WARTA-JOGJA.COM, KULON PROGO, DIY – Nilai tauhid, penghormatan kepada orang tua, kedisiplinan beribadah, kepedulian sosial, kesabaran, kerendahan hati, dan kesederhanaan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter anak. Nilai-nilai tersebut menjadi pokok pembahasan Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Pengasih, Luazizah, S.H.I., saat mengisi pengajian rutin di Mushola Baitul Ulum, SD Negeri 1 Pengasih, Kulon Progo, Jumat (2/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Luazizah menyampaikan materi bertema “8 Nasihat Luqmanul Hakim yang Harus Diterapkan untuk Anak dan Keluarga”. Materi yang merujuk pada Surah Luqman ayat 13–19 itu menekankan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam menanamkan nilai keagamaan sekaligus membangun karakter anak sejak usia dini.
Pengajian rutin tersebut diikuti oleh Plt. Kepala SD Negeri 1 Pengasih, Emi Sudarmiyati, S.Pd., Ketua Komite Sekolah Dwi Bima Kastawa, jajaran dewan guru dan karyawan, serta para wali murid siswa-siswi SD Negeri 1 Pengasih.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi lintas sektoral antara KUA Pengasih, satuan pendidikan, dan keluarga dalam pembinaan keagamaan. Kolaborasi tersebut dinilai penting karena pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga harus mendapatkan penguatan secara konsisten di lingkungan keluarga.
Ketua Komite SD Negeri 1 Pengasih, Dwi Bima Kastawa, dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pembentukan karakter anak membutuhkan keterlibatan bersama antara sekolah dan orang tua.
Pendidikan yang diberikan kepada anak, kata dia, tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Nilai-nilai agama dan keteladanan dalam keluarga juga memiliki peran penting dalam membentuk sikap, perilaku, serta kepribadian anak dalam kehidupan sehari-hari.
Memasuki sesi utama, Luazizah menguraikan delapan nasihat Luqmanul Hakim yang dapat menjadi pedoman bagi orang tua dalam mendidik anak. Nasihat tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga menyangkut hubungan dengan orang tua dan masyarakat.
Pertama, tidak menyekutukan Allah atau la tusyrik billah. Luazizah menekankan pentingnya menanamkan tauhid dan akidah yang lurus sejak dini. Nilai tersebut menjadi fondasi agar anak memiliki pegangan dalam menentukan sikap dan menjalani kehidupan.
Kedua, berbakti kepada kedua orang tua. Anak perlu dibiasakan untuk menghormati, menyayangi, dan berbuat baik kepada ibu dan bapaknya. Sikap hormat kepada orang tua menjadi salah satu bentuk pendidikan akhlak yang perlu ditanamkan melalui keteladanan dan pembiasaan di lingkungan keluarga.
Ketiga, membangun kesadaran bahwa setiap perbuatan berada dalam pengawasan Allah SWT atau muraqabatullah. Kesadaran tersebut diharapkan dapat membentuk kontrol diri pada anak, sehingga ia memahami bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi moral, baik dilakukan secara terbuka maupun ketika tidak diketahui orang lain.
Keempat, mendirikan salat. Pembiasaan salat sejak usia dini menjadi bagian penting dalam membangun kedisiplinan sekaligus memperkuat hubungan spiritual anak dengan Allah SWT. Salat juga dipahami sebagai salah satu sarana membentuk perilaku yang terarah dalam kehidupan sehari-hari.
Kelima, menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Anak diajak memiliki kepedulian terhadap lingkungan dengan membiasakan diri mengajak kepada kebaikan dan menjauhi perbuatan yang tidak baik. Nilai ini sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Keenam, membangun sikap sabar. Kesabaran menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi berbagai tantangan dan proses kehidupan. Dengan sikap sabar, anak diharapkan mampu menghadapi kesulitan secara lebih tenang, tidak mudah menyerah, serta belajar mengambil pelajaran dari setiap pengalaman.
Ketujuh, menjauhi sikap angkuh dan sombong. Luazizah mengingatkan pentingnya menanamkan sikap tawadu atau rendah hati. Kerendahan hati menjadi bagian dari akhlak yang dapat membentuk kemampuan anak untuk menghargai orang lain tanpa merasa lebih tinggi dibandingkan sesamanya.
Kedelapan, menerapkan kesederhanaan. Anak perlu dibiasakan menjalani kehidupan secara proporsional dan tidak berlebihan. Kesederhanaan mencakup cara bersikap, berjalan, berbicara, berpakaian, hingga menggunakan rezeki yang dimiliki.
Delapan nasihat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter dalam perspektif keagamaan memiliki cakupan yang luas. Pembentukan karakter tidak hanya berkaitan dengan kemampuan anak memahami pengetahuan agama, tetapi juga bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam perilaku sehari-hari.
Materi yang disampaikan juga memiliki relevansi dengan tantangan pengasuhan anak di tengah perkembangan teknologi dan era digital. Orang tua tidak hanya dituntut memberikan pengawasan, tetapi juga perlu membangun fondasi nilai agar anak memiliki kemampuan membedakan perilaku yang baik dan tidak baik serta mampu mengendalikan diri.
Suasana pengajian berlangsung khidmat dan interaktif. Para wali murid mengikuti pemaparan materi dengan antusias. Kehadiran orang tua dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting karena penguatan karakter anak membutuhkan kesinambungan antara nilai yang diperoleh di sekolah dengan pembiasaan yang dilakukan di rumah.
Kepala KUA Pengasih, Yusma Alam Rangga H, S.H.I., M.S.I., secara terpisah memberikan apresiasi terhadap kegiatan pembinaan keagamaan yang melibatkan lingkungan pendidikan tersebut. Ia menilai sinergi antara lembaga keagamaan, sekolah, guru, komite, dan orang tua perlu terus diperkuat.
Menurut Rangga, pendidikan karakter pada usia sekolah dasar merupakan bagian penting dalam membangun fondasi kepribadian anak. Karena itu, KUA Pengasih melalui penyuluh agama terus mendorong keterlibatan dalam kegiatan pembinaan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, termasuk lingkungan pendidikan.
“KUA Pengasih melalui para penyuluh agama siap hadir dan bersinergi dengan sekolah-sekolah maupun komite dalam membentengi generasi muda dengan nilai-nilai akhlakul karimah yang bersumber dari Al-Qur’an, seperti yang diajarkan Luqmanul Hakim kepada anaknya,” ujar Rangga.
Melalui pengajian rutin tersebut, sinergi antara KUA Pengasih, SD Negeri 1 Pengasih, komite sekolah, guru, dan wali murid diharapkan dapat terus berkembang. Kolaborasi tersebut menjadi ruang bersama untuk memperkuat pendidikan keagamaan sekaligus membangun karakter anak yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan sosial, serta landasan moral dan spiritual.
Dengan menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam nasihat Luqmanul Hakim sebagai bagian dari pembiasaan sehari-hari, pendidikan karakter diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi dapat diwujudkan melalui keteladanan dan praktik nyata di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Penulis
Redaktur: Mawan

