foto Olivia Rianjani
WARTA-JOGJA.COM || YOGYAKARTA – Keluhan wisatawan terkait harga makanan dan minuman yang tidak wajar atau biasa disebut nuthuk kembali mencuat di kawasan Malioboro, Yogyakarta dimana seorang wisatawan melalui akun Threads @endahree membagikan pengalamannya saat harus membayar Rp 40 ribu untuk dua gelas es jeruk yang dipesannya, sementara total pesanan siomay dan ketoprak miliknya mencapai Rp 25 ribu.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan pihaknya langsung bergerak cepat dengan menerjunkan Satpol PP untuk menindaklanjuti laporan di lapangan serta mencari pedagang yang bersangkutan.
“Ya saya sudah tugaskan pada Pak Kasatpol PP untuk sweeping ya, pedagang-pedagang yang nakal dan saya minta untuk dicari. Karena 1,5 tahun yang lalu kita kasih ini informasi harga di masing-masing warung itu, dan itu Alhamdulillah sukses, tidak terjadi,” ujar Hasto di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Selasa 27 Oktober 2026.
Hasto menyebutkan, dari hasil penyelidikan sementara, praktik tersebut diduga dilakukan oleh pedagang kaki lima (PKL), bukan dari warung permanen. Langkah pencegahan serupa yang pernah sukses diterapkan sebelumnya akan kembali diberlakukan untuk memberikan kepastian bagi wisatawan.
“Kemudian sekarang setelah 1,5 tahun terulang kembali ada. Nah, saya tengarai ini sudah kemarin saya selidiki bukan yang di warungan tetapi yang cenderung kaki lima. Maka hari ini saya suruh anu Pak Kasatpol PP untuk mencari,” jelasnya.
Namun, Hasto belum bisa berkomentar banyak terkait kewajaran harga Rp 20 ribu per gelas es jeruk karena terlalu banyaknya variasi penyajian minuman di lapangan. Namun, ia memastikan langkah pembinaan dan penataan ulang akan segera dilakukan.
“Karena terlalu banyak variasi minuman ya saya tidak komentar dulu biar dipelajari dulu ya, karena minumannya kan terlalu banyak variasinya ya,” katanya.
Kendati demikian, ke depan, menurut Hasto Pemkot Yogyakarta akan kembali mewajibkan para pedagang untuk memasang daftar harga secara transparan serta menyediakan nomor layanan darurat atau WhatsApp yang bisa dihubungi secara real-time oleh wisatawan jika merasa dirugikan.
“Ya pasang transparan tarif dan nanti akan kita kasih nomor yang bisa dihubungi, nomor pemerintah kota yang bisa dihubungi apabila ada orang merasa dituthuk, hubungi secara real-time biar kita bisa langsung meluncur ke lapangan,” tegas Hasto.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengingatkan para pelaku usaha di kawasan pariwisata agar senantiasa menjaga kenyamanan dan pelayanan kepada para pengunjung. Menurutnya, tindakan segelintir oknum pedagang dapat berdampak buruk dan merusak citra pariwisata Yogyakarta secara keseluruhan.
“Ya saya kira kan gini, ini kan semua kan kesadaran kita ketika kita bicara bagaimana sih kita bisa hidup dengan kita berusaha siapa yang kemudian usaha kita yang kemudian bisa membantu kita? Ya wisatawan,” ungkap Made.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan sektor pariwisata agar wisatawan tidak merasa kapok untuk kembali berkunjung ke Yogyakarta.
“Ketika kita kemudian istilah kata membuat wisatawan itu menjadi gerah atau tidak nyaman ya sudah pendapatan kita..ya oke sekarang didapat sekian ya misalnya. Tapi ke depan orang tidak akan lagi mau berkunjung. Itu yang harus dipahami bagaimana kemudian kita menjaga itu,” ujarnya.
Made mengimbau para pedagang agar menetapkan harga yang wajar dan tidak memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan sesaat. Mengingat satu kejadian negatif di Malioboro kerap berimbas pada generalisasi terhadap seluruh pedagang lainnya.
Oleh karena itu, ia kembali berpesan kepada seluruh pedagang di DIY terutama kawasan Malioboro untuk saling ingatkan sesama pedagang agar tidak nuthuk, karena itu dapat mengganggu keberlangsungan usaha.
“Semua itu sudah ada standarnya, mari ikut saja lah untuk itu. Rezeki itu kan sudah diatur dari Yang Maha Kuasa. Jadi bagaimana sih kita meladeni mereka, melayani mereka menikmati mereka, ya yang wajar-wajar sajalah gitu ya berapa yang mereka tawarkan jangan sampai kemudian ini karena begini satu hal saja yang terjadi di Malioboro itu akan dibicara ini generalisasi ini akan berlaku semua gitu padahal ini oknum misalnya seperti itu,” pungkas Made.

Redaktur: Mawan

