Sebanyak 47 lanjut usia (lansia) di Padukuhan Murangan 7, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan keagamaan selama dua tahun di Pesantren Lansia Taman Surga (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, SLEMAN, DIY – Sebanyak 47 lanjut usia (lansia) di Padukuhan Murangan 7, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan keagamaan selama dua tahun di Pesantren Lansia Taman Surga. Prosesi wisuda berlangsung khidmat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Minggu (19/10/2026), sebagai penanda keberhasilan para peserta dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an serta memperbaiki bacaan dan gerakan salat.
Program pendidikan yang berlangsung sejak Oktober 2024 hingga Oktober 2026 tersebut menjadi wujud pendampingan keagamaan bagi masyarakat lanjut usia. Melalui pembelajaran rutin yang dilaksanakan setiap Senin dan Kamis, para peserta mendapatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan agama Islam dalam suasana yang santai, tetapi tetap terarah dan serius.
Penanggung jawab Pesantren Lansia Taman Surga, Muhammad Muslim, mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan 47 santri lansia yang telah menuntaskan proses pembelajaran. Menurutnya, pencapaian tersebut tidak hanya terlihat dari kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga dari peningkatan kualitas ibadah para peserta.
“Alhamdulillah, setelah kurang lebih 2 tahun, kita sudah meluluskan 47 orang dengan pendidikan yang santai tapi serius. Setiap Senin dan Kamis dari asar sampai magrib, lalu ditutup dengan buka puasa sunah bersama,” ujar Muslim saat ditemui usai acara.
Ia menjelaskan, kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada sore hari, mulai waktu Asar hingga menjelang Magrib. Selain mendapatkan materi keagamaan, para santri juga menjalani aktivitas bersama yang memperkuat kebersamaan dan membangun lingkungan belajar yang nyaman bagi peserta lanjut usia.
Salah satu capaian yang membanggakan dari program tersebut adalah meningkatnya kemampuan para santri dalam membaca dan menuntaskan bacaan Al-Qur’an. Bahkan, sejumlah peserta dilaporkan berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an hingga puluhan kali selama mengikuti program pembelajaran.
Muslim menyebut keberhasilan tersebut sebagai hasil dari ketekunan para santri dalam mengikuti proses belajar secara konsisten. Di samping kemampuan membaca Al-Qur’an, pembimbing juga memberikan perhatian terhadap ketepatan bacaan dan gerakan salat agar para peserta dapat menjalankan ibadah dengan lebih baik.
“Capaian luar biasa menurut kami, mereka sudah bisa mengkhatam Al-Qur’an, bahkan beberapa orang 24 kali khatam. Untuk salatnya, ustaz-ustaz kami sudah memastikan bacaan dan gerakannya cukup baik,” katanya.
Pencapaian itu menunjukkan bahwa proses belajar agama tetap dapat dijalani pada usia lanjut. Dengan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta, para lansia memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kemampuan dasar keagamaan sekaligus membangun kebiasaan beribadah secara lebih teratur.
Menurut Muslim, kegiatan tersebut juga membawa dampak positif terhadap kondisi fisik dan ketenangan jiwa para peserta. Interaksi sosial selama pembelajaran, kebersamaan dalam menjalankan kegiatan keagamaan, serta rutinitas membaca Al-Qur’an menjadi bagian dari pengalaman yang dirasakan para santri selama mengikuti program.
Pesantren Lansia Taman Surga secara khusus menyasar kelompok lanjut usia karena memandang masa tua sebagai periode penting untuk memperkuat keimanan dan mempersiapkan kehidupan akhirat.
Muslim menilai, kesempatan belajar agama tidak semestinya dibatasi oleh usia. Sebaliknya, masa lanjut usia dapat dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman keagamaan, memperbaiki kualitas ibadah, dan membangun kesiapan spiritual.
“Kami merasa bahwa lansia itu adalah usia emas dan ibaratnya surga sudah di depan mata. Maka kami fokus pada lansia supaya mereka berakhir khusnul khotimah,” jelas Muslim.
Orientasi tersebut menjadi landasan penyelenggaraan program pendidikan di Pesantren Lansia Taman Surga. Para peserta tidak hanya diarahkan agar mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga didampingi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mempercepat kemampuan membaca Al-Qur’an, Pesantren Lansia Taman Surga menerapkan metode As-Sahl, yakni metode praktis yang dirancang langsung oleh Muhammad Muslim. Melalui pendekatan tersebut, peserta diarahkan untuk mengenal huruf hijaiyah, memahami rangkaian huruf, kemudian berlatih membaca Al-Qur’an secara bertahap.
Muslim menyampaikan bahwa rata-rata santri sudah mulai mampu membaca Al-Qur’an dalam waktu sekitar tiga bulan. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pembelajaran dengan metode yang tepat dapat membantu lansia mempelajari kembali kemampuan dasar membaca Al-Qur’an, termasuk bagi mereka yang memulai dari tahap awal.
Keberhasilan program ini juga menarik perhatian masyarakat dari sejumlah daerah di luar Kabupaten Sleman. Muslim menyebut adanya minat dari pihak-pihak di Solo, Balikpapan, hingga Jakarta untuk mengadopsi kurikulum serupa.
Ketertarikan tersebut menunjukkan adanya peluang pengembangan pendidikan keagamaan bagi lansia di berbagai wilayah. Model pembelajaran yang terstruktur, pendampingan secara rutin, serta metode yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta dapat menjadi referensi bagi penyelenggara kegiatan serupa.
Pengalaman mengikuti pendidikan di Pesantren Lansia Taman Surga dirasakan langsung oleh Baryadi (67), salah seorang santri yang diwisuda. Ia mengaku memulai pembelajaran dari nol karena pada masa mudanya lebih banyak mencurahkan waktu untuk bekerja dan membesarkan anak.
Setelah mengikuti pembelajaran secara bertahap, Baryadi mulai mengenal huruf hijaiyah, mempelajari rangkaian huruf, hingga akhirnya mampu membaca Al-Qur’an dengan lebih lancar. Baginya, kelulusan tersebut menjadi pengalaman membahagiakan sekaligus pencapaian pribadi yang patut disyukuri.
“Alhamdulillah, setelah wisuda ini rasanya sangat gembira dan puas. Dari nol, lama-lama akhirnya bisa mengikuti dan membaca Al-Qur’an. Mengenal huruf hijaiyah satu bulan, rangkaian dua bulan, tiga bulan bisa terbata-bata sampai lancar,” ungkap Baryadi.
Pengalaman tersebut menggambarkan bahwa proses belajar pada usia lanjut tetap dapat memberikan hasil yang berarti ketika dilakukan dengan ketekunan dan pendampingan yang sesuai. Keberhasilan Baryadi juga memperlihatkan pentingnya menyediakan ruang belajar yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk meningkatkan kemampuan keagamaan tanpa memandang usia.
Pengalaman serupa disampaikan Mulati Prawarningsih (59), santri lainnya yang turut diwisuda. Ia mengaku bersyukur karena pembelajaran di Pesantren Lansia Taman Surga mendorongnya membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin.
Mulati mengatakan, membaca Al-Qur’an kini menjadi bagian dari aktivitas hariannya, terutama setelah salat Subuh dan sebelum tidur. Kebiasaan tersebut menjadi bentuk upaya untuk mengawali dan mengakhiri hari dengan kegiatan yang bernilai ibadah.
“Alhamdulillah, sekarang setiap habis salat subuh dan mau tidur kita berusaha untuk selalu mengawali dan menutup hari dengan membaca Al-Qur’an. Terima kasih kepada kru Ustaz Muslim yang telah memprakarsai ini semua,” tutur Mulati.
Pengalaman Mulati memperlihatkan bahwa keberhasilan pendidikan keagamaan tidak hanya diukur dari kemampuan yang diperoleh selama mengikuti pembelajaran. Lebih dari itu, perubahan kebiasaan sehari-hari dan tumbuhnya kesadaran untuk menjalankan ibadah secara konsisten menjadi bagian penting dari hasil pendidikan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Sleman turut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Pesantren Lansia Taman Surga. Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Sleman, Wildan Solichin, menyampaikan penghargaan kepada Muhammad Muslim beserta jajaran pengurus yang telah mendampingi warga Padukuhan Murangan 7 dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an dan memperbaiki pelaksanaan salat.
Wildan menjelaskan bahwa para peserta wisuda merupakan jamaah di sekitar Masjid Al-Hidayah, Padukuhan Murangan 7. Di antara 47 wisudawan tersebut, peserta tertua berusia 82 tahun.
“Kami sangat berterima kasih kepada Ustaz Muslim dan jajaran pengurus yang sudah mendampingi warga Murangan 7. Mereka yang semula tidak bisa membaca Al-Qur’an dan salatnya belum sempurna, dibimbing hingga menjadi lancar. Ini hal yang luar biasa,” tandas Wildan.
Apresiasi tersebut menegaskan pentingnya peran masyarakat dan pengelola lembaga keagamaan dalam memberikan pendampingan kepada kelompok lanjut usia. Melalui kegiatan pendidikan yang berkelanjutan, para lansia memperoleh kesempatan untuk memperdalam ilmu agama, meningkatkan kualitas ibadah, serta membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Wisuda 47 santri Pesantren Lansia Taman Surga menjadi penanda keberhasilan proses pembelajaran selama dua tahun sekaligus bukti bahwa semangat menuntut ilmu tidak dibatasi oleh usia. Dengan pendampingan yang konsisten dan metode yang sesuai, para lansia tetap memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, memperbaiki ibadah, dan memperkuat kesiapan spiritual pada masa lanjut usia.

Redaktur: Mawan

