
GUNUNGKIDUL, DIY, WARTA-JOGJA.COM – Pemerintah Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, menyelenggarakan Pelatihan Kalurahan Tanggap Bencana (KALTANA) yang berlangsung selama 17 hari, terbagi dalam dua gelombang kegiatan. Pelatihan tahap pertama telah dilaksanakan pada 1, 3, dan 4 September 2026, sedangkan tahap kedua berlangsung pada 14–18 September 2026 di Balai Kalurahan Wunung. Sebanyak 50 peserta yang mewakili lima padukuhan di Kalurahan Wunung serta tiga kalurahan tetangga – Mulo, Duwet, dan Wareng – mengikuti kegiatan ini secara langsung didampingi mentor dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Firza Ghozali, Analis Kebencanaan Ahli Madya BNPB Jakarta, serta Anang Irawanto, Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi (PKRR) BPBD Kabupaten Gunungkidul.
Pembekalan Komprehensif pada Tahap Pertama
Pada gelombang pertama yang berlangsung selama tiga hari, para peserta menerima pembekalan mendalam mencakup empat materi pokok: Pemetaan Risiko Bencana, Teknis Tanggap Darurat, Penanganan Trauma Healing, serta Dukungan Psikososial. Setiap peserta membawa profil lengkap padukuhan masing-masing, yang meliputi data jumlah penduduk, kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, lansia, dan penyandang disabilitas, hingga pemetaan titik-titik rawan bencana. Seluruh data tersebut kemudian dirangkum dan disusun menjadi Peta Kerawanan Bencana tingkat kalurahan sebagai dasar perencanaan penanggulangan bencana.
Terbentuknya FPRB dan Tim Penanggulangan Bencana Kalurahan
Melalui musyawarah yang dilakukan pada tahap pertama, para peserta secara sepakat membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan Tim Penanggulangan Bencana (Tim PB) Kalurahan Wunung. Struktur kepengurusan kedua lembaga tersebut akan segera ditetapkan melalui Keputusan Lurah Wunung.
Lurah Wunung, Sudarto, menyampaikan harapannya agar kelembagaan yang baru terbentuk ini dapat berperan aktif dan rutin melaksanakan simulasi kesiapsiagaan bencana.
“Kami berharap setelah pelatihan ini KALTANA bisa aktif, rutin melakukan simulasi, dan menjadi mitra pemerintah kalurahan. Anggaran operasional juga akan kami upayakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Kalurahan (APBKal) tahun depan,” ujar Sudarto, Senin (14/9/2026).
Menggali Potensi & Risiko di Setiap Padukuhan
Pada gelombang kedua pelatihan, peserta terbagi dalam diskusi kelompok yang mendalam untuk mengidentifikasi kekayaan alam, potensi kerawanan, serta risiko bencana yang spesifik di setiap wilayah padukuhan. Proses ini menghasilkan kesepakatan bersama mengenai langkah mitigasi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Pembahasan juga menyentuh analisis perhitungan kerugian akibat bencana – aspek yang selama ini belum teruraikan secara menyeluruh, khususnya terkait bencana kekeringan yang kerap melanda wilayah Gunungkidul.
Membangun Kader yang Memahami Siklus Penanggulangan Bencana
Sudarto menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan memastikan setiap padukuhan memiliki kader yang memahami secara utuh siklus penanggulangan bencana, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, hingga tahap evakuasi dan pemulihan. Hal ini mengingat posisi Kalurahan Wunung yang berada di wilayah rawan bencana, sebagaimana wilayah Gunungkidul pada umumnya, yang rentan terhadap kekeringan, tanah longsor, serta gempa bumi.
“Gunungkidul merupakan wilayah rawan bencana kekeringan, tanah longsor, dan gempa bumi, tak terkecuali daerah kami Kalurahan Wunung yang akan mendapat dampak ketika hal itu terjadi. Melalui KALTANA ini, kita ingin setiap padukuhan memiliki kader yang paham mitigasi, evakuasi, dan mampu menjadi garda terdepan saat bencana,” tegas Sudarto.

Redaktur: Mawan







