
GUNUNGKIDUL, DIY || WARTA-JOGJA.COM – Kalau menyebut nama Punk pasti teringat musisi Band Sex Pistols, Ramones, Green Day (vocalnya Billie Joe Armstrong) dengan style tato, piercing atau tindik, rambut shaved side dan jabrik, akan tetapi kali ini berbeda, ada pemuda asal Cikupa, Kabupaten Tanggerang, Provinsi Banten, bernama Coco (39) mengatas namakan Petani Punk Tangerang, jauh-jauh dari daerahnya naik Bis bukan untuk berwisata mengunjungi Pantai, melainkan untuk belajar bertani di Gunungkidul.
Coco Petani Punk sharing session di depan awak media, menceritakan bahwa dirinya mulai tertarik di dunia bertani sejak tahun 2019, berawal tertarik dengan tumbuhan bonsai dari jenis waru, anting putri, kemudian mulai ada rasa penasaran dengan cara mengelola tanaman Padi, sayuran, cabe, pare, bawang merah dan jenis tanaman lainya.
Pemuda yang juga menyukai Motor Vespa ini mengatakan,
“Mengapa saya tiba-tiba menyukai dunia pertanian, pastinya dari rasa suka melihat, berkeinginan serta mempunyai niat untuk menanam, ternyata menanam itu seperti merawat anak, mengetahui pertumbuhan, ada kepuasan tersendiri, ternyata bertani itu sangat sederhana dan simpel,” katanya.
“Dari rasa keingintahuan itu, selama seminggu saya di Gunungkidul, selain bertani, saya juga melakukan explorasi ke beberapa tempat bersejarah, juga keberapa sanggar untuk mengetahui kearifan lokal serta pelestarian yang ada disini. ” imbuhnya.
Kehadiran Petani Punk Tangerang disambut hangat oleh Patrisna yang kerap dipanggil Mas Sibagz, ia sangat mengagumi semangat Coco yang jauh-jauh dari Tangerang ke Gunungkidul untuk mencari ilmu baru, baik Petani Punk di kalangan Karangmojo, maupun di tempat Mas Ribut Sanggar Lumbung Kaweruh Petir, Rongkop, Gunungkidul.
“Terima kasih Mas Coco, sudah mau berkunjung dan berdiskusi bersama kami Petani Punk Gunungkidul soal dunia pertanian, juga pelestarian budaya serta menjaga situs dan cagar budaya yang ada di Kabupaten Gunungkidul.” sambutnya.
Di tempat terpisah, Wakil Bupati Gunungkidul, Heri Susanto, setelah mendengar informasi kabar ada komunitas Punk datang ke Gunungkidul untuk belajar bertani, dirinya kagum dan mengapresiasi anak muda yang masih mempunyai kemauan dengan sadar belajar bertani,
“Tentunya sangat bangga dan senang, ada komunitas Punk dari Tangerang, jauh-jauh mau datang ke Gunungkidul untuk belajar bertani. Ada anak muda Punk tidak malu bertani, ini patut di apresiasi, mengingat kebutuhan dasar pangan merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda, karena pada hakekatnya tidak ada satupun orang hidup di dunia ini kalau bukan karena jerih payah para petani,” terangnya.
“Semangat petani punk, petani itu keren, petani itu hebat, petani itu ahli sedekah.” ujar Heri Susanto.
“Untuk anak muda Gunungkidul, saya mengajak agar bisa memanfaatkan lahan-lahan pekarangan sekitar untuk ditanami berbagai macam aneka sayur dan buah untuk kebutuhan konsumsi keluarga, mendukung kebutuhan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis.” pungkasnya.
(Red/ Mawan)











