WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Kesenian Reog Tunas Mudho Budoyo menjadi salah satu daya tarik utama dalam perhelatan Bersih Dusun Jetis, Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, Selasa (29/9/2026). Pertunjukan tersebut semakin istimewa karena para pelaku kesenian reog merupakan anak-anak sekolah dasar yang tampil memainkan sejumlah peran, mulai dari prajurit pembawa tombak, pemimpin perang, hingga pemain kuda kepang.
Penampilan anak-anak tersebut mampu menyedot perhatian warga yang memadati halaman Balai Dusun Jetis. Mereka memperlihatkan kemampuan memainkan karakter dan menyelaraskan gerakan tubuh dengan irama pertunjukan secara kompak dan menarik. Kehadiran Reog Tunas Mudho Budoyo sekaligus memperlihatkan upaya masyarakat Jetis dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional melalui keterlibatan generasi muda.
Lurah Ngipak, Bambang Setiawan, menyampaikan bahwa Bersih Dusun merupakan tradisi masyarakat yang menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan karunia-Nya kepada masyarakat selama satu tahun penuh.
Bagi masyarakat Gunungkidul, tradisi Bersih Dusun atau Rasulan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan budaya. Masyarakat menjalankannya sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus momentum untuk memanjatkan doa demi keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Dalam sambutannya pada Selasa (29/9/2026), Bambang Setiawan menjelaskan bahwa tradisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga mengandung nilai doa dan harapan masyarakat terhadap kehidupan di masa mendatang.
Tradisi tersebut juga menjadi ungkapan permohonan doa sesuai adat Jawa yang dituangkan dalam bentuk ikrar. Ikrar itu dibacakan oleh Dukuh Jetis, Prayoga, sebagai bagian dari rangkaian upacara adat.
Melalui ikrar tersebut, masyarakat memohon agar selalu mendapatkan keselamatan serta kecukupan kebutuhan hidup. Harapan itu tergambar dalam konsep gemah ripah loh jinawi, yakni kehidupan masyarakat yang tenteram, damai, sejahtera, dan berkecukupan.
Doa masyarakat juga mencakup harapan agar para petani memperoleh hasil panen yang melimpah dari apa yang mereka tanam. Para pedagang diharapkan mendapatkan penghasilan yang semakin baik sehingga mampu mengembangkan usahanya.
Sementara itu, para pegawai dan karyawan diharapkan dapat bekerja dengan amanah, memperoleh keamanan dalam menjalankan pekerjaan, serta memiliki kesempatan untuk meningkatkan jenjang karier.
Rangkaian Bersih Dusun Jetis berlangsung meriah dengan antusiasme masyarakat yang cukup tinggi. Warga berbondong-bondong mendatangi halaman Balai Dusun Jetis untuk mengikuti seluruh rangkaian upacara adat.
Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, pertunjukan Reog Tunas Mudho Budoyo menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian.
Kesenian tersebut memiliki karakter tersendiri karena para pelakunya merupakan anak-anak sekolah dasar. Mereka tidak sekadar hadir sebagai pelengkap pertunjukan, tetapi memainkan berbagai karakter dalam kesenian reog dengan kemampuan yang telah mereka latih.
Sejumlah anak tampil sebagai prajurit pembawa tombak, pemimpin perang, serta pemain kuda kepang. Para pemain juga mampu menyelaraskan gerakan tubuh dengan irama pertunjukan sehingga menciptakan penampilan yang dinamis dan menarik perhatian penonton.
Keterlibatan anak-anak dalam kesenian tersebut menjadi bagian penting dalam proses regenerasi pelaku seni tradisional. Melalui keterlibatan sejak usia sekolah, nilai-nilai budaya dan keterampilan kesenian dapat diperkenalkan serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bambang Setiawan menegaskan bahwa Pedukuhan Jetis merupakan satu-satunya pedukuhan yang menjadi perintis berdirinya kesenian reog di Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo.
Keberadaan Reog Tunas Mudho Budoyo dengan pemain anak-anak sekolah dasar juga menjadi salah satu ciri khas yang membuat kesenian tersebut memiliki daya tarik tersendiri dalam kegiatan budaya masyarakat Jetis.
Bersih Dusun Jetis tahun ini berlangsung secara sederhana, tetapi seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Masyarakat bersama panitia mempersiapkan berbagai kebutuhan acara, mulai dari pemasangan tenda, sistem suara, hingga perlengkapan pendukung lainnya.
Setelah persiapan selesai, kegiatan memasuki acara pokok berupa kenduri warga. Kenduri menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang mempertemukan warga dalam suasana kebersamaan sekaligus menjadi bagian dari rangkaian ungkapan syukur dan doa bersama.
Setelah rangkaian kegiatan adat, masyarakat kemudian menikmati pertunjukan seni Reog Tunas Mudho Budoyo. Pertunjukan tersebut menjadi hiburan sekaligus ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam melestarikan kesenian tradisional.
Seluruh rangkaian Bersih Dusun Jetis berjalan aman dan terkendali berkat kerja sama antara warga Pedukuhan Jetis dan seluruh panitia. Panitia yang diketuai Sumaryono dan Agus Supriyanto bersama masyarakat bekerja sama menyiapkan serta menjalankan seluruh kebutuhan kegiatan. Gotong royong tersebut terlihat sejak tahap persiapan hingga seluruh rangkaian acara selesai.
Setelah pertunjukan Reog Tunas Mudho Budoyo, kegiatan berlanjut pada malam hari dengan pertunjukan elekton atau organ tunggal. Hiburan tersebut menjadi penutup rangkaian kegiatan sekaligus memberikan kesempatan kepada warga untuk berkumpul dan menikmati suasana kebersamaan.
Bersih Dusun Jetis tidak hanya menjadi kegiatan tahunan yang menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Tradisi tersebut juga menjadi ruang untuk mempertahankan nilai kebersamaan, rasa syukur, doa, serta keberlanjutan budaya lokal.
Kehadiran Reog Tunas Mudho Budoyo yang dimainkan anak-anak sekolah dasar memberikan dimensi penting dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Regenerasi pelaku seni menjadi bagian dari keberlanjutan kesenian tradisional agar tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi muda.
Melalui keterlibatan anak-anak dalam pertunjukan, masyarakat Jetis menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan bentuk kesenian, tetapi juga dengan menyiapkan generasi yang mampu meneruskan keterampilan tersebut.
Bersih Dusun Jetis akhirnya menjadi pertemuan antara tradisi, doa, gotong royong, dan seni pertunjukan. Di tengah kesederhanaan pelaksanaannya, kegiatan tersebut tetap mampu menghadirkan suasana meriah sekaligus memperkuat hubungan sosial masyarakat.
Pertunjukan Reog Tunas Mudho Budoyo yang dimainkan anak-anak sekolah dasar menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana tradisi lokal dapat terus hidup melalui keterlibatan generasi muda. Sementara itu, rangkaian kenduri, ikrar, pertunjukan seni, hingga hiburan malam hari memperlihatkan bahwa Bersih Dusun tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Pedukuhan Jetis, Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul.

Redaktur: Mawan

