
Ratusan massa dari elemen masyarakat sipil, aktivis buruh, dan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi bertajuk "Agustus Gelap" di kawasan Boulevard dan Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, pada Jumat (28/08/2026) sore, (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM || SLEMAN, DIY – Ratusan massa dari elemen masyarakat sipil, aktivis buruh, dan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi bertajuk “Agustus Gelap” di kawasan Boulevard dan Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, pada Jumat (28/08/2026) sore. Aksi refleksi dan peringatan tersebut digelar menyoroti berbagai persoalan sosial-politik yang dinilai belum terselesaikan sejak tahun lalu, meliputi alokasi anggaran publik, perampasan hak rakyat, koptasi gerakan buruh, hingga perlindungan pekerja migran Indonesia. Kegiatan berlangsung kondusif hingga pukul 19.00 WIB dan ditutup dengan tabur bunga serta penyalakan lilin dan obor sebagai simbol duka atas ketidakberpihakan pemerintah.
Koordinator Humas Jogja Memanggil, Bung Kus, menjelaskan pemilihan tajuk “Agustus Gelap” sebagai gambaran bahwa kemerdekaan yang diperingati belum menghadirkan pemenuhan hak-hak rakyat secara nyata. Ia menyoroti alokasi anggaran negara yang dinilai justru memangkas pos pendidikan dan kesehatan, sementara dialihkan ke program yang manfaatnya belum jelas serta diperbesar untuk sektor pertahanan dan keamanan.
“Persoalan-persoalan anggaran publik misalnya, yang seharusnya digunakan negara sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, justru diprioritaskan untuk program yang kita tidak tahu manfaat besarnya seperti MBG (Makan Bergizi Gratis) dan Kopdes. Anggaran militer dan polisi diperbesar, tapi subsidi pendidikan dan kesehatan justru dipotong,” ujar Bung Kus.

“Maka hari ini kami menyebutnya Agustus Gelap karena sampai hari ini peringatan kemerdekaan Indonesia tidak kemudian menghadirkan pemenuhan hak-hak rakyat, tapi justru meneruskan pola-pola yang lama seperti militeristik, otoriter, menggunakan anggaran dengan semau-maunya,” tandasnya.
Sementara itu, aktivis buruh Sugiarto menegaskan perlunya konsolidasi kaum muda untuk terus menguatkan gerakan rakyat melawan sistem yang dinilai pro-kapitalisme dan korup. Ia juga menyayangkan adanya upaya pemecahan kesatuan gerakan buruh melalui praktik koptasi pimpinan serikat.
“Sejarah perjuangan buruh adalah sejarah merebut, bukan mengkompromikan! Tidak ada perjuangan buruh dengan jalan kompromi atau persekongkolan dengan pemerintahan yang korup. Kami berharap kawan-kawan muda mendatangi rakyat, cerdaskan, dan bangun kesadaran mereka untuk melawan penindasan,” tegas Sugiarto.
Perwakilan Beranda Migran, Kim, turut mendesak DPR segera merampungkan revisi Undang-Undang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UU PPMI) yang telah tertunda lebih dari setahun, guna mengakomodasi pola baru migrasi mandiri. Massa juga menuntut pemberantasan jaringan perdagangan orang di kawasan Kamboja–Myanmar serta repatriasi korban yang berangkat akibat kemiskinan struktural.
“Agustus Gelap ini untuk mengenang kembali dan merawat ingatan bahwa perjuangan kita satu tahun lalu belum membuahkan hasil dan situasi semakin memburuk. Kita tidak boleh melupakan kawan-kawan yang meninggal atau sedang dipenjara,” pungkas Kim.
Aksi berlangsung tertib hingga berakhir dengan tabur bunga mawar serta penyalakan lilin dan obor, menjadi simbol duka sekaligus tekad memperjuangkan keadilan sosial dan pemenuhan hak-hak rakyat.

Redaktur: Mawan








