
WARTA-JOGJA.COM, BANDUNG, JABAR – Karya audiovisual yang sarat makna dan inspirasi hadir melalui serial YouTube berjudul “Aku Kamu dan Suatu Hari Kita”. Produksi ini mengangkat perjalanan hidup autentik Kenneth Trevi, seorang seniman muda asal Bandung yang hidup dengan kondisi disleksia, sekaligus menawarkan perspektif baru mengenai keberagaman cara belajar dan bertumbuh.
Dalam kesempatan wawancara, Kenneth menegaskan bahwa serial ini hadir bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai narasi jujur yang memadukan kedalaman emosi dengan pendekatan sinematik yang hangat dan realistis. Melalui cerita ini, penonton diajak untuk memahami bahwa setiap individu memiliki ritme, proses, dan makna kehidupan yang unik dan berharga.
Tantangan Teknis dan Kedalaman Emosi
Proses produksi bukan tanpa tantangan. Kenneth mengakui adanya hambatan signifikan saat harus menghafal dan menyampaikan dialog panjang akibat kondisi disleksia yang dimilikinya. Kesulitan dalam merangkai struktur kalimat dan mempertahankan makna menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah.
“Kami memecah dialog menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dipahami. Dukungan ibu sangat besar dalam membangun kepercayaan diri saya untuk bisa tampil dan menyampaikan peran dengan baik,” ujar Kenneth.
Ujian terberat justru datang dari sisi emosional saat ia harus beradu akting dengan ibunya sendiri, Yuly (Li Ling). Melihat sosok ibunya yang menangis dalam adegan menimbulkan rasa sedih dan bersalah yang mendalam, meski sadar bahwa itu adalah bagian dari seni peran. Namun, dinamika ini justru memperkaya kualitas akting dan keaslian cerita yang disajikan.
Kolaborasi yang Menguatkan Karakter
Kerjasama dengan ibunya menciptakan kenyamanan tersendiri. Yuly tidak hanya berperan sebagai lawan main, tetapi juga sebagai pembimbing yang membantu Kenneth memahami emosi melalui pengalaman nyata, mengingat keterbatasannya dalam memahami konsep abstrak.
Pesan utama yang ingin disampaikan sangat kuat: perbedaan bukanlah kekurangan. Kenneth ingin menyuarakan bahwa setiap orang memiliki cara berkembang yang khas dan tidak perlu terburu-buru.
“Jangan pernah menyerah. Setiap proses yang kita jalani akan membawa kita lebih dekat pada impian di ‘suatu hari’ nanti,” tegasnya.
Refleksi Perjalanan dan Ciptaan Lagu
Dari sudut pandang Yuly, proses ini merupakan perjalanan kembali mengingat masa-masa penuh keraguan, kelelahan, dan ketidakpastian dalam mendidik Kenneth. Namun, di balik itu semua, terdapat rasa syukur yang mendalam melihat pertumbuhan dan kekuatan yang kini dimiliki anaknya.
Sebagai bentuk ekspresi perasaan tersebut, Yuly bersama Rulli Aryanto menciptakan lagu tema dengan judul yang sama, “Aku Kamu dan Suatu Hari Kita”. Lagu ini lahir dari pertanyaan akan waktu yang tak pasti, hingga menemukan jawaban dalam keyakinan akan masa depan.
Visi Produksi dan Sinematografi
Produser, Rulli Aryanto, memiliki visi besar untuk menjadikan serial ini sebagai wadah berkelanjutan yang menampung kisah anak-anak berkebutuhan khusus. Serial ini direncanakan rilis dua sesi setiap tahunnya, dengan tiga episode per sesi, di bawah naungan TemanHebat Records dan SENADA Digital Records.
Secara teknis, kualitas visual diperkuat dengan pengambilan lokasi di berbagai tempat bersejarah dan edukatif di Bandung serta Cirebon. Di bawah arahan sutradara Bayu Lesmana, cerita disajikan dengan keseimbangan antara nilai hiburan, edukasi, dan kedalaman emosi yang mampu menjangkau berbagai kalangan.
Serial “Aku Kamu dan Suatu Hari Kita” hadir sebagai pengingat akan arti proses, keberanian, dan harapan dalam menjalani kehidupan.
Tonton serial lengkapnya di sini:
https://youtube.com/playlist?list=PLoajZXAvFJHolsh3WUYTT70baKntYuWQS&si=OSI9nKih11q9hl0o
🌐 Dilaporkan (Muhammad Fadhli)

🔴 Redaktur : Mawan








