foto Olivia Rianjani
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – BMKG Stasiun Klimatologi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mengalami kemunduran sekitar tiga dasarian atau 30 hari dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020. Wilayah utara Kabupaten Kulon Progo serta Sleman bagian utara dan tengah diproyeksikan menjadi kawasan pertama di DIY yang memasuki musim hujan pada minggu ketiga November 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun, mengatakan pergeseran awal musim hujan tersebut berkaitan dengan fenomena El Nino yang turut memicu terjadinya Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan di hampir seluruh wilayah DIY.
“Mundurnya musim hujan ini merupakan dampak dari El Nino yang juga mengakibatkan terjadi Hari Tanpa Hujan (HTH) berkepanjangan, termasuk di DIY,” ujar Mamenun, Rabu 1 Oktober 2026.
81 Pos Hujan Catat HTH Ekstrem
Berdasarkan hasil pemantauan terhadap 103 pos hujan yang tersebar di wilayah DIY, sebanyak 81 pos mengindikasikan status HTH ekstrem dengan durasi lebih dari 60 hari.
Kondisi kekeringan paling panjang tercatat di wilayah Pajangan, Kabupaten Bantul, dengan durasi mencapai 141 hari tanpa hujan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator kuat panjangnya periode kering sebelum wilayah DIY memasuki musim hujan secara bertahap.
Setelah wilayah utara Kulon Progo serta Sleman bagian utara dan tengah memasuki musim hujan pada minggu ketiga November, wilayah lainnya diperkirakan menyusul secara bertahap sepanjang Desember 2026.
Pada minggu pertama Desember, hujan diprediksi mulai merata di Kulon Progo bagian timur, Kota Yogyakarta, Sleman bagian timur, selatan dan barat, Bantul bagian utara, serta Gunungkidul bagian utara.
Sementara itu, wilayah selatan dan barat Kulon Progo, Bantul, hingga Gunungkidul diperkirakan baru memasuki awal musim hujan pada minggu kedua Desember 2026.
Curah Hujan Mulai Meningkat pada November
BMKG juga memproyeksikan adanya peningkatan curah hujan secara bertahap setelah periode kering pada Oktober.
Pada Oktober, curah hujan bulanan diperkirakan masih berada dalam kategori rendah, yakni 0–50 milimeter per bulan. Kondisi tersebut kemudian meningkat pada November dengan kisaran 51–300 milimeter per bulan.
Memasuki Desember, curah hujan diperkirakan berada pada kategori menengah hingga tinggi dengan kisaran 151–500 milimeter per bulan.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan akan berlangsung secara bertahap, sejalan dengan masuknya musim hujan di sejumlah wilayah DIY.
Puncak Musim Hujan Diprediksi Februari 2027
Untuk periode puncak musim hujan 2026/2027, BMKG Stasiun Klimatologi DIY memperkirakan sebagian besar wilayah akan mengalami puncak pada Februari 2027.
“Mengenai intensitas curah hujan bulanan, BMKG mencatat bulan Oktober masih berada di kategori rendah (0 – 50 mm/bulan). Curah hujan mulai merambat naik pada November (51 – 300 mm/bulan) dan masuk kategori menengah hingga tinggi pada Desember (151 – 500 mm/bulan),” tutur Mamenun.
“Prediksi puncak musim hujan 2026/2027 akan terjadi di bulan Februari, di wilayah Kulon Progo bagian utara dan timur; Sleman; Kota Yogyakarta; Bantul bagian utara; serta Gunungkidul bagian barat,” tutur Mamenun.
Adapun kawasan selatan Kulon Progo, selatan Bantul, dan sebagian besar Gunungkidul diproyeksikan mengalami puncak musim hujan lebih lambat, yakni pada Maret 2027.
Sementara itu, musim hujan diperkirakan berakhir secara bertahap. Periode berakhirnya musim hujan diproyeksikan berlangsung mulai awal hingga akhir April 2027.
“Musim hujan diperkirakan bakal berakhir secara bergelombang mulai awal hingga akhir April 2027,” kata Mamenun.
BMKG Minta Masyarakat Antisipasi Dampak Perubahan Cuaca
Menghadapi pergeseran pola musim tersebut, BMKG Stasiun Klimatologi DIY memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah dan masyarakat.
Di sektor pertanian, petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dengan perkembangan musim serta mempertimbangkan penggunaan varietas tanaman berumur pendek atau genjah. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan periode musim hujan yang relatif lebih singkat.
Masyarakat juga dianjurkan memanfaatkan penampungan air hujan untuk menjaga ketersediaan air bersih. Pada saat yang sama, optimalisasi sistem drainase perlu dilakukan untuk mengurangi potensi genangan ketika curah hujan mulai meningkat.
Kewaspadaan juga diperlukan pada sektor kesehatan. Memasuki masa transisi menuju musim hujan, masyarakat diminta meningkatkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta melakukan larvasi guna mengantisipasi peningkatan risiko penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Bagi sektor kesehatan, lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan larvasi, serta menyiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah,” tandasnya.
Di sisi lain, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan tetap diperlukan selama masa kekeringan masih berlangsung. Pemerintah dan masyarakat juga diminta mempersiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi ketika musim hujan mencapai puncaknya.
Persiapan tersebut mencakup kesiapsiagaan menghadapi banjir dan tanah longsor, termasuk memastikan jalur evakuasi serta langkah penanganan darurat telah tersedia.
Dengan demikian, periode musim hujan DIY 2026/2027 diperkirakan berlangsung secara bertahap dari wilayah utara pada November, kemudian meluas ke wilayah lainnya pada Desember. Puncak musim hujan diproyeksikan terjadi pada Februari hingga Maret 2027, sebelum berakhir secara bergelombang pada April 2027.

Redaktur: Mawan

