foto Olivia Rianjani
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menggebrak panggung seni rupa tanah air melalui gelaran tahunan Nandur Srawung 2026. Perhelatan seni rupa kontemporer skala nasional ini resmi dibuka dan dijadwalkan berlangsung selama sepekan penuh, mulai 21 hingga 28 Oktober 2026.
Tahun ini, Nandur Srawung mengusung tema besar “Akademi: Lanskap” dan menampilkan hasil kurasi ketat dari sekitar 100 seniman muda. Mereka berhasil menyisihkan ratusan talenta lain dari berbagai pelosok Indonesia, mulai dari Yogyakarta, Makassar, hingga wilayah Sumatra.
Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Purwiati, menegaskan bahwa perhelatan ini bukan sekadar ajang unjuk karya visual semata. Lebih dari itu, Nandur Srawung 2026 menjadi pemantik awal dari perancangan program jangka panjang tiga tahun yakni 2026 2028 yang digagas TBY bersama tim kurator muda untuk memperkuat ekosistem seni rupa kontemporer.
Ia juga menyampaikan, TBY terus mendorong terbentuknya wadah berkelanjutan bagi manajemen talenta, proses belajar, penulisan, diskusi, pertukaran gagasan, hingga wacana pengembangan program residensi di masa mendatang.
“Mulai tahun 2026 sampai nanti 2028, dengan kurator-kurator muda kita yang sangat berbakat dan luar biasa ini, [kami berkomitmen] untuk bisa selalu mengembangkan seni rupa kontemporer yang ada di Yogyakarta,” ujar Purwiati di TBY, Rabu 21 Oktober 2026.
Sementara itu, Kurator Nandur Srawung 2026, Gintani Swastika, membeberkan tingginya antusiasme para seniman muda tanah air. Dari total 264 pendaftar jalur open call rentang usia 18 – 45 tahun, sebaran partisipasinya terhitung sangat merata. Menurutnya, keterlibatan seniman dari luar Jawa memberikan gambaran nyata mengenai peta praktik seni rupa daerah saat ini.
Salah satu karya yang cukup mencuri perhatian pengunjung adalah besutan Dedi Sufhianto, seniman asal Sumatra yang secara kritis merespons bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah asalnya.
“Karya tersebut menunjukkan bagaimana seniman menerjemahkan persoalan lingkungan menjadi ekspresi artistik,” ungkap Gintani.
Gintani menjelaskan bahwa platform Akademi diproyeksikan berjalan dalam tiga tahap hingga 2028. Diawali dengan pemetaan rekam praktik lewat Akademi: Lanskap (2026), dilanjutkan fase investigasi dan inkubasi Akademi: Lab (2027), serta diakhiri dengan perluasan jejaring regional Asia Tenggara melalui Akademi: Lintasan (2028).
Sisi unik lainnya ditunjukkan oleh seniman Yuda Kusuma Putra melalui karyanya berjudul “Simulasi Kali Oyo” dan “Potret Batu-batu”. Yuda membawa batu asli dari Kali Oyo ke ruang pameran untuk mengajak pengunjung memaknai lanskap dari sudut pandang mikro.
“Karya ini menceritakan tentang pengalaman saya mencari batu di Kali Oyo. Saya berharap pengunjung dapat merasakan pengalaman seperti mencari batu di kali dan melihat serat-seratnya. Batu akik itu sebetulnya seperti micro landscape—kita melihat tekstur dan warna dari bentuk yang paling kecil, bukan dari pemandangan yang luas,” tutur Yuda.
Ada Kelas Penulisan Hingga Apresiasi Maestro
Disamping itu, Nandur Srawung 2026 juga menghadirkan beragam program pendukung. Kurator Febrian A. Hasibuan menjelaskan, salah satu program unggulannya adalah kelas penulisan seni selama sepekan yang dipandu oleh praktisi ternama seperti Bambang Sujono, Asep Topan, Inas Suraya, hingga kolektif Hyphen. Dari 27 pendaftar, 10 peserta terpilih melahirkan karya tulis yang turut dipajang di ruang pameran.
Menurutnya, eangkaian acara ini turut diperkaya dengan diskusi publik Ide-Ide di Balik Pendidikan Seni,Bicara Seniman,Kios Seni, hingga kuliah umum bersama Kusen Alipah Hadi.
“Kami kira dengan banyaknya acara di Jogja, penting juga untuk membayangkan ada penulis yang tumbuh di tengah banyaknya acara itu,” tandas Febrian.
Sebagai penutup perhelatan, pihak penyelenggara menyediakan Audience Recognition Award yang memberi ruang bagi pengunjung untuk memilih karya favorit mereka. Selain itu, pameran tahun ini turut menganugerahkan penghargaan bergengsi Lifetime Achievement Award kepada maestro seni Melati Suryodarmo, yang dijadwalkan bakal menyampaikan pidato kebudayaan pada 25 Oktober 2026 mendatang.

Redaktur: Mawan

