
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Menyambut Mei: Bulan Indonesia Menggambar 2026, Perkumpulan Indonesia Raya Menggambar terus mematangkan persiapan. Sebagai tuan rumah, Zona D.I. Yogyakarta (Ngayogya Menggambar) menggelar rapat konsolidasi lanjutan pada 11 April 2026 di Sangkasa Gallery, Bangunjiwo, Bantul, memantapkan langkah menyambut Pameran Seni Gambar Nasional dan Musyawarah Besar Nasional (Mubesnas) bertema “Kebangkitan Gambar – Menggambar Kebangkitan”.
Berbagai agenda spektakuler telah dirancang sepanjang Mei 2026, mulai dari kunjungan museum, aksi flashmob menggambar bersama di kawasan Titik Nol Malioboro, hingga sarasehan seni yang mempertemukan beragam perspektif lintas komunitas.
Komitmen dan Semangat Kolaborasi
Liesty Yanti P., Koordinator Wilayah D.I. Yogyakarta, menyampaikan bahwa keterlibatan pihaknya merupakan wujud komitmen menyambut momentum nasional. Yogyakarta berupaya menghadirkan ruang temu yang memperkuat jejaring dan pertukaran gagasan.
“Harapannya, kehadiran teman-teman dari berbagai daerah dapat saling menginspirasi dan memperluas energi gerakan menggambar agar terus hidup dan berkembang di masyarakat,” ujar Liesty.
Pameran akbar yang akan digelar di Galeri R.J. Katamsi, ISI Yogyakarta, ini diproyeksikan melibatkan sekitar 300 komunitas dari seluruh Nusantara serta seniman undangan. Ragam karya akan ditampilkan, mulai dari drawing konvensional, media alternatif, instalasi, hingga new media dan arsip komunitas. Pembukaan pameran direncanakan akan diresmikan langsung oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.
Mereposisi Seni Menggambar
Dalam konteks kuratorial, Dr. Moh. Rusnoto Susanto, M.Sn., MCE., menjelaskan bahwa pameran ini hadir untuk mereposisi menggambar sebagai praktik utama dalam kebudayaan visual Indonesia. Menggambar tidak lagi dilihat sekadar tahap dasar, melainkan medium hidup yang merekam pengalaman dan merawat ingatan kolektif.
Senada, Dr. Syamsul Barry, S.Sn., M.Hum., menekankan kekayaan keragaman karya yang merepresentasikan dinamika sosial dari berbagai wilayah. “Pameran ini memperlihatkan bagaimana menggambar hidup dan berkembang di banyak ruang, menghadirkan lanskap visual Indonesia yang kaya, berlapis, dan penuh perspektif,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Pameran, Cholis (Cholsverde), menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar pameran, melainkan ruang temu besar energi kolektif. “Kami berharap Yogyakarta menjadi titik temu yang menghidupkan semangat baru bagi gerakan menggambar nasional,” katanya.
Mubesnas dan Upaya Pengakuan Nasional
Sebagai bagian dari rangkaian, Musyawarah Besar Nasional (Mubesnas) akan menjadi forum strategis menentukan arah gerakan. Ketua Pelaksana Mubesnas, Zee Vnon, memastikan perwakilan dari 9 zona wilayah nasional akan hadir untuk menjamin keterwakilan suara komunitas.
Langkah strategis juga telah ditempuh untuk pengakuan resmi. Ketua/Presiden Perkumpulan Indonesia Raya Menggambar, Edo Pop, mengungkapkan bahwa pada Maret 2026 lalu, timnya telah melakukan audiensi dan menyerahkan naskah akademik langsung kepada Menteri Kebudayaan RI.
“Alhamdulillah, ini capaian penting. Naskah sudah diaudiensikan dan insyaallah akan segera ditindaklanjuti. Ini langkah penting mendorong praktik menggambar masuk ke kerangka kebijakan kebudayaan nasional,” ujar Edo Pop.
Makna Filosofi Bulan Mei
Pemilihan bulan Mei bukan tanpa alasan. Bulan ini memiliki irisan historis dan nasional yang kuat, meliputi Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Perpustakaan Nasional (17 Mei), Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), serta momentum kelahiran Raden Saleh.
Hal ini menegaskan bahwa menggambar berada pada titik temu antara pendidikan, literasi, budaya, dan kesadaran kebangsaan. Melalui momentum ini, seluruh elemen diajak tidak hanya berkarya, tetapi juga menggerakkan roda budaya, menjadikan “Kebangkitan Gambar” sebagai denyut bersama kehidupan berbangsa.
Kontak: (0812-3710-8724), Perkumpulan Indonesia Raya Menggambar – Zona D.I. Yogyakarta
🌐 Penulis
🔴 Redaktur: Mawan








