
Wagino, SE Kepala Bagian Perencanaan (kiri), PLT Direktur RSUD Wonosari Ismono S.SIT, M.Kes (tengah), (kanan) Tasmiyati, ST Kepala Instalasi Sanitasi RSUD (foto Ginowe)
WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Minggu, (1/2/2026), Green hospital (rumah sakit ramah lingkungan) adalah konsep manajemen dan desain rumah sakit yang berwawasan lingkungan, berkelanjutan, serta aman dan nyaman. Rumah sakit ini mengintegrasikan praktik ramah lingkungan, seperti efisiensi energi, pengelolaan sampah, serta konservasi air, guna mengurangi jejak karbon dan dampak negatif terhadap lingkungan.
Komponen Utama dan Manfaat Green:
Pengelolaan Sampah: Pemisahan dan pengelolaan sampah medis infeksius dan non-infeksius secara aman untuk mencegah pencemaran. Untuk sampah non infeksius dibagi menjadi sampah organik dan anorganik.
Efisiensi Energi dan Air: Penggunaan teknologi hemat energi (lampu LED, AC efisien) dan pengelolaan sumber daya air yang efisien.
Desain Bangunan Berkelanjutan:
Pemanfaatan pencahayaan alami, ventilasi yang baik, dan bahan bangunan ramah lingkungan.
Manfaat: Mengurangi biaya operasional jangka panjang, meningkatkan kualitas kesehatan di lingkungan rumah sakit, dan meningkatkan citra positif di masyarakat. Secara ringkas, green hospital bertujuan untuk “menyembuhkan manusia sekaligus menyembuhkan lingkungan”.
Salah satu program pengelolaan sampah organik yang dilakukan oleh RSUD Wonosari adalah memanfaatkan kulit buah dari Instalasi Gizi menjadi ecoenzyme.
Menurut PLT Direktur RSUD Wonosari Ismono S.SIT, M.Kes didampingi Wagino, SE Kepala Bagian Perencanaan dan Pengembangan serta Tasmiyati, ST Kepala Instalasi Sanitasi RSUD kepada media menyatakan,
”Permentasi pemanfaatan limbah buah-buahan dari instalasi gizi yang bisa disebut juga dengan Eco enzyme telah dilakukan, sekarang ini kita mulai memanen hasil inovasi dari RSUD Wonosari tersebut bawasanya ternyata sampah membawa berkah,”jelasnya.

Sementara itu Tasmiyati menjelaskan, “Dari program pemanfaatan hingga cara membuat limbah buah-buahan dari instalasi gizi yang dipermentasikan hingga menjadi peluang usaha,” urainya
Ia menjelaskan secara rinci Eco enzyme adalah cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik dapur (kulit buah/sisa sayuran), gula (gula merah/molase), dan air dengan perbandingan 3:1:10 selama 3 bulan.
Cairan ini berwarna coklat gelap, beraroma asam segar, dan mengandung enzim, asam organik, serta alkohol yang berfungsi sebagai pembersih alami, pupuk, dan pestisida.
Sedangkan manfaat dari eco-Enzim itu sendiri dapat sebagai pembersih Rumah Tangga: Dapat digunakan sebagai pembersih lantai, kompor, piring, dan pakaian alami.
Pertanian dan Berkebun: Berfungsi sebagai pupuk organik cair yang menyuburkan tanah dan tanaman, serta pestisida alami
Lingkungan: Mengurangi sampah organik di TPA dan dapat digunakan untuk penjernihan air.
Kesehatan: Umumnya digunakan sebagai disinfektan, hand sanitizer, dan pengusir serangga.
Cara Membuat Eco-Enzim:
Bahan: 1 bagian gula (merah/molase), 3 bagian limbah organik (kulit buah/sayur), dan 10 bagian air (contoh: 100g gula, 300g sampah, 1 liter air).
Wadah: Gunakan wadah plastik bertutup rapat (misal limbah galon air mineral), hindari kaca.
Proses: Campur semua bahan, tutup rapat. Buka tutup wadah sesekali pada bulan pertama untuk melepaskan gas.
Fermentasi: Simpan di tempat teduh selama 3 bulan, lalu saring.
“Eco-enzim adalah solusi ramah lingkungan untuk mengurangi sampah dapur dan menggantikan bahan kimia sintetis di rumah.”pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








