
Situasi acara tradisi Nyadran sambut bulan suci Ramadhan 2026, berlangsung di halaman Musala Qamarul Mustar, Dusun Jetis Kembangsari RT 04, Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, pada Minggu 15/02/2026 (foto Susanto/Sanhar)
WARTA-JOGJA.COM, BANTUL, DIY – Suasana religius dan penuh kebersamaan menyelimuti halaman Musala Qamarul Mustar, Dusun Jetis Kembangsari RT 04, Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, pada Minggu (15/02/2026). Ratusan warga tumpah ruah mengikuti tradisi tahunan Nyadran dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 2026.
Sejak siang hari, warga dari berbagai kalangan—anak-anak, remaja, orang tua hingga lansia – berkumpul dengan membawa hidangan dari rumah masing-masing. Nuansa guyub rukun begitu terasa, memperlihatkan kuatnya ikatan sosial masyarakat Jetis yang tetap terjaga di tengah perubahan zaman.
Rois setempat, Muhlasin, dalam sambutannya menegaskan bahwa Nyadran bukan sekadar agenda rutin, melainkan warisan budaya dan spiritual yang sarat makna. Selain mendoakan para leluhur yang telah mendahului, tradisi ini juga menjadi momentum muhasabah diri sebelum memasuki Ramadan.
“Nyadran adalah cara kita menjaga hubungan dengan para leluhur melalui doa, sekaligus mempererat silaturahmi. Ini bagian dari persiapan batin menyongsong bulan puasa,” ujarnya di hadapan jamaah.
Puncak kebersamaan tampak dalam prosesi Dhahar Kembul Bujana. Warga duduk lesehan dalam satu hamparan, menikmati sajian secara bersama tanpa sekat. Tradisi makan bersama ini menjadi simbol persamaan derajat, gotong royong, dan kuatnya rasa kekeluargaan di lingkungan RT 04 Jetis.
Kepala Dusun Kembangsari, Ahmad Mujab Isnadi, turut memberikan apresiasi atas konsistensi warga dalam menjaga tradisi. Menurutnya, Nyadran merupakan cerminan harmonisasi nilai-nilai keislaman dengan budaya lokal yang tumbuh dan hidup di masyarakat.
“Ini adalah kekuatan kultural yang patut dibanggakan. Warga Jetis membuktikan bahwa tradisi bisa berjalan selaras dengan nilai agama, bahkan menjadi penguat kerukunan,” tegasnya.
Acara ditutup dengan doa bersama yang berlangsung khidmat. Nyadran Jetis tahun ini kembali menegaskan bahwa di tengah arus modernisasi, semangat gotong royong, spiritualitas, dan pelestarian budaya tetap menjadi fondasi kokoh kehidupan masyarakat.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








