” sebagai semangat membangun kegembiraan, kerukunan, kesehatan, dan ketenteraman dalam kehidupan bersama.
Ia berharap masyarakat Gunungkidul diberikan kesehatan, keselamatan, rezeki, ketenteraman, dan kesejahteraan. Kabupaten Gunungkidul juga diharapkan tetap menjadi daerah yang aman, damai, tenteram, dengan masyarakat yang hidup dalam kerukunan dan kebersamaan.
Seluruh harapan tersebut, lanjut Sugito, diserahkan kepada Gusti Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, agar senantiasa memberikan restu, perlindungan, dan keberkahan kepada masyarakat Gunungkidul.
Rangkaian arak-arakan gunungan dan bergodo menjadi salah satu bagian utama Kenduri Ageng. Prosesi tersebut memperlihatkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat sekaligus menghadirkan suasana budaya yang kuat di kawasan Pantai Baron.
Melalui “Golong Gilik Bumi Handayani Manunggaling Kawula Gusti”, Kenduri Ageng menegaskan kembali pentingnya rasa syukur, persatuan, gotong royong, kerukunan, dan pelestarian budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Gunungkidul.
Berpadu dengan rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni budaya, tetapi menjadi ruang refleksi bersama untuk merawat warisan leluhur, memperkuat hubungan sosial, dan menjaga keseimbangan antara perkembangan zaman dengan jati diri masyarakat.
“Mugi Gusti Allah SWT tansah njagi paseduluran, kerukunan, saha pamanunggalaning masyarakat Gunungkidul.”

Redaktur: Mawan


Luar biasa…
Acara baru selesai, berita langsung tayang padahal bikan live..