
WARTA-JOGJA.COM, KULON PROGO, DIY – Masih dalam suasana Idul Fitri, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pengasih, Muhammad Munawir, S.Ag., menggelar kegiatan penyuluhan spiritual bagi warga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Acara berlangsung di Pendopo Dusun Siluwok Lor, Kalurahan Tawangsari, Pengasih, pada Kamis (09/04/2026) pukul 08.30 WIB.
Kegiatan ini mengusung tema “Menjaga Diri dari 5 Perbuatan yang Menjadikan Kebangkrutan di Akhirat”. Tujuannya adalah memperkuat mental dan iman keluarga penerima manfaat, agar kesejahteraan yang didapat tidak hanya berdampak secara materi, tetapi juga dijaga dari hal-hal yang dapat merusak amal ibadah.
5 Penyebab Seseorang Menjadi ‘Muflis’
Dalam pemaparannya, Munawir menjelaskan konsep muflis atau bangkrut dalam pandangan Islam, yang bukan merujuk pada harta, melainkan pada amal kebaikan. Ia menegaskan bahwa ada lima perbuatan yang dapat menghabiskan pahala seseorang dan menjadikannya bangkrut di akhirat, yaitu:
1. Mencaci atau memaki orang lain.
2. Menuduh orang lain tanpa bukti.
3. Memakan atau menguasai harta orang lain secara bathil.
4. Menumpahkan darah atau menyakiti fisik orang lain.
5. Memukul orang lain.
“Orang yang berbuat zalim kepada sesama, maka pahala kebaikannya akan diambil dan diberikan kepada orang yang dizaliminya. Jika pahala habis sebelum lunas, maka dosa korban akan ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka,” jelas Munawir menekankan bahaya perbuatan zalim.
Sinergi dengan Pendamping PKH
Kegiatan ini turut didampingi oleh Ibu Emi Listiawati, S.Pd., selaku Pendamping PKH. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk merekapitulasi data, memastikan bantuan sosial tepat sasaran, serta memotivasi peserta untuk gemar menabung dan memahami kebijakan terbaru program kesejahteraan sosial.
Ketahanan Ekonomi Harus Dibarengi Spiritual
Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga H, S.H.I., M.S.I., memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi ini. Ia menekankan bahwa kemajuan ekonomi keluarga harus sejalan dengan penguatan nilai-nilai agama.
“Kami sangat mendukung sinergi antara penyuluh dengan pendamping PKH. Ketahanan ekonomi harus dibarengi dengan ketahanan mental dan spiritual,” ujarnya.
Lebih jauh, Rangga berharap dengan meningkatnya ketakwaan usai Ramadhan, keluarga di Pengasih tidak hanya kuat secara finansial, tetapi juga memiliki jiwa yang tenang dan ridha terhadap ketetapan Allah SWT.
Antusiasme peserta terlihat sangat baik, ditandai dengan perhatian penuh saat mendengarkan materi serta aktif berkonsultasi usai kegiatan berakhir. (myid)
🌐 Penulis
🔶 Redaktur: Mawan








