
Mendikdasmen Abdul Mu’ti (tengah) foto Olivia Rianjani
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam dunia pendidikan tidak akan menggantikan peran manusia.
Menurutnya, manusia tetap menjadi aktor utama dalam proses pembelajaran, sementara AI hanyalah alat pendukung.
“AI memang semakin populer, tapi manusia tetap menjadi ‘raja’ pendidikan. AI hanyalah alat yang membantu, bukan pengganti guru atau tenaga pendidik lainnya,” ujar Abdul Mu’ti saat memberikan sambutan di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu 24 Januari 2026.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI membawa dampak positif sekaligus tantangan. Berdasarkan kajian akademik dan laporan internasional, seperti dari Organisation for Economic Co – operation and Development (OECD), AI berpotensi menggantikan sejumlah pekerjaan. Namun, di sisi lain, AI justru dapat memperkuat kapasitas manusia yang mampu menguasainya.
“Yang terdampak adalah yang tidak menguasai. Namun, yang menguasai, mereka menjadi sangat dikdaya. AI bisa memproses informasi luar biasa cepat, tapi tetap kontrolnya ada pada manusia,” katanya.
Abdul Mu’ti menekankan bahwa penguasaan teknologi harus dibarengi dengan pendidikan karakter dan etika. Menurutnya, AI memang mampu memberikan rekomendasi, analisis data, dan nasihat, tetapi tidak memiliki kedalaman berpikir kritis serta moralitas seperti manusia. Ia mencontohkan penggunaan ChatGPT dalam dunia pendidikan.
“ChatGPT bisa menyusun pidato dengan cepat dan rapi, namun tidak mengetahui konteks sosial, data spesifik, atau nuansa budaya yang hanya bisa dipahami oleh manusia,” terangnya.
Pada kesempatan itu juga, Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa pemerintah telah memasukkan AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah, mulai dari kelas V Sekolah Dasar (SD).
“Kami mulai dengan pilihan, karena guru harus dilatih terlebih dahulu. Setelah mereka siap, baru mata pelajaran ini bisa menjadi wajib,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan pendidikan yang saat ini dikembangkan adalah pembelajaran mendalam atau deep learning. Pendekatan ini memadukan aspek psikologi, neuroscience, dan teknologi, serta tidak hanya berfokus pada kemampuan kognitif.
“Deep learning dalam pendidikan tidak hanya menekankan kognisi, tetapi juga nilai, karakter, dan kemampuan metakognitif siswa,” imbuhnya.
Selain itu, Abdul Mu’ti juga menyoroti pentingnya kompetensi digital (digital competence) dan kesantunan digital (digital civility) dalam menghadapi era AI. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar bijak menggunakan teknologi, tidak menyebarkan informasi yang tidak akurat, serta tetap menjaga etika dalam ruang digital.
“AI dapat mengatasi kesenjangan pendidikan, misalnya dalam pendidikan jarak jauh di daerah terpencil. Namun, etika, budaya, dan karakter tetap harus melekat dalam setiap pembelajaran,” tuturnya.
Kendati demikian, sebagai landasan pendidikan di era AI, Abdul Mu’ti memaparkan prinsip 3A, yakni Alam, Akal, dan Akses. Alam sebagai modal sumber daya, Akal sebagai kemampuan berpikir dan memahami, serta Akses untuk membuka peluang belajar yang lebih luas.
“Kalau ketiga hal ini sinergi, insyaAllah AI akan berkontribusi penting untuk mewujudkan pendidikan bermutu di Indonesia,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












