
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul Istriyani (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan peningkatan produksi perikanan hingga 25 persen melalui pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kelurahan Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, program Kampung Nelayan Merah Putih dirancang untuk memperkuat ekonomi nelayan pesisir dengan meningkatkan efisiensi produksi dan tata kelola usaha perikanan.
“Peningkatan produksi menjadi sasaran utama. Karena itu pemerintah menyiapkan fasilitas produksi dan pascapanen agar kegiatan melaut lebih efisien,” ujar Trenggono, Jumat 2 Januari 2025.
Ia menyebutkan seluruh fasilitas penunjang di Kampung Nelayan Merah Putih Poncosari ditargetkan mulai beroperasi penuh pada Januari ini. Menurutnya, model pengembangan kampung nelayan tersebut telah diterapkan di sejumlah daerah dengan hasil positif.
“Model ini sudah kami terapkan di beberapa daerah. Di Juwana, produktivitas nelayan bisa meningkat sampai 124 persen. Simpanan nelayan juga ikut naik,” katanya.
Menurut Trenggono, Kampung Nelayan Merah Putih dibangun sebagai ekosistem usaha perikanan terpadu. Fasilitas yang disiapkan mencakup cold storage, area pengolahan ikan, hingga toko logistik yang mendukung aktivitas nelayan dari hulu ke hilir.
Ia menegaskan, peningkatan volume tangkapan harus diiringi dengan peningkatan nilai jual. Keberadaan cold storage memungkinkan nelayan tidak terburu-buru menjual ikan saat harga pasar sedang rendah.
“Dengan cold storage, ikan bisa disimpan dulu sampai harga membaik. Nelayan tidak lagi terpaksa menjual di saat harga turun,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul Istriyani mengatakan, pemerintah daerah menargetkan kenaikan produksi sekitar 25 persen dari kondisi saat ini. Target tersebut didorong melalui penambahan armada dan sarana penangkapan ikan.
“Pemerintah daerah menambah 10 unit perahu dan 20 unit mesin. Armada SST bertambah dari 41 unit menjadi 51 unit,” kata Istriyani.
Ia menyebutkan, selama ini produksi perikanan yang tercatat di TPI Poncowati dan TPI Ngentak rata-rata mencapai sekitar 50 ton per tahun. Dengan tambahan armada, volume tangkapan diharapkan meningkat signifikan.
Menurut Istriyani, hasil tangkapan nelayan Poncosari didominasi ikan pelagis kecil seperti layur, bawal, layang, dan serung. Ikan dengan nilai ekonomi tinggi selama ini langsung diserap oleh bakul maupun pabrik pengolahan.
Ia menilai, keberadaan cold storage berkapasitas hampir 10 ton dinilai dapat memperbaiki sistem tata niaga perikanan. Nelayan maupun koperasi dapat menyimpan ikan ketika harga rendah dan melepasnya kembali saat harga naik.
“Cold storage juga berfungsi sebagai pusat transit distribusi ikan. Bisa menampung pasokan dari luar daerah sehingga pengiriman tidak harus dilakukan setiap hari dan biaya logistik menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Selain fokus pada produksi, pemerintah daerah juga mendorong regenerasi nelayan. Selama ini, banyak generasi muda di wilayah pesisir masih berperan sebagai anak buah kapal (ABK).
“Ke depan, mereka kami dorong untuk naik peran menjadi tekong,” kata Istriyani.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menilai Kampung Nelayan Merah Putih menjadi stimulus penting untuk mengoptimalkan potensi laut selatan Bantul yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Dengan fasilitas yang lebih lengkap, kami berharap jumlah nelayan bertambah. Produksi meningkat dan pendapatan nelayan juga naik,” ujar Halim.
Ia menambahkan, pengelolaan Kampung Nelayan Merah Putih ke depan akan berada dalam satu manajemen bersama Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Poncosari. Saat ini, skema kerja sama tengah disusun agar berjalan adil dan transparan.
“Kalau hasilnya baik, model kampung nelayan ini akan kami replikasi di wilayah pesisir lain yang memiliki karakter serupa,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN









