foto Olivia Rianjani
WARTA-JOGJA.COM || YOGYAKARTA – Demensia atau dikenal dengan proses penuaan normal yang membuat perubahan daya ingat dan perilaku pada lansia sering diabaikan sebagai pikun biasa. Padahal, anggapan keliru ini membuat gejala awal terlambat dikenali, sementara keluarga kerap belum siap menghadapi perawatan jangka panjang yang semakin kompleks.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada sekitar 55,2 juta penderita demensia di seluruh dunia pada 2019, dan angka ini diproyeksikan melonjak hingga 139 juta pada 2050. Wilayah Asia Selatan dan Tenggara, termasuk Indonesia, menjadi kawasan dengan jumlah penderita tertinggi, yakni sekitar 20,1 juta jiwa. Sementara itu, Organisasi Alzheimer Indonesia memperkirakan jumlah penderita sindrom demensia di Tanah Air mencapai 1,2 juta orang pada 2016 dan berpotensi meroket menjadi 4 juta orang pada 2050.
Menanggapi hal ini, Dosen Keperawatan Jiwa dan Komunitas FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Mulyani, mengatakan bahwa keluarga memegang peran kunci sebagai garda terdepan dalam mengenali perubahan perilaku orang dengan demensia (ODD).
“Biasanya orang terdekatlah yang pertama kali notice. Tahu ini kok jadi aneh, kok perilakunya begini. Yang paling mengganggu biasanya adalah perubahan perilakunya, bukan hanya lupa-lupanya,” ujarnya, pada Senin 26 Oktober 2026.
Menurutnya, beberapa bentuk kelupaan memang masih wajar seiring bertambahnya usia. Namun, perubahan perilaku yang tidak biasa perlu segera diperiksakan agar penanganan dan rencana perawatan dapat disusun sedini mungkin.
Sri menjelaskan bahwa penanganan demensia melibatkan kerja sama antara caregiver informal seperti keluarga dan tetangga serta caregiver formal atau profesional seperti perawat, dokter, dan ahli gizi. Tujuannya agar ODD tetap dapat mempertahankan kemandirian dan kualitas hidupnya.
“Jadi, bukan berarti setelah terdiagnosis itu end of the world. Setelah diagnosis, keluarga tetap harus mendukung melibatkan orang dengan demensia atau yang biasa disebut ODD, untuk tetap aktif. Kita juga tetap melibatkan dalam kegiatan-kegiatan keluarga, membantunya melakukan hobinya,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya perencanaan jangka panjang. Mengingat demensia merupakan penyakit progresif, keluarga perlu mengantisipasi kebutuhan bantuan harian hingga pengawasan penuh selama 24 jam ke depan, termasuk membagi tanggung jawab perawatan dan aspek pembiayaan.
“Di sisi lain, perawat juga dapat membantu memodifikasi lingkungan rumah agar lebih aman bagi ODD, seperti memberikan penanda di pintu toilet atau mengamankan benda-benda berbahaya,” imbuh Sri.
Di tengah ancaman lonjakan kasus, tantangan terbesar di Indonesia saat ini adalah rendahnya kesadaran (awareness) masyarakat serta belum tersedianya data nasional yang komprehensif terkait demensia. Meskipun Indonesia telah memiliki National Dementia Plan sejak 2016, implementasinya dinilai masih memerlukan penguatan, terutama dalam hal edukasi publik dan integrasi layanan keperawatan komunitas.
Kendati demikian, kasus demensia sebenarnya dapat ditekan. Berdasarkan rujukan riset ilmiah, sekitar 40 persen kasus demensia dapat dicegah jika langkah mitigasi dilakukan sejak usia dini (early life). Faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, serta pola konsumsi makanan cepat saji dan minuman tinggi gula sejak masa kanak-kanak perlu dikendalikan demi menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.
“Jadi, apa yang bagus untuk jantung juga bagus untuk perlindungan otak. Tapi sekali lagi, ppencegahan faktor risiko, deteksi dini, dan dukungan keluarga harus berjalan beriringan,” pungkas Sri.

Redaktur: Mawan

