
GUNUNGKIDUL, DIY || WARTA-JOGJA.COM – Kapanewon Purwosari berhasil menyabet predikat Juara Umum Festival Kethoprak Tingkat Kabupaten Gunungkidul Tahun 2026, dalam malam puncak penyerahan anugerah yang digelar di Auditorium Taman Budaya Gunungkidul (TBG), Selasa (14/7/2026). Kemenangan ini menutup rangkaian kompetisi seni tradisional yang berlangsung meriah sejak 6 Juli lalu, dengan partisipasi penuh dari 18 kontingen yang mewakili seluruh wilayah kapanewon di Kabupaten Gunungkidul.
Acara penutupan yang sarat nuansa budaya ini dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala Organisasi Perangkat Daerah, para pelaku seni, budayawan, hingga masyarakat luas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian warisan budaya Jawa.
Penyelenggaraan festival ini didasari oleh komitmen pelestarian identitas budaya, dengan landasan hukum yang kuat: Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Peraturan Daerah DIY terkait Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan, serta Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kebudayaan.
Mengusung tema besar “Mataram Pasca Perjanjian Giyanti”, seluruh peserta menyajikan lakon sejarah yang mengangkat dinamika perjalanan Kerajaan Mataram, mulai dari masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I hingga Sri Sultan Hamengkubuwono II. Tak ketinggalan, kisah legendaris Babat Alas Pring turut ditampilkan sebagai refleksi nilai-nilai sejarah, kepemimpinan, serta kearifan lokal masyarakat Jawa.
Penilaian terhadap kualitas pertunjukan dilakukan secara objektif dan profesional oleh tim dewan juri yang berkompeten di bidangnya, yaitu Anom Sutrisno, S.Sn., M.Sn. (Dosen Seni Karawitan FSP ISI Yogyakarta), Oki Suryaniwati, S.Sn. (Praktisi Seni Ketoprak), Dr. Indra Tranggono (Budayawan dan Sastrawan), serta Alvian Anggorukti, S.Pd., M.Pd. (Dosen UNY dan Praktisi Penulisan Naskah).
Selain gelar juara umum, panitia juga merilis peringkat sepuluh besar peserta terbaik secara berurutan: Rongkop di posisi kedua, disusul Panggang, Tanjungsari, Karangmojo, Wonosari, Semanu, Playen, Nglipar, dan Semin.
Berbagai penghargaan kategori khusus pun turut dibagikan untuk mengapresiasi keunggulan di setiap aspek pertunjukan:
– Penulis Naskah Terbaik: Kapanewon Purwosari
– Pemeran Utama Putri Terbaik: Kapanewon Purwosari
– Pemeran Utama Putra Terbaik: Kapanewon Playen
– Pemeran Pembantu Putra Terbaik: Kapanewon Rongkop
– Pemeran Pembantu Putri Terbaik: Kapanewon Karangmojo
– Penata Busana Terbaik: Kapanewon Karangmojo
– Penata Iringan/Gending Terbaik: Kapanewon Semanu
Dalam sambutannya, Bupati Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan bahwa festival ini merupakan bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional sebagai identitas budaya masyarakat Gunungkidul.
“Kami menyelenggarakan ajang ini untuk menjaga keberlanjutan nilai-nilai tradisi dan mempertahankan jati diri seni budaya Jawa di Bumi Handayani. Kami sangat bangga melihat semangat dan kreativitas luar biasa yang ditunjukkan oleh seluruh peserta,” ujar Bupati Endah.
Lebih lanjut ia menjelaskan, kethoprak bukan sekadar sarana hiburan semata, melainkan media pendidikan karakter yang sarat dengan nilai moral dan budi pekerti luhur bagi generasi penerus.
“Kethoprak adalah tontonan sekaligus tuntunan. Di dalamnya terkandung pesan kehidupan yang berharga bagi masyarakat. Seperti amanat Bung Karno dalam Trisakti, kita harus berkepribadian dalam kebudayaan. Seni budaya harus tetap menjadi jati diri bangsa di tengah arus modernisasi yang kian deras,” tegasnya.
Penyelenggaraan Festival Kethoprak Gunungkidul 2026 diharapkan dapat menjadi ruang pembinaan sekaligus akselerasi regenerasi pelaku seni tradisional. Melalui ajang ini, kethoprak dipastikan akan terus lestari, berkembang, dan mampu menarik minat generasi muda sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi bagi masa depan.









