
Walikota Kota Yogyakarta Hasto (kiri) foto : Olivia Rianjani
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memastikan kawasan Malioboro tetap dapat diakses masyarakat selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Pemkot menegaskan tidak akan menerapkan kebijakan full pedestrian di kawasan wisata andalan tersebut pada libur akhir tahun.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan keputusan itu telah ditetapkan sehingga tidak ada uji coba penutupan total Malioboro seperti yang sempat diwacanakan sebelumnya.
“Kami sudah memutuskan bahwa kami tidak akan menutup Malioboro. Jadi tidak ada uji coba full pedestrian Malioboro di Nataru ini. Malioboro akan tetap berjalan seperti biasa,” ujar Hasto dalam konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (17/12/2025).
Meski demikian, Hasto tidak menutup kemungkinan adanya pembatasan kendaraan secara situasional, terutama pada malam puncak pergantian tahun ketika jumlah pengunjung membludak.
“Kecuali pada malam hari H atau tanggal 1, itu kita akan melihat situasional. Bisa jadi jam 20.00 atau jam 21.00 kendaraan kita tutup kalau Malioboro sudah penuh pengunjung,” jelasnya.
Menurut Hasto, penutupan tersebut bukan merupakan kebijakan penutupan kawasan, melainkan langkah pengamanan demi kenyamanan dan keselamatan pengunjung.
“Penutupan itu bukan karena kebijakan menutup Malioboro, tetapi karena kondisinya sudah penuh. Orang tetap bisa masuk, hanya kendaraan yang tidak bisa,” tegasnya.
Dalam pengaturan lalu lintas, bekerjasama dengan kepolisian, pihaknya tetap memberlakukan skema yang selama ini berjalan. Akses kendaraan menuju Malioboro dari arah utara akan diarahkan melalui Jalan Mataram, sementara kendaraan dari Jalan Mangkubumi diminta memutar melalui kawasan Kridosono.
“Kendaraan, terutama bus dan kendaraan kecil yang menuju Malioboro, akan kita arahkan dari depan Gramedia belok kiri ke Kridosono, lalu masuk ke Malioboro,” papar Hasto.
Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan itulah, Pemkot juga menyiapkan sejumlah kantong parkir. Kawasan Kridosono diprioritaskan untuk kendaraan roda empat kecil, sedangkan bus akan diarahkan ke kantong parkir Menara Kopi.
“Selain itu, area parkir di sisi kiri Jalan Mangkubumi disiapkan khusus kendaraan kecil, sementara bus hanya diperbolehkan parkir dengan izin khusus, seperti bus hotel,” imbuh Hasto.
Lebih lanjut, Pemkot juga menambah lokasi parkir alternatif di wilayah barat kota, salah satunya di area SMP Negeri 3 Yogyakarta. Parkir Ngabean akan dioptimalkan, khususnya untuk menampung bus dari arah barat agar tidak masuk ke kawasan timur dan zona Sumbu Filosofi.
“Kami berharap parkir bus di zona Sumbu Filosofi hanya tersisa di kawasan Senopati. Selebihnya kita upayakan parkir berada jauh dari zona Sumbu Filosofi,” kata Hasto.
Terkait parkir liar yang masih marak sampai sekarang, Pemkot Yogyakarta berkoordinasi dengan kepolisian untuk menertibkan parkir liar di kawasan selatan Tugu, terutama di sekitar Stasiun Tugu, guna mengurangi potensi kemacetan selama libur Nataru.
“Kami ingin kawasan selatan stasiun bersih dari parkir liar saat Nataru, supaya lebih lapang dan kemacetan bisa diminimalkan,” pungkas Hasto.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












