
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Fauzan, (foto Olivia Rianjani)
YOGYAKARTA, WARTA-JOGJA.COM – Peran AI (Artificial Intelligence) atau yang disebut dengan kecerdasan buatan di era digitalisasi dinilai semakin cangggih untuk mempermudah banyak profesi pekerjaan. Termasuk kemampuan AI dalam menganalisis data dan mendeteksi pola sehingga dapat memudahkan auditor dalam memproses laporan keuangan.
Pasalnya, seiring meningkatnya kompleksitas sistem keuangan dan bisnis, penggunaan teknologi AI menjadi semakin penting untuk memastikan keakuratan dan integritas pelaporan keuangan sistem bisnis. Sehingga hal ini juga berdampak ke segala bidang termasuk akuntansi audit.
Proses audit mencakup beberapa langkah, seperti analisis data, perencanaan, pengumpulan bukti, dan pembuatan laporan audit yang mencakup rekomendasi dan temuan.
Melihat hal itu, sebanyak 21 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) berkumpul di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), pada Kamis 8 Mei 2025, untuk membahas pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) tersebut.
Ketua FKKA PTNBH, Prof Iwan Triyuwono mengungkapkan pertemuan tersebut, di mana teknologi AI kedepannya bisa dipakai untuk melakukan audit. Audit menurutnya ssbagai alat.
“Saya pikir pertemuan ini sangat bagus sekali gitu ya karena zaman kita adalah jaman AI (Artificial intelligence) ini bagaimana AI ini bisa kita pakai untuk melakukan audit,” katanya usai pertemuan.
Iwan menambahkan, selama ini para pengguna menginginkan dalam beberapa waktu ke depan, seharusnya pihaknya sebagai inovator dari alat-alat tersebut.
“Kita selama ini sebagai pengguna maunya dalam waktu dekat atau beberapa waktu yang akan datang itu, semestinya kita ini sebagai inovator dari alat alat yang semacam itu dan harapannya kita lebih canggih. Itu yang utama,” tuturnya.
Meski begitu, ujar Iwan, secanggih-canggih teknologi harus dibarengi moralitas. Sehingga aplikasi dari teknologi tetap berpijak pada moralitas.
“Jadi moralitas dengan teknologi itu tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain, moralitas itu menjadi basis dasar akar dari tumbuhnya ilmu dan teknologi. Sehingga aplikasi dari teknologi itu tetap berpijak pada moralitas. Saya pikir itu yang sangat penting kami sampaikan,” imbuh Iwan.
Dalam pertemuan tersebut turut hadir Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Fauzan, yang menekankan bahwa audit di Perguruan Tinggi tidak hanya sekedar persoalan administrasi, namun merupakan tanggung jawab integritas moral. Mengingat Perguruan Tinggi adalah bagian dari pendidikan yang memiliki tanggung jawab untuk mengawal etika moral.
“Jangan sampai audit yang berlaku di perguruan tinggi ini dimaknai secara administratif. Tetapi ini adalah merupakan bagian dari nafas, dan cara bertanggung jawab kepada publik. Dan itu tidak mengenal momen pada saat kapan saja publik bertanya, maka perguruan tinggi akan bisa menjawab. Di sinilah pentingnya kolaborasi dengan stakeholder yang terkait dalam rangka meneguhkan tegaknya etika moral, termasuk juga etika moral beraudit,” ujar Wamen Fauzan.
Terkair data pemanfaatan AI tersebut, Fauzan menyebut bahwa FKKA PTN-BH yang menjalankan dengan prinsip menjaga integritas moral dalam menggunakan teknologi AI ini bukan hanya sekedar dilihat sebagai teknologi.
“Tentu kalau ini yang digagas oleh kawan – kawan forum ya. Yang penting prinsip utamanya adalah penggunaan teknologi AI ini bukan hanya sekedar dilihat sebagai teknologi, tetapi merupakan integritas moral. AI itu sangat tergantung pada orang. Semuanya itu akan bisa digunakan secara baik dan berkontribusi terhadap peradaban ya tergantung pada integritas moral penggunanya,” terangnya.
Apakah penggunaan AI untuk audit ini akan mendisrupsi profesi auditor, ujar Fauzan, hal itu tak berdampak.
“Oh tidak (berdampak), ya tentu saja menyesuaikan. Seandainya toh distrupsi itu juga tidak banyak, tetapi pada wilayah – wilayah moral ini, ini yang terpenting. Oleh karena itu, meskipun ini audit di lingkungan pendidikan tinggi, hendaknya juga menjadi contoh bagi model audit yang lain. Manusia akademis tentu harus menjunjung tinggi itu,” pungkasnya.

Redaktur Mawan







