
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Kelompok 19 Angkatan 41 Universitas PGRI Yogyakarta (foto Anggita Aulia & Tim)
WARTA-JOGJA.COM, KULON PROGO, DIY – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Kelompok 19 Angkatan 41 Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) mengadakan sosialisasi PENGENALAN BRANDING DIGITAL, INOVASI PRODUK, SERTA PEMBUKUAN SEDERHANA di Padukuhan Tritis, Kalurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, DIY. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 7 Februari 2026, bertempat di Posko KKN UPY Kelompok 19, Padukuhan Tritis.
Padukuhan Tritis, Kalurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo menjadi saksi aksi nyata mahasiswa KKN Reguler dari Universitas PGRI Yogyakarta. Melalui program kerja bertema pengenalan branding DIGITAL, inovasi produk, dan pembukuan sederhana, KKN UPY Kelompok 19 berupaya meningkatkan daya saing pelaku UMKM di wilayah tersebut. Berlokasi di Padukuhan Tritis, yang berada di Kalurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, mayoritas masyarakat menggantungkan penghasilan dari usaha rumahan seperti kopi, gula aren, teh, serta aneka makanan tradisional dengan bahan bahan yang berasal dari daerah tersebut. Namun, sebagian besar produk masih dipasarkan tanpa identitas merek dan tanpa pencatatan keuangan yang rapi.

Kurangnya Branding, Harga Jual Kurang Optimal
Salah satu temuan mahasiswa KKN adalah bayaknya produk unggulan yang dijualtanpa brand. Kondisi ini menyebabkan produk sulit dikenali dan memiliki nilai jual yang rendah di pasaran. Contohnya adalah gula aren produksi Ibu Tumini yang selama ini dijual tanpa nama merek dan logo sehingga hanya bisa dijual disekitaran Desa Ngargosari saja. Padahal, kualitas rasa dan proses pembuatannya masih tradisional dan alami. Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN membantu merancang nama brand serta logo yang lebih menarik dan mudah diingat agar produk memiliki identitas yang jelas. Hal serupa juga dilakukan pada usaha makananan berupa jajanan tradisional milik Ibu Zana. Produk yang sebenarnya memiliki cita rasa khas tersebut kini telah memiliki brand dan desain logo sederhana supaya mudah dikenali oleh konsumen. Dengan adanya identitas visual, produk menjadi lebih siap untuk dipasarkan secara lebih luas, termasuk melalui media sosial.
Potensi Teh Lokal yang Belum Tergarap Maksimal
Selain gula aren dan makanan tradisional, Padukuhan Tritis juga memiliki potensi produksi teh lokal. Banyak warga yang mengolah dan menjual teh hasil panen mereka secara mandiri. Namun, produk tersebut masih dipasarkan tanpa kemasan berlabel atau brand, sehingga harga jualnya relatif rendah. KKN UPY Kelompok 19 mengusulkan pemberian kemasan yang menarik kepada produk the yang akan dipasarkan dan jika memungkinkan, produsen UMKM dapat menambahkan inovasi pada the miliknya.
Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN memberikan edukasi pentingnya branding dan kemasan dalam meningkatkan nilai jual. Warga dikenalkan pada konsep diferensiasi produk, penentuan nama merek, serta desain label sederhana agar produk memiliki ciri khas dan tidak kalah bersaing. Selain itu juga pemasaran digital dikenalkan kepada para UMKM dipadukuhan tritis dengan harapan supaya produk milik mereka dapat dipasarkan dengan jangkauan yang lebih luas setelah memiliki branding sendiri. Pada sosialisi UMKM, KKN UPY Kelompok 19 mengajarkan terkait bagaimana cara membuka toko online disalah satu e-commerce yang saat ini sangat terkenal yaitu Shoppe, serta mengedukasi bagaimana menggunakan sosial media sebagai tempat promosi secara digital misalnya pembuatan konten di tiktok, dan memposting produk produk mereka melalui akun instagram/ fecebook yang khusus di buat untuk Produk tersebut.

Edukasi Pembukuan Sederhana untuk UMKM
Tidak hanya fokus pada tampilan luar produk, KKN UPY Kelompok 19 juga memberikan pelatihan pembukuan sederhana. Banyak pelaku UMKM di Padukuhan Tritis yang belum memisahkan keuangan usaha dan keuangan pribadi.
Pada sosialisasi yang dilaksanakan KKN UPY Kelompok 19 memberikan pendampingan mengenai:
Pencatatan pemasukan dan pengeluaran harian
o Pengelompokan aktivitas: pemasukan penjualan, biaya bahan baku, biaya operasional harian, biaya transportasi, dan biaya lain-lain.
o Penggunaan format pembukuan sederhana (misalnya buku kas atau lembar kerja Excel/Google Sheets) untuk mencatat arus kas harian.
o Penekanan pada keakuratan dan disiplin pencatatan agar data keuangan dapat dipakai untuk evaluasi berkala.
Perhitungan laba secara sederhana
o Konsep biaya tetap vs biaya variabel dalam konteks UMKM setempat.
o Rumus dasar laba sederhana: Laba = Pendapatan Penjualan – Biaya Produksi (biaya bahan baku + biaya tenaga kerja + biaya operasional variabel).
o Interpretasi margin laba kotor dan margin laba bersih dalam skala usaha kecil.
Pengelolaan stok bahan baku
o Pencatatan persediaan bahan baku dan produk jadi.
o Metode perhitungan persediaan (misalnya FIFO sederhana) untuk membantu menghindari kerugian akibat kedaluwarsa atau kehilangan.
o Prosedur pencatatan masuk-keluar stok dan pemantauan tingkat stok minimal.
Penentuan harga jual berbasis biaya produksi
o Identifikasi komponen biaya yang perlu diperhitungkan dalam penetapan harga (biaya langsung bahan baku, upah/kebutuhan tenaga kerja, biaya operasional yang proporsional terhadap produksi, serta margin tambah nilai).
o Langkah-langkah praktis: menghitung biaya produksi per satuan, menentukan target margin, dan mengaplikasikan harga jual yang kompetitif di pasar lokal maupun online.
o Pertimbangan faktor non-biaya (nilai tambah seperti branding, kemasan, dan pelayanan pelanggan) dalam penentuan harga akhir.
Metode pelatihan:
o Ceramah singkat untuk memperkenalkan konsep dasar pembukuan dan
biaya produksi.
o Demonstrasi praktis: contoh format pembukuan, contoh perhitungan laba, dan simulasi pencatatan stok
Dengan pencatatan yang rapi, pelaku UMKM diharapkan dapat mengetahui perkembangan usahanya dan membuat perencanaan yang lebih matang ke depan. UMKM juga lebih mudah mengetahi berapa laba / rugi yang mereka dapatkan jika sudah bisa memisahkan antara keuangan usaha dan keuangan pribadi.

Langkah Kecil, Berdampak Besar
Program kerja branding dan pembukuan sederhana ini menjadi langkah awal dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan adanya brand, logo, serta pencatatan keuangan yang lebih tertata, produk UMKM Padukuhan Tritis kini memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan menembus pasar yang lebih luas.
Melalui KKN Reguler UPY Kelompok 19, mahasiswa tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga menunjukkan bahwa intervensi branding dan pembukuan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pengenalan produk melalui identitas merek yang kuat, kemasan yang informatif, serta kemampuan pelaku UMKM dalam mengelola keuangan secara lebih terstruktur.
Pengenalan identitas merek terbukti meningkatkan daya tarik konsumen dan memungkinkan diferensiasi produk, sehingga berpotensi meningkatkan harga jual berbasis nilai tambah, khususnya untuk gula aren, teh lokal, dan snack basah tradisional. Pembukuan sederhana memegang peranan penting dalam perencanaan keuangan dan evaluasi kinerja UMKM dengan menyediakan gambaran arus kas, laba rugi sederhana, serta manajemen stok yang lebih teratur. Sinergi antara branding dan pembukuan memperkuat kapasitas pelaku UMKM untuk mengidentifikasi peluang pasar, menetapkan harga jual berbasis biaya, dan merespons perubahan permintaan melalui pendekatan yang lebih terencana. Namun, program kerja ini memiliki keterbatasan seperti fokus pada beberapa UMKM inti dalam satu padukuhan dan periode implementasi yang relatif singkat. Implikasi praktisnya, model intervensi ini dapat dijadikan referensi bagi pemerintah desa, institusi pendidikan, dan komunitas akademik untuk program pemberdayaan UMKM berbasis branding dan pembukuan sederhana di wilayah dengan akses internet terbatas.
Program kerja selanjutnya perlu mengeksplorasi evaluasi jangka menengah-panjang, perluasan ke desa lain, serta eksperimen desain branding dan variasi format pembukuan guna menilai keberlanjutan dan adaptabilitasnya di berbagai konteks desa.

Kesimpulan
Program kerja ini menilai implementasi KKN UPY Kelompok 19 yang mengintegrasikan branding, inovasi produk, dan pembukuan sederhana di Padukuhan Tritis. Hasil temuan menunjukkan bahwa intervensi branding dan pembukuan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan pengenalan produk melalui identitas merek yang kuat, kemasan yang informatif, serta kemampuan pelaku UMKM dalam mengelola keuangan secara lebih terstruktur.
Pengenalan identitas merek terbukti meningkatkan daya tarik konsumen dan memungkinkan diferensiasi produk, sehingga berpotensi meningkatkan harga jual berbasis nilai tambah, khususnya untuk gula aren, teh lokal, dan snack basah tradisional.
Pembukuan sederhana memegang peranan penting dalam perencanaan keuangan dan evaluasi kinerja UMKM dengan menyediakan gambaran arus kas, laba rugi sederhana, serta manajemen stok yang lebih teratur.
Sinergi antara branding dan pembukuan memperkuat kapasitas pelaku UMKM untuk mengidentifikasi peluang pasar, menetapkan harga jual berbasis biaya, dan merespons perubahan permintaan melalui pendekatan yang lebih terencana. Namun, program kerja ini memiliki keterbatasan seperti fokus pada beberapa UMKM inti dalam satu padukuhan dan periode implementasi yang relatif singkat. Implikasi praktisnya, model intervensi ini dapat dijadikan referensi bagi pemerintah desa, institusi pendidikan, dan komunitas akademik untuk program pemberdayaan UMKM berbasis branding dan pembukuan sederhana di wilayah dengan akses internet terbatas.
Program kerja selanjutnya perlu mengeksplorasi evaluasi jangka menengah-panjang, perluasan ke desa lain, serta eksperimen desain branding dan variasi format pembukuan guna menilai keberlanjutan dan adaptabilitasnya di berbagai konteks desa.
🌐 Penulis: Anggita Aulia & Tim KKN UPY Kelompok 6









