WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Komunitas Cinta Damai Gunungkidul mematangkan persiapan bakti sosial (baksos) berupa penyaluran bantuan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan di sejumlah titik wilayah Kapanewon Tanjungsari pada 25 Oktober 2026 mendatang. Program ini menjadi wujud kepedulian sosial komunitas dalam membantu meringankan beban masyarakat sekaligus memperkuat solidaritas, kebersamaan, dan semangat kekeluargaan antaranggota. Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam pertemuan rutin atau kopi darat (kopdar) yang digelar di kediaman Rosita, wilayah Jetis, Semanu, Gunungkidul, pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Pertemuan yang dilaksanakan secara berkala setiap dua bulan sekali tersebut menjadi forum koordinasi untuk mengevaluasi kegiatan sosial, menyusun agenda berikutnya, serta memperkuat komunikasi dan partisipasi anggota. Selain menetapkan rencana penyaluran bantuan sembako, pertemuan juga membahas keberlangsungan organisasi dan upaya menjaga keseimbangan antara kegiatan sosial dengan kesejahteraan anggota.
Ketua Komunitas Cinta Damai, Uty, menyampaikan rasa syukur atas perkembangan komunitas yang ditandai dengan bertambahnya anggota baru. Menurutnya, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa semangat kepedulian sosial, persaudaraan, dan kebersamaan yang dijalankan komunitas mendapat respons positif dari masyarakat.
Uty menjelaskan, keberadaan Komunitas Cinta Damai tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan bakti sosial, tetapi juga pada pembentukan hubungan kekeluargaan yang kuat di antara para anggotanya. Solidaritas dan kesetiakawanan menjadi bagian penting dalam menjalankan berbagai kegiatan sosial di tengah masyarakat Gunungkidul.
“Berjalannya visi misi sosial dengan baik di tengah masyarakat Gunungkidul, bukan hanya dari segi kegiatan baksosnya saja, akan tetapi kebersamaan dan jiwa kesetiakawanannya yang tinggi antaranggota, sehingga Komunitas Cinta Damai sesuai dengan namanya yang memiliki arti mencintai perdamaian dalam menjalankan kinerjanya peduli terhadap masyarakat adalah salah satu alasan anggota baru kita untuk ikut serta bergabung membesarkan Komunitas Cinta Damai,” ungkap Uty.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kekuatan komunitas tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga oleh komitmen anggotanya dalam menjaga persatuan, membangun kepercayaan, dan menjalankan misi kemanusiaan secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Mika menyampaikan pentingnya peran pekerja sosial dalam membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan ekonomi maupun persoalan sosial lainnya. Menurutnya, masih banyak warga di lingkungan sekitar yang membutuhkan uluran tangan dan dukungan dari sesama untuk mengurangi beban kehidupan mereka.
Meski demikian, Mika mengingatkan bahwa pelaksanaan kegiatan sosial harus tetap mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki komunitas. Kepedulian perlu diwujudkan melalui perencanaan yang realistis agar bantuan dapat disalurkan secara tepat dan kegiatan bisa terus berlangsung tanpa membebani anggota.
“Pertemuan rutinitas ini tetap kita jalankan sesuai jadwal yang ada, melainkan kegiatan bakti sosial akan kita adakan kapanpun selama anggaran yang kita miliki bisa untuk mencukupi kebutuhan yang diperlukan, mengingat bahwa saat ini kemampuan finansial kita masih bergantung pada iuran anggota,” tegas Mika.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan kegiatan sosial sangat berkaitan dengan ketersediaan anggaran. Oleh karena itu, komunitas perlu mengelola dana secara bijaksana, menyesuaikan program dengan kemampuan keuangan, serta menentukan prioritas bantuan berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, kegiatan bakti sosial diharapkan tidak hanya menjadi agenda sesaat, melainkan dapat dilaksanakan secara konsisten sesuai kapasitas organisasi.
Pandangan Mika tersebut mendapat dukungan dari Imo. Ia menekankan pentingnya kehadiran anggota dalam setiap pertemuan rutin sebagai bentuk tanggung jawab bersama terhadap keberlangsungan komunitas.
Menurut Imo, kopdar tidak hanya berfungsi sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperlancar komunikasi, menyampaikan gagasan, dan membangun kesepahaman mengenai program-program yang akan dilaksanakan.
Kehadiran anggota juga dinilai berpengaruh terhadap kelancaran penghimpunan iuran kas yang selama ini menjadi salah satu sumber pembiayaan kegiatan komunitas. Dengan komunikasi langsung dan partisipasi aktif, berbagai persoalan organisasi dapat dibahas secara terbuka dalam suasana kekeluargaan.
Imo berharap seluruh anggota dapat terus menjaga komitmen untuk menghadiri pertemuan sesuai jadwal. Dengan demikian, koordinasi organisasi dapat berjalan lebih efektif dan setiap keputusan yang diambil dapat menjadi tanggung jawab bersama.
Semangat kebersamaan tersebut menjadi modal penting bagi Komunitas Cinta Damai dalam mengembangkan program sosial sekaligus mempertahankan hubungan yang harmonis di antara para anggotanya.
Pada penghujung pertemuan, Jainudin menyampaikan bahwa Komunitas Cinta Damai Gunungkidul merupakan wadah bagi masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan sekitar. Selain menjunjung tinggi persaudaraan, komunitas juga terus berupaya memperbaiki berbagai kekurangan dalam pengelolaan organisasi.
Pembenahan tersebut mencakup administrasi keorganisasian, pengembangan gagasan, serta penyusunan program yang dinilai mampu mendukung kemajuan komunitas. Penguatan tata kelola diperlukan agar pelaksanaan visi dan misi sosial dapat berlangsung secara terarah, tertib, dan berkelanjutan.
Jainudin juga menyoroti pentingnya memperhatikan kondisi finansial masing-masing anggota. Menurutnya, kegiatan sosial yang dijalankan komunitas perlu disertai upaya untuk menjaga kesejahteraan anggota agar semangat membantu masyarakat tidak mengabaikan kemampuan ekonomi mereka sendiri.
Komunitas Cinta Damai, lanjutnya, akan berupaya menghadirkan terobosan baru yang dapat mendukung kesejahteraan anggota. Harapannya, kegiatan sosial dan kepentingan internal komunitas dapat berjalan beriringan dalam suasana saling mendukung.
Pernyataan Jainudin tersebut menjadi pengingat bahwa organisasi sosial membutuhkan keseimbangan antara kepedulian terhadap masyarakat, tata kelola yang baik, dan perhatian terhadap kondisi para anggotanya.
Rencana penyaluran sembako di Tanjungsari pada 25 Oktober 2026 menjadi salah satu langkah nyata Komunitas Cinta Damai Gunungkidul dalam melanjutkan kegiatan kemanusiaan. Program ini diharapkan dapat membantu warga yang membutuhkan sekaligus memperkuat budaya gotong royong di lingkungan masyarakat.
Ke depan, keberlangsungan program akan bergantung pada partisipasi anggota, pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab, serta kemampuan komunitas dalam menentukan prioritas kegiatan. Melalui koordinasi rutin, komunikasi terbuka, dan semangat kekeluargaan, Komunitas Cinta Damai berupaya menjaga agar kegiatan sosial tetap berjalan sesuai kemampuan yang tersedia.
Dengan mengedepankan kepedulian, solidaritas, dan kesejahteraan anggota, Komunitas Cinta Damai Gunungkidul diharapkan terus berkembang sebagai wadah kebersamaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Redaktur: Mawan

