
(foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memastikan tidak terjadi peningkatan aktivitas Gunung Merapi setelah gempa tektonik yang dirasakan masyarakat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa 27 Januari 2026.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan, pada hari tersebut masyarakat merasakan dua kali gempa tektonik. Getaran gempa juga terdeteksi di Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Kabupaten Magelang, serta terekam oleh sejumlah stasiun pemantauan kegempaan Merapi.
“Sampai saat ini tidak tampak adanya tanda-tanda peningkatan aktivitas Gunung Merapi, baik dari parameter kegempaan maupun deformasi,” ujarnya dalam keterangan resminya, Selasa 27 Januari 2026.
Ia mengungkapkan, hasil pemantauan deformasi menggunakan metode Global Positioning System (GPS) dan radar satelit juga tidak menunjukkan perubahan signifikan pascagempa.
“Data GB InSAR Stasiun Turgo dan Babadan juga tidak menunjukkan adanya anomali setelah kejadian gempa,” kata Agus.
BPPTKG juga melaporkan terjadinya hujan di lereng selatan Gunung Merapi pada Selasa siang. Hujan tercatat mulai pukul 12.18 WIB dengan curah hujan sebesar 7 milimeter, durasi 11 menit, dan intensitas mencapai 40 milimeter per jam.
“Seiring kondisi tersebut, kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi serta ancaman awan panas guguran,” ucap Agus.
Lebih lanjut, berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan pukul 06.00 – 12.00 WIB, status Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Cuaca di sekitar gunung terpantau berawan hingga mendung, dengan suhu udara berkisar antara 23 hingga 24,3 derajat Celsius dan tingkat kelembapan 78,1 hingga 84 persen.
“Secara visual, puncak gunung tertutup kabut dengan intensitas 0 – III dan tidak teramati adanya asap kawah. Dari sisi kegempaan, tercatat 19 kali gempa guguran, 13 kali gempa hybrid, serta tiga kali gempa tektonik jauh,” ujar Agus.
Selain itu, BPPTKG juga mencatat adanya empat kali guguran lava yang mengarah ke barat daya melalui alur Kali Sat atau Putih dan Kali Bebeng, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.900 meter.
Oleh karena itu, Agus kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana.
“Ancaman guguran lava dan awan panas masih berpotensi terjadi di sektor selatan hingga barat daya, khususnya di sepanjang Sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, serta sektor tenggara seperti Sungai Woro dan Gendol,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan.
“Masyarakat diminta mewaspadai potensi lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan, serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik,” pungkas Agus.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN







