
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti (foto: Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi ditetapkan sebagai daerah dengan embarkasi haji baru, berdasarkan Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 11 Tahun 2025 tentang Bandar Udara Embarkasi dan Debarkasi. Keberangkatan perdana dari Embarkasi Haji Yogyakarta dijadwalkan berlangsung pada musim haji tahun 2026 mendatang.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti menjelaskan, penetapan ini merupakan hasil proses panjang yang telah dilakukan sejak 2022. Pemerintah DIY bersama instansi terkait melakukan serangkaian persiapan, mulai dari simulasi keberangkatan hingga kerja sama dengan sejumlah hotel di sekitar Yogyakarta International Airport (YIA).
“Proses ini cukup panjang. Inisiasi dimulai tahun 2022, dilanjutkan 2023 di Kulon Progo, dan 2024 sudah sampai tahap simulasi. Kami bekerja sama dengan Hotel Ibis dan Novotel yang memungkinkan dijadikan tempat embarkasi haji atau asrama sementara,” ujar Ni Made saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (5/11/2025).
Menurut Ni Made, syarat pembentukan embarkasi haji adalah minimal memiliki 4.000 jamaah atau sekitar 10 kloter, dengan setiap kloter berisi 400 jamaah. Saat ini, kuota haji DIY meningkat dari 3.200 menjadi sekitar 3.700 jamaah. Namun untuk memenuhi syarat minimal embarkasi, DIY akan menggandeng wilayah Karesidenan Kedu (Jawa Tengah) yang meliputi enam kabupaten.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Jawa Tengah. Pak Menteri menyatakan fasilitas di YIA sudah memenuhi, hanya perlu komitmen dari Jawa Tengah. Jadi disarankan satu karesidenan supaya pengaturan tidak terpecah,” jelasnya.

Efisiensi Biaya dan Waktu
Menurut Ni Made, hadirnya embarkasi haji di DIY akan berdampak langsung pada efisiensi biaya keberangkatan. Selama ini, jamaah DIY harus berangkat melalui embarkasi Solo, yang menambah ongkos transportasi dan waktu tempuh.
“Dengan terbaginya embarkasi, biaya haji bisa lebih efisien dan waktu jamaah di sana tidak terlalu lama. Ini juga memberi kemudahan dan akses yang lebih baik bagi masyarakat,” katanya.
Kemudian, pesawat berbadan besar seperti Boeing 777 akan digunakan untuk penerbangan langsung dari YIA, sehingga dapat menekan biaya transportasi dan mempercepat proses keberangkatan maupun pemulangan jamaah.
Model Hotel Haji, Pertama di Indonesia
Salah satu inovasi yang diterapkan di Embarkasi Haji Yogyakarta adalah penggunaan hotel sebagai asrama jamaah, menggantikan konsep asrama haji konvensional. Model ini dinilai lebih efektif dan memberikan kenyamanan lebih bagi jamaah.
“Kalau hotel kan standarnya berbeda, dan ini memberi kenyamanan bagi jamaah. Mereka bisa belajar bagaimana persiapan haji, lalu tinggal di hotel selama di sini. Ini model baru pertama di Indonesia,” imbuh Ni Made.
Begitu juga, hotel-hotel di sekitar YIA seperti Ibis dan Novotel akan difungsikan sebagai tempat transit jamaah sebelum dan sesudah keberangkatan.
“Ke depan, jumlah hotel yang dilibatkan bisa bertambah sesuai kebutuhan. Semua proses, termasuk penyelesaian urusan imigrasi, akan dilakukan di lokasi yang sama,” katanya.
Dorong Ekonomi Lokal Kulon Progo
Adanya Embarkasi ini, Pemda DIY memastikan kesiapan daerah, utamanya Kabupaten Kulon Progo, harus mendukung operasional embarkasi. Fasilitas itu meliputi puskesmas, pusat layanan usaha terpadu (PLUT), serta sektor UMKM akan dilibatkan untuk memenuhi kebutuhan jamaah.
“Kebutuhan jamaah banyak, mulai dari busana hingga oleh-oleh. Kami sudah koordinasi dengan kepala Bapperida Kulon Progo, dan semua sudah disiapkan. Ini cepat, karena haji sudah dekat, jadi kita perlu berkolaborasi dan komunikasi dengan baik,” ungkap Ni Made.
Selain meningkatkan kualitas pelayanan haji, kata Ni Made, keberadaan embarkasi ini diharapkan juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal melalui peningkatan permintaan produk dan jasa di sekitar bandara.
“Manfaat embarkasi haji tidak hanya untuk ibadah, tapi juga untuk penguatan ekonomi lokal dan promosi potensi daerah,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












