
Foto istimewa (Olivia Rianjani Reporter warta-jogja.com)
YOGYAKARTA || WARTA-JOGJA.COM – Ribuan masyarakat memadati kawasan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta untuk menyaksikan puncak peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam rangkaian Hajad Dalem Sekaten, yang digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Jumat 5 September 2025 atau bertepatan dengan 12 Mulud Dal 1959 / 12 Rabiulawal 1447 H.
Prosesi istimewa tahun ini disambut antusias karena bertepatan dengan Tahun Dal dalam penanggalan Jawa yang hanya terjadi delapan tahun sekali. Salah satu ciri khas agenda ini adalah kemunculan Gunungan Brama, gunungan khusus yang hanya dihadirkan dalam Garebeg Mulud Tahun Dal.

Sebagai bagian dari penghormatan terhadap jalannya Hajad Dalem, Keraton Yogyakarta juga menetapkan kawasan no-fly zone di area Keraton selama rangkaian prosesi berlangsung.
Selain itu, masyarakat dilarang menerbangkan drone atau pesawat nirawak dalam radius 0-150 meter dari permukaan tanah demi kelancaran acara.
Koordinator Rangkaian Prosesi Garebeg Mulud Dal 1959, KRT Kusumonegoro, menyebut Gunungan Brama sebagai simbol sedekah raja yang istimewa dan sarat makna.
“Khusus Garebeg Mulud Tahun Dal, dikeluarkan salah satu pareden, yakni Gunungan Brama, yang nantinya juga diarak dan diboyong dari keraton menuju Masjid Gedhe,” ujar KRT Kusumonegoro.

Menurutnya, Gunungan Brama memiliki bentuk menyerupai Gunungan Estri, yakni silinder tegak dengan bagian tengah sedikit mengecil. Namun, keistimewaannya terletak pada asap pekat yang terus mengepul dari anglo berisi arang membara di puncaknya.
“Ini namanya Gunungan Brama atau Gunungan Kutug, hanya dikeluarkan pada Garebeg Mulud Tahun Dal atau setiap delapan tahun sekali,” jelasnya.
Namun, Gunungan Brama tidak dibagikan ke masyarakat seperti enam gunungan lainnya, melainkan kembali ke dalam kompleks Cepuri Kedhaton untuk dihaturkan kepada Ngarsa Dalem (Sultan HB X) dan keluarga Keraton.
“Prosesi ini juga dikawal ketat oleh 10 Bregada Prajurit Keraton serta prajurit-prajurit hasil rekonstruksi sejarah seperti Langenkusuma, Sumoatmaja, Jager, dan Suranata,” tandasnya.

Antusiasme masyarakat sangat tinggi, termasuk dari kalangan muda yang memiliki latar belakang seni dan kebudayaan. Salah satu pengunjung diluar Yogyakarta yang mengeyam pendidikan di Kota Pelajar, Gavin, mengaku tertarik datang karena keunikan acara yang hanya digelar setiap delapan tahun sekali.
“Saya kuliah di bidang seni dan kegiatan kebudayaan seperti ini sangat menarik untuk diikuti. Apalagi ini spesial karena Tahun Dal, jadi ada prosesi yang tidak ada di Garebeg sebelumnya seperti Gunungan Brama,” katanya saat ditemui dilokasi.

“Kalau soal pakem keraton saya rasa tidak perlu diperbaiki, hanya mungkin koordinasi soal tempat parkir perlu ditingkatkan. Karena tadi cukup kesulitan cari tempat parkir yang proper,” ucap Gavin.
Tak hanya warga lokal, wisatawan mancanegara pun terlihat antusias mengikuti prosesi ini. Salah satunya Mirco, turis asal Italia yang sedang berlibur ke Indonesia.
“Saya tidak tahu banyak tentang festival ini, tapi saya tahu ini menyangkut umat Islam dan berasal dari keraton menuju masjid. Bagi saya, ini sangat eksotis. Saya belum pernah melihat festival seperti ini,” ungkap Mirco dengan penuh kekaguman.

🔴 PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN







