Jajaran rektorat UPN Jogja (foto Olivia)
WARTA-JOGJA.COM YOGYAKARTA – Pembangunan Jalan Tol Jogja-Solo Seksi 2 yang akan melintasi kawasan Maguwoharjo hingga Trihanggo bakal memangkas sebagian lahan milik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta.
Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta, Mohamad Irhas Effendi, mengatakan bahwa total luas lahan kampus yang terdampak tol mencapai sekitar 3.016 meter persegi setelah adanya penambahan pelebaran di sisi barat.
“Awalnya terkena 3.000 meter persegi. Namun, setelah ada penambahan sekitar 16 meter di bagian barat, totalnya menjadi sekitar 3.016 meter persegi. Bangunan yang terkena di antaranya Markas Menwa dan Pos Satpam,” ujar Irhas saat ditemui usai acara Media Gathering di Kabupaten Sleman, Kamis 22 Oktober 2026.
Irhas mengungkapkan, dampak proyek jalan tol ini juga mengubah tata letak akses masuk utama kampus. Pintu gerbang masuk nantinya akan dipindahkan ke seberang Pos Satpam, sedangkan pintu keluar dialihkan ke gerbang bagian utara.
Selain itu, UPN “Veteran” Yogyakarta juga telah memindahkan Patung Perjuangan yang sebelumnya berdiri di area depan ke dalam lingkungan kampus. Irhas menyebut, pemindahan patung ikonik yang sempat viral di media sosial TikTok tersebut didasari oleh dua pertimbangan mendasar, yakni teknis dan filosofis.
“Kenapa patung dipindah? Pertama, memang terkena lokasi pembangunan jalan tol. Kedua, ada pertimbangan filosofis. Arah pandang patung yang lama itu menyebar. Saya merasa itu filosofinya kurang tepat, seperti bersama tapi menuju arah yang berbeda-beda. Maka patung dipindahkan ke dalam dengan konsep one vision (satu pandangan). Sekarang dirancang agar seluruh figur patung menuju ke satu titik pandang. Harapannya, seluruh stakeholder dan mahasiswa UPN memiliki satu visi yang sama,” jelas Irhas.
Terkait progres koordinasi dengan pengelola jalan tol, Irhas mengaku telah bertemu langsung dengan jajaran direksi PT Jasa Marga maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk menyelesaikan proses clearance.
“Saya sebenarnya target di bulan ini sih sebenarnya, tapi bulan ini saya sudah tinggal dua hari (jadi rektor), jadi ya harus mudah-mudahan bisa. Nah nanti kapan pun saya berdiri dimana pun, kalau saya diminta bantuan, saya akan siap. Tapi kalau tidak, ya Pak Rektor baru dan rektorat,” kata Irhas.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan UPN “Veteran” Yogyakarta, Sutarto, menegaskan bahwa hingga saat ini pihak kampus belum menyepakati deal akhir maupun nilai nominal ganti rugi terkait lahan dan bangunan yang terdampak.
“Kemarin memang sudah ada presentasi sekali ke UPN, tapi belum resmi soal detailnya dan berapa nilai ganti ruginya (UGR). Belum ada,” ujar Sutarto.
Menurutnya, selain Markas Menwa dan Pos Satpam, beberapa fasilitas lain juga ikut terdampak, termasuk ATM Center dan bangunan di area Fakultas Pertanian pojok timur kampus. Patung Perjuangan yang sebelumnya berdiri bahkan berada tepat di batas jalur lambat jalan umum, sehingga memangkas batas lahan kampus hingga mendekati area lapangan.
Pihak kampus menyebut pihak pengelola jalan tol akan melakukan negosiasi di tahap akhir setelah pembebasan lahan di area sekitar timur UPN rampung, rektorat akan lakukan desain pintu masuk otomatis (smart gate) yang tengah direncanakan, pihak UPN pun siap berkompromi demi proyek strategis nasional tersebut.
“Realisasinya mungkin awal atau pertengahan 2027. Karena ini untuk kepentingan umum, ya kita harus mengalah dan menyesuaikan. Walaupun jujur saya belum bisa membayangkan nanti estetika kampus seperti apa kalau dipotong dan ada jalan tol melayang (elevated) di atasnya,” tandas Sutarto.
Hingga saat ini, pihak kampus mengaku belum menerima kepastian resmi terkait skema Ganti Kerugian (UGR) maupun detail teknis dari pihak pengelola jalan tol, PT Jasa Marga.

Redaktur: Mawan

