WARTA-JOGJA.COM, SLEMAN, DIY – Puluhan anak usia dini mengikuti Kemah Lestari ke-20 dengan tema “Berani Melangkah, Siap Berpetualang” di halaman TK Rumahku Tumbuh, Padukuhan Jomblang, Kalurahan Sendangadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 3–4 Oktober 2026. Kegiatan tahunan Akar Tumbuh Melati tersebut dirancang sebagai sarana pembelajaran bagi anak untuk mengenal kemandirian, kerja sama, kedisiplinan, keberanian, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap alam sejak usia dini.
Berbeda dari kegiatan pembelajaran sehari-hari, Kemah Lestari memberikan pengalaman kepada anak-anak untuk menginap di alam terbuka tanpa didampingi orang tua. Mereka tidur bersama dalam tenda dengan alas karpet dan selimut tipis, tetapi tetap berada dalam pendampingan para guru, pengasuh, pendamping Pramuka, serta relawan. Rangkaian kegiatan dikemas dalam suasana edukatif dan menyenangkan melalui upacara pembukaan, pertunjukan sulap, permainan outbound, pentas seni, api unggun, hingga kegiatan menginap.
Kegiatan ini diikuti siswa PAUD KB Melati bersama para guru dan pendamping. Hadir pula sejumlah tamu undangan, antara lain Carik Sendangadi Parjiyana, S.Sos., Kamitua Banar Wardaya, S.Pd., yang didaulat menjadi pembina upacara, Babinkamtibmas Sendangadi Edy Setiyawan, tokoh masyarakat setempat, serta sekitar 30 relawan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang.
Upacara pembukaan berlangsung tertib dan khidmat. Prosesi dilanjutkan dengan penyematan tanda kepada perwakilan siswa oleh pembina upacara, kemudian diikuti kegiatan flashmob yang melibatkan peserta dan pendamping.

Mengajarkan Keberanian Sejak Dini
Tema “Berani Melangkah, Siap Berpetualang” menjadi gambaran utama tujuan Kemah Lestari. Anak-anak diajak keluar sejenak dari rutinitas bersama keluarga untuk merasakan pengalaman baru yang secara bertahap membangun keberanian dan rasa percaya diri.
Bagi anak usia sekitar 2 hingga 3,5 tahun, tidur di dalam tenda tanpa orang tua tentu menjadi pengalaman yang berbeda. Anak yang dalam kesehariannya terbiasa tidur bersama ayah dan ibu harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, berbagi ruang dengan teman-teman, serta mengikuti aturan sederhana selama kegiatan berlangsung.
Pendiri PAUD KB Melati, Septiyati Purwandari, M.Pd., mengatakan Kemah Lestari biasanya diselenggarakan pada semester kedua, ketika anak-anak dinilai telah lebih terbiasa dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Namun, pada tahun ini, pihaknya mencoba melaksanakan kegiatan tersebut pada semester awal sebagai bagian dari upaya memberikan pengalaman kemandirian sejak dini.
“Kemah Lestari biasa kami lakukan di semester dua setelah anak-anak terbiasa dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru di sekolah. Tetapi kali ini kami mencoba melaksanakan program tahunan di semester awal, dengan risiko nanti malam akan ada yang rewel memanggil-manggil ibu atau ayahnya,” ujar Septiyati sambil tersenyum.
Kekhawatiran tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran. Anak diberi kesempatan untuk menghadapi rasa rindu kepada orang tua, mengelola ketidaknyamanan, dan belajar mencari rasa aman melalui keberadaan guru, pendamping, serta teman-temannya.
Siap Berpetualang di Alam Terbuka
Setelah menjalani berbagai aktivitas pada siang hari, anak-anak mengikuti kegiatan outbound yang dirancang untuk melatih ketangkasan, keberanian, koordinasi, serta kemampuan bekerja sama. Permainan dikemas sesuai karakteristik anak usia dini sehingga unsur belajar tetap berjalan dalam suasana bermain.
Ketika malam tiba, suasana Kemah Lestari semakin meriah. Anak-anak menikmati api unggun dan menyaksikan sekaligus mengikuti pentas seni yang dipersiapkan oleh mereka. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak untuk tampil, mengekspresikan diri, membangun kepercayaan diri, dan menghargai penampilan teman-temannya.
Setelah rangkaian kegiatan malam selesai, anak-anak kembali ke tenda untuk beristirahat. Dinginnya malam musim kemarau tidak menghalangi mereka menikmati pengalaman tidur di alam terbuka.
Bagi sebagian anak, malam tersebut mungkin menjadi pengalaman sederhana. Namun, bagi proses tumbuh kembang mereka, pengalaman tidur jauh dari orang tua, mengikuti kegiatan bersama teman, menjaga barang pribadi, dan mengikuti arahan pendamping merupakan latihan kemandirian yang bermakna.

Kolaborasi Guru, Orang Tua, Pramuka, dan Relawan
Kemah Lestari tidak hanya menjadi kegiatan anak-anak. Di balik berlangsungnya kegiatan tersebut terdapat kolaborasi antara guru, orang tua atau wali murid, pendamping Pramuka, relawan mahasiswa, tokoh masyarakat, dan berbagai pihak yang memberikan dukungan.
Para guru dan pendamping menghadapi tantangan yang berbeda setiap tahun karena peserta Kemah Lestari selalu berganti. Setiap angkatan menghadirkan karakter, kebutuhan, dan pengalaman yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan pendampingan yang juga tidak selalu sama.
Kehadiran sekitar 30 relawan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang turut memberikan dukungan dalam pelaksanaan kegiatan. Para relawan bersama guru dan pendamping membantu memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan tetap menyenangkan bagi anak-anak.
Septiyati mengaku bangga terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Saya bangga dengan mereka semua, anak-anak, para orang tua, wali murid, para guru, pendamping Pramuka, relawan, dan semua pihak yang telah mendukung, membantu, serta memberikan support sehingga agenda rutin Kemah Lestari ini dapat terwujud dan berjalan lancar. Mereka semua luar biasa,” ungkapnya.

Dari Gotong Royong hingga Kemandirian Lembaga
Menurut Septiyati, perjalanan Kemah Lestari juga memiliki cerita tersendiri. Sebelum memiliki tempat sendiri, penyelenggara harus mencari lokasi yang dapat digunakan untuk kegiatan kemah, termasuk mengupayakan tempat yang dapat diperoleh tanpa biaya.
Baginya, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlangsungan program tersebut.
«“Saya terharu karena sebelum kami punya tempat di sini, setiap kali tiba saat agenda kemah, kami mencari tempat yang kalau bisa gratis. Begitu juga dalam penyelenggaraannya. Tuhan selalu mengabulkan doa dan permohonan kita. Selalu saja ada yang berbaik hati menawarkan tempat,” tuturnya.»
Fasilitas kegiatan pun banyak diperoleh melalui swadaya dan gotong royong para orang tua serta wali murid. Semangat kebersamaan tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam menjaga keberlanjutan Kemah Lestari dari tahun ke tahun.
Kemah Lestari akhirnya tidak sekadar menjadi kegiatan menginap bagi anak usia dini. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama yang mempertemukan anak, keluarga, guru, relawan, masyarakat, dan pendamping dalam satu pengalaman pendidikan.
Menumbuhkan Kemandirian Sejak Usia Dini
Pelaksanaan Kemah Lestari ke-20 menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini dapat dikembangkan melalui pengalaman langsung. Anak tidak hanya belajar melalui aktivitas di dalam kelas, tetapi juga melalui interaksi dengan lingkungan, permainan, kebersamaan, serta pengalaman menghadapi situasi baru.
Melalui kegiatan tersebut, anak belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar. Berani berpisah sementara dari orang tua, berani tidur di tenda, berani bermain bersama teman, berani tampil di depan orang lain, serta berani mencoba permainan baru merupakan langkah-langkah kecil yang dapat membentuk kemandirian.
Di tengah kesibukannya sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Magelang, Septiyati tetap meluangkan waktu untuk mendampingi pengembangan Day Care TPA Rumahku Tumbuh, KB Melati, dan TK Rumahku Tumbuh.
Lembaga-lembaga tersebut terus berkembang secara bertahap melalui proses panjang, kolaborasi, dan dukungan berbagai pihak.
Kemah Lestari ke-20 pun menjadi penanda perjalanan yang bukan hanya berbicara tentang berapa lama sebuah kegiatan telah berlangsung, tetapi juga tentang nilai-nilai yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya: keberanian untuk melangkah, kesiapan menghadapi pengalaman baru, kemandirian, kerja sama, disiplin, serta kepedulian terhadap alam dan sesama.
Dengan semangat “Berani Melangkah, Siap Berpetualang”, anak-anak PAUD KB Melati belajar bahwa setiap petualangan besar dapat dimulai dari sebuah langkah kecil-termasuk keberanian untuk tidur di dalam tenda tanpa ayah dan ibu di samping mereka.

Redaktur: Mawan

