WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Kementerian Kebudayaan meluncurkan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global pada awal Desember 2025. Buku sejarah nasional terbaru ini terdiri dari 10 jilid dan melibatkan 123 penulis dari 34 perguruan tinggi serta 11 lembaga non-perguruan tinggi. Pada hari peluncuran yang sama, 14 Desember juga ditetapkan sebagai Hari Sejarah Nasional atas usulan para sejarawan Indonesia.
Salah satu editor buku tersebut, Dosen Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A., mengatakan terbitnya buku ini akan berdampak langsung pada kurikulum pelajaran sejarah di sekolah.
Menurut Agus, materi pelajaran sejarah di tingkat SD, SMP, dan SMA selama ini bersumber pada buku sejarah nasional. Oleh karena itu, kehadiran buku baru ini tidak terelakkan akan membawa perubahan dalam pembelajaran sejarah di sekolah.
“Pasti akan ada perubahan, pelan-pelan secara bertahap. Siswa perlu mengetahui pengetahuan sejarah yang belum pernah diperkenalkan sebelumnya,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Agus menjelaskan, peluncuran buku Sejarah Indonesia juga diiringi berbagai kekhawatiran dari masyarakat. Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan signifikan dalam narasi sejarah, termasuk potensi penonjolan tokoh atau kelompok tertentu.
Ia juga menilai kekhawatiran tersebut belum dapat disimpulkan sebelum seluruh isi buku dibaca secara menyeluruh.
“Hal ini baru akan terungkap setelah keseluruhan isi 10 jilid buku tersebut keluar dan dibaca secara detail serta dibandingkan dengan model sejarah nasional sebelumnya,” katanya.
Ia berharap kehadiran buku ini justru dapat menjadi pemantik diskusi publik yang lebih luas mengenai sejarah Indonesia. Agus menilai, selama ini narasi sejarah nasional cenderung berfokus pada segmen tertentu dan mengabaikan keragaman pengalaman sejarah Indonesia.
“Saya pribadi akan senang nanti peluncuran ini akan memancing diskusi-diskusi di ruang publik, di komunitas-komunitas, di perguruan tinggi, di sekolah mengenai sejarah Indonesia,” tutur Agus.
Dalam proyek penulisan buku ini, Agus bersama rekannya, Prof. Dr. Sarkawi, S.S., M.Hum., terlibat sebagai editor. Agus secara khusus menyusun rancangan struktur dan isi jilid V yang membahas sejarah Indonesia abad ke-19.
Ia menjelaskan, jilid V akan menghadirkan pendekatan dan paradigma baru dalam melihat sejarah abad ke-19, tidak hanya dari sisi politik, tetapi juga dari aspek lain yang selama ini kurang mendapat perhatian.
“Buku jilid V membahas sejarah abad ke-19 dan akan memunculkan paradigma baru tentang sejarah pengetahuan, infrastruktur, serta hukum pada masa itu,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN










