WARTA-JOGJA.COM || YOGYAKARTA – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,4 mengguncang wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 21.43.13 WIB. Berdasarkan informasi yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di laut pada koordinat 9,2 Lintang Selatan dan 110,39 Bujur Timur, dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami dan mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Berdasarkan data BMKG, pusat gempa berada sekitar 132 kilometer barat daya Kabupaten Gunungkidul, DIY. Kedalaman hiposentrum yang mencapai 10 kilometer mengategorikan peristiwa tersebut sebagai gempa dangkal.
Kedalaman dan lokasi pusat gempa menjadi faktor yang memengaruhi bagaimana getaran dirasakan masyarakat di wilayah sekitarnya. Namun, tingkat dampak gempa di suatu daerah juga dipengaruhi oleh kondisi tanah, jarak dari episentrum, serta karakteristik bangunan.
BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meski demikian, masyarakat di wilayah DIY dan sekitarnya diimbau tetap tenang serta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi BMKG.
Dalam keterangannya, BMKG mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan.
“Hati-hati terhadap gempabumi susulan yang mungkin terjadi,” imbau BMKG.
Rincian Data Gempa Magnitudo 5,4 di DIY
Berikut rincian informasi gempa bumi berdasarkan data yang dicantumkan dalam laporan BMKG:
– Waktu kejadian: Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 21.43.13 WIB.
– Magnitudo: 5,4.
– Kedalaman: 10 kilometer.
– Koordinat episentrum: 9,2 LS dan 110,39 BT.
– Lokasi pusat gempa: Sekitar 132 kilometer barat daya Gunungkidul, DIY.
– Potensi tsunami: Tidak berpotensi tsunami.
Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Untuk memperoleh perkembangan terbaru mengenai aktivitas gempa bumi, warga dapat memantau kanal resmi BMKG dan menghindari penyebaran kabar yang tidak memiliki sumber jelas.
Walaupun gempa tersebut dinyatakan tidak berpotensi tsunami, masyarakat tetap perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya guncangan susulan.
Warga disarankan memeriksa kondisi rumah dan bangunan setelah gempa. Apabila ditemukan retakan yang mencurigakan, kerusakan pada struktur bangunan, atau bagian bangunan yang berpotensi runtuh, penghuni sebaiknya menjauh dari area berbahaya dan meminta pemeriksaan lebih lanjut sebelum kembali beraktivitas di dalamnya.
Masyarakat juga perlu menghindari tebing yang rawan longsor, bangunan tua yang mengalami kerusakan, serta lokasi lain yang berpotensi membahayakan apabila terjadi guncangan kembali.
Jika gempa susulan terjadi, segera lindungi kepala dan leher, berlindung di bawah meja yang kokoh jika memungkinkan, serta menjauhi kaca dan benda-benda yang berisiko jatuh. Setelah guncangan berhenti, keluar menuju tempat terbuka dengan tetap memperhatikan kondisi sekitar.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan menjadikan informasi resmi sebagai acuan dalam mengambil langkah antisipasi.(*)


