
JAKARTA, WARTA-JOGJA.COM – Lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah dan pemblokiran Selat Hormuz mendorong PT Pertamina Patra Niaga memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax hingga Pertamina Dex, berpotensi naik ke kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter. Pernyataan ini disampaikan Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, dalam acara Media Gathering di Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).
Kenaikan harga minyak mentah yang kini menembus angka di atas US$100 per barel menjadi pemicu utama. Harga minyak Brent naik US$1,05 atau 1 persen menjadi US$108,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 95 sen atau 1 persen ke posisi US$103,45 per barel. Secara kumulatif mingguan, kedua patokan itu melonjak mendekati 13 persen — laju kenaikan tertinggi sejak 17 Juli lalu.
“Belum ada indikasi penurunan harga minyak dunia, sehingga harga Pertamax, Pertamina Dex, dan jenis BBM nonsubsidi lainnya akan berkisar antara Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter,” ungkap Eko.
Ia menegaskan bahwa dampak konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya gangguan di Selat Hormuz, dirasakan jauh lebih masif terhadap sektor energi global dibandingkan konflik Rusia–Ukraina sebelumnya. Ketidakstabilan pasokan akibat ketegangan militer memicu efek domino yang mengerek harga minyak terus bergerak naik.
“Perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz, dampaknya dirasakan secara global – tidak hanya pada ketersediaan energi dunia, tetapi juga pada harga yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda stabil,” jelas Eko.
Pihaknya berharap harga minyak mentah dapat kembali turun ke kisaran US$60 hingga US$70 per barel, sebagaimana kondisi sebelum terjadinya krisis geopolitik terkini. “Kami berharap harga dapat kembali ke level tersebut sesegera mungkin, karena jika tidak, dampak yang dirasakan akan terus berlanjut,” tambahnya.
Kondisi ini terjadi setelah pada Kamis (10/9/2026) harga minyak sempat melonjak lebih dari 6 persen dalam satu hari. Minyak mentah dunia kini berada di atas ambang US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam kurun waktu hampir empat bulan, menandakan tekanan pasokan yang belum mereda.
(Vicky Saputra)









