GUNUNGKIDUL, DIY, WARTA-JOGJA.COM – Warga Padukuhan Trowono A, Trowono B, Namberan, dan Mbanjaran Kulon, Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, menggelar gotong royong membersihkan Telaga Mboromo pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan yang dipusatkan di wilayah Padukuhan Trowono A tersebut dirangkaikan dengan kenduri dan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur, sekaligus upaya melestarikan sumber air, mempererat kerukunan, dan menjaga tradisi leluhur.
Kegiatan ini diikuti warga dari empat padukuhan dengan penuh semangat kebersamaan. Hadir di antaranya Suryono selaku Dukuh Trowono A, Supoyo selaku Dukuh Trowono B, dan Sumarwanto selaku Dukuh Namberan. Doa dalam prosesi kenduri dipimpin oleh Roes Trowono dan Ahad Kasanun.
Dukuh Trowono A, Suryono, menjelaskan bahwa kegiatan bersih telaga dan kenduri tidak sekadar menjadi aktivitas membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana untuk memanjatkan doa dan mengungkapkan rasa syukur atas karunia kehidupan, air, rezeki, keselamatan, serta keberlangsungan kehidupan masyarakat.
“Kenduri bersih telaga menjadi penghubung antara generasi terdahulu, generasi sekarang, dan generasi yang akan datang. Melalui tradisi ini, nilai gotong royong, tata krama, doa, dan kepedulian terhadap alam dapat diwariskan kepada anak cucu,” ungkap Suryono.
Menurutnya, pelestarian tradisi tersebut penting agar nilai-nilai luhur masyarakat tetap hidup di tengah perubahan zaman. Kenduri juga menjadi ruang untuk mempertemukan warga dalam suasana guyub rukun, tanpa membedakan status sosial, pekerjaan, maupun perbedaan pendapat.
“Kerukunan adalah modal utama membangun masyarakat. Telaga yang bersih mencerminkan kepedulian terhadap alam. Kenduri yang khidmat mencerminkan rasa syukur. Warga yang rukun mencerminkan kekuatan masyarakat. Tradisi yang diwariskan mencerminkan penghormatan terhadap masa lalu sekaligus tanggung jawab kepada masa depan,” tegas Suryono.
Di balik kegiatan bersih telaga tersebut, Telaga Mboromo menyimpan kenangan tersendiri bagi masyarakat setempat, terutama warga yang telah mengenal kawasan itu sejak puluhan tahun lalu.
Salah seorang warga yang akrab disapa Sakum mengungkapkan bahwa Telaga Mboromo dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Sejak kecil, ia kerap bermain di telaga tersebut, yang pada masa itu juga dimanfaatkan warga untuk mencuci dan mandi sebelum layanan air dari PDAM masuk ke wilayah setempat.
“Sejak kecil saya sering bermain di Telaga Mboromo ini. Dulu, telaga ini belum pernah kering dan menjadi tempat warga mencuci dan mandi sebelum PDAM masuk ke daerah ini. Kemudian terjadi peristiwa terbukanya luweng yang menyebabkan air telaga terserap ke dasar, sehingga saat musim kemarau telaga ini sering mengering,” cerita Sakum dengan haru.
Pengalaman tersebut menggambarkan perubahan kondisi Telaga Mboromo dari masa ke masa. Bagi warga, telaga ini bukan sekadar bentang alam, melainkan juga bagian dari sejarah kehidupan, ruang interaksi sosial, dan kenangan yang diwariskan antargenerasi.
Setelah prosesi kenduri dan doa bersama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi warga untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat hubungan sosial di antara empat padukuhan.
Kegiatan bersih Telaga Mboromo menunjukkan bahwa gotong royong dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan. Partisipasi warga dari Trowono A, Trowono B, Namberan, dan Mbanjaran Kulon menjadi wujud kepedulian bersama terhadap lingkungan sekaligus komitmen menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Upaya menjaga telaga juga memiliki makna lebih luas, yakni merawat sumber daya alam yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat serta mempertahankan nilai kebersamaan di tengah perubahan zaman.
Melalui kegiatan tersebut, warga berharap semangat gotong royong, rasa syukur, kerukunan, dan kepedulian terhadap lingkungan terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, Telaga Mboromo tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga tetap menjadi bagian penting dari kehidupan dan identitas masyarakat Karangasem.

Redaktur: Mawan

