
DEPOK, JABAR || WARTA-JOGJA COM – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menghadiri sidang terbuka promosi doktor Luluk Nur Hamidah di Ruang Auditorium Juwono Sudarsono, Gedung F Lantai 2 FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Selasa (6/7/2026). Dalam kesempatan itu, Viva Yoga menyatakan pola penyebaran kader Nahdlatul Ulama ke berbagai kekuatan politik memiliki kemiripan persis dengan apa yang terjadi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Pernyataan itu disampaikan saat mendampingi sahabat lamanya sesama aktivis mahasiswa tersebut mempertahankan disertasi berjudul “Dinamika Arena Politik Nahdlatul Ulama di Solo Raya: Interrelasi, Kontestasi Elite, dan Transformasi Masa Depan 2045” pada pukul 14.00 WIB.
Luluk Nur Hamidah adalah politisi Partai Kebangkitan Bangsa kelahiran Jombang, Jawa Timur. Sidang dipimpin tim penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Dody Prayogo, MPSt., Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA., Dr. Panji Anugrah Permana, MSI., Prof. Dr. Indera Ratna Irawati, MA., serta Dr. Sulastri, M.Si.
Viva Yoga menilai sidang tersebut sangat berharga dan memunculkan pandangan baru dalam kajian keumatan serta perpolitikan nasional. Salah satunya adalah penjelasan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj mengenai makna santri dan abangan yang berbeda dengan pemahaman umum maupun konsep yang dikemukakan Clifford Geertz.
Hal lain yang menarik perhatian Viva Yoga adalah metafora buah semangka dalam disertasi tersebut gambarkan keragaman pilihan politik warga NU:
“Luarnya berwarna hijau sebagai simbol NU dan Islam, namun ketika dibelah isinya berwarna-warni: ada merah, kuning, putih, biru, dan lain-lain. Ini membuktikan warga NU tidak terkumpul dalam satu wadah partai saja,” ujarnya.
Kenyataan itu terlihat jelas dari banyaknya tokoh NU di berbagai partai, termasuk Partai Amanat Nasional. “Sebut saja Slamet Ariyadi anggota DPR Dapil Madura yang merupakan Ketua Umum IKA PMII, maupun Aqib perwakilan Jawa Tengah,” contoh Viva Yoga.
Kondisi serupa, lanjutnya, berlaku pula bagi kader HMI.
“Pola persis sama: luarnya hijau, di dalamnya beragam warnanya. Seluruh partai yang ada saat ini pasti menampung kader HMI,” tegasnya.
Penyebaran kader NU, HMI, dan ormas Islam besar lainnya ke berbagai organisasi politik justru membuktikan lembaga-lembaga tersebut berperan sebagai pencetak kader umat sekaligus kader bangsa. “Mengenai konsep kader umat dan kader bangsa di HMI, saya sendiri telah menuangkannya dalam bentuk buku,” tambahnya.
Kehadiran Viva Yoga pada sidang ini selain memberikan dukungan moral bagi Luluk Nur Hamidah-kawan seperjuangannya saat sama-sama aktif di organisasi kemahasiswaan, Viva Yoga di HMI dan Luluk di PMII—juga mengapresiasi nilai penting hasil kajian tersebut.
“Disertasi ini kelak akan memperkaya khazanah pemikiran kita mengenai politik berbasis kemasyarakatan dan kebangsaan dari perspektif ilmu sosial politik,” pungkasnya.

🔵 Redaktur : Mawan
(Penulis: Wajiyo/Yulius)









