
YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Jum’at (5/09/2025) – Ribuan lilin menyala di halaman kampus Universitas AMIKOM Yogyakarta, Kamis 4 September 2025 sore. Sivitas akademika kampus ungu itu menggelar aksi solidaritas dan doa bersama bertajuk Seribu Lilin untuk mengenang Rheza Sendy Pratama, mahasiswa AMIKOM yang meninggal dunia dalam insiden kerusuhan di depan Markas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 31 Agustus 2025 lalu.
Bingkai foto Rheza tampak diletakkan di atas meja berwarna coklat, dikelilingi lilin-lilin putih yang kemudian dinyalakan oleh perwakilan pimpinan kampus.

Satu per satu mahasiswa mengenakan jas almamater berwarna krem menaruh bunga di sekitar bingkai foto sebagai bentuk penghormatan terakhir. Kegiatan diawali dengan salat ghaib yang digelar di lapangan basket kampus dan dihadiri oleh ratusan mahasiswa serta jajaran kampus.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas AMIKOM Yogyakarta, Alvito Afriansyah, menyebut aksi ini sebagai bentuk solidaritas mahasiswa atas meninggalnya salah satu rekan mereka. Menurutnya, kematian Rheza patut didalami secara serius dan adil.
“Kami telah kehilangan satu kawan juang, tetapi bukan berarti kami kehilangan daya juang. Ini bentuk solidaritas kami untuk mendoakan sekaligus menuntut keadilan bagi almarhum,” ujar Alvito dalam sambutannya.

BEM AMIKOM Yogyakarta, lanjut Alvito ditemui usai doa bersama, mengaku telah berkoordinasi dengan keluarga almarhum, perangkat dukuh dan RT setempat. Mereka juga menjalin komunikasi dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk membantu proses pencarian fakta dan pendampingan hukum.
“Kami ingin mengetahui kebenaran dari informasi yang beredar, termasuk soal surat pernyataan keluarga yang katanya tidak akan menuntut siapa pun. Kami sedang coba cross-check keabsahannya. Jangan sampai itu dibuat karena adanya tekanan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” katanya.
Mengenai dugaan keterlibatan mahasiswa AMIKOM dalam aksi unjuk rasa di depan Mapolda DIY, Alvito menyatakan bahwa secara kelembagaan tidak ada instruksi untuk ikut aksi tersebut. Namun, ia mengakui banyak mahasiswa yang hadir secara individu tanpa membawa atribut kampus.
“Waktu itu saya juga hadir di lokasi dan sempat mengoordinasi teman-teman mahasiswa AMIKOM untuk menarik diri. Tapi saat insiden terjadi, saya tidak di tempat. Kami baru dapat kabar sekitar pukul delapan pagi setelah almarhum dibawa ke RSUP Dr. Sardjito,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas AMIKOM Yogyakarta, Ahmad Fauzi, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk refleksi bersama dan ungkapan duka kampus atas kehilangan salah satu mahasiswanya.
“Rheza adalah simbol perjuangan mahasiswa dalam menuntut keadilan dan kejujuran penegakan hukum di negeri ini. Hari ini kami bersama mahasiswa mengadakan doa bersama di kampus sebagai bentuk perhatian dan dukacita dari lembaga,” ujar Fauzi.
Menurut Fauzi, pihak kampus juga telah mengajukan permohonan audiensi dengan pihak kepolisian, namun hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian tanggal pelaksanaan pertemuan tersebut.
“Kami masih menunggu konfirmasi dari Polda DIY untuk bisa berdialog secara langsung mengenai kasus ini. Investigasi internal juga masih berjalan, termasuk mengumpulkan keterangan dari rekan-rekan almarhum,” tandasnya.

Acara diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap dari sivitas akademika Universitas AMIKOM Yogyakarta yang berisi tiga poin utama yakni diantaranya :
1. Mengecam keras tindakan represif aparat keamanan dalam menangani aksi demonstrasi yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
2. Menuntut Polda DIY untuk segera mengusut tuntas penyebab kematian Rheza Sendy Pratama.
3. Mendesak pemerintah Indonesia bertanggung jawab atas insiden tersebut serta menjamin perlindungan terhadap hak-hak konstitusional rakyat sebagaimana diatur dalam UUD 1945.

🟢 PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN







