
(foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Hasto Kristiyanto memulai rangkaian kunjungannya di Yogyakarta dengan aksi penanaman pohon di kawasan Embung Giwangan, Senin (16/2/2026). Kegiatan bertajuk “Merawat Pertiwi” itu melibatkan jajaran pengurus PDI Perjuangan tingkat daerah hingga Wali Kota Yogyakarta.
Sejumlah bibit ditanam dalam kegiatan tersebut, di antaranya pohon kepel – flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta – tabebuya, serta berbagai tanaman buah. Aksi ini disebut sebagai bagian dari komitmen partai terhadap isu lingkungan.
Dalam sambutannya, Hasto menautkan gerakan ekologis dengan pendekatan kebudayaan dalam politik. Ia mengangkat kisah Subali dengan ajian Pancasona sebagai simbol hubungan manusia dan bumi.
“Aji Pancasona itu kekuatannya berasal dari bumi. Pesan moralnya jelas: kalau kita merawat bumi, bumi akan menghidupi kita. Tapi kalau kita mengkhianati bumi, maka bumi bisa menjadi sumber kesengsaraan,” ujar Hasto.

Menurutnya, penanaman pohon tidak boleh berhenti sebagai kegiatan simbolik. Ia menegaskan bahwa gerakan tersebut merupakan bagian dari strategi kebudayaan partai dalam merespons eksploitasi alam yang dinilai kerap terjadi demi kepentingan politik jangka pendek.
“Gerakan ini bukan seremoni. Ini strategi kebudayaan untuk melawan ego kapitalisme yang mengeksploitasi alam demi kepentingan elektoral sesaat,” ucapnya.
Hasto juga menyinggung kebiasaan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dalam menjaga lingkungan. Ia menyebut Megawati kerap menyemai kembali biji buah dari setiap kegiatan partai serta memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai pupuk.
“Ibu Mega selalu mengumpulkan biji buah untuk ditanam kembali. Bahkan air kopi sisa tamu pun dipakai untuk pupuk. Botol plastik tidak dibuang, tetapi dijadikan wadah pembenihan. Hal-hal kecil seperti ini yang harus menjadi budaya kader,” tuturnya.
Kendati begitu, Hasto turut mendorong Pemkot Yogyakarta memperkuat tata kelola sampah, termasuk pemanfaatan teknologi bakteri pengurai untuk mengatasi persoalan limbah plastik di sungai.
Ia juga menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus tercermin dari tindakan sederhana.
“Ciri kader sejati itu mau berhenti sebentar untuk memungut sampah plastik yang ditemuinya di jalan,” tegasnya.
Kunjungan tersebut menjadi pembuka agenda diskusi publik bertajuk Public Lecture Series 002 yang digelar di lokasi yang sama. Forum itu mengangkat tema “Spirit of Humanity and Human Solidarity: Pendidikan, Keadilan, dan Hak Generasi” dan menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Rocky Gerung serta Rimawan P., dengan moderator Aryo Seno Bagaskoro.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN








