WARTA-JOGJA.COM, GUNUNGKIDUL, DIY – Kolaborasi Sanggar Seni Budaya Saraswati dan Sanggar Mendak menghadirkan pentas seni tari yang meriah di lapangan sepak bola Kalurahan Kwarasan Tengah, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Jumat (2/10/2026) malam. Pertunjukan yang melibatkan anak-anak dari jenjang PAUD, SD hingga SMP tersebut menjadi momentum untuk melatih keberanian dan mental tampil sekaligus memperkuat upaya pelestarian seni dan budaya tradisional di tengah masyarakat.
Pentas seni tersebut tidak sekadar menjadi ruang apresiasi masyarakat terhadap seni tari, tetapi juga menjadi ungkapan rasa syukur atas perkembangan Sanggar Seni Budaya Saraswati dalam menjalankan aktivitas kesenian di Kapanewon Nglipar, khususnya di Kalurahan Kwarasan Tengah.
Kegiatan berlangsung meriah dengan disaksikan ratusan penonton. Hadir pula masyarakat setempat, unsur pemerintahan dan keamanan, jajaran kepala dukuh, serta Kapolsek Nglipar.
Kolaborasi dua sanggar tersebut memiliki keunikan tersendiri karena keduanya diasuh oleh kakak beradik. Sanggar Seni Budaya Saraswati diasuh Fitra Anjaryani, S.Sn., sedangkan Sanggar Mendak diasuh adik kandungnya, Fitri Bima Asih, S.Sn.
Kolaborasi tersebut dipersiapkan secara bersama-sama selama kurang lebih satu bulan. Persiapan yang dilakukan secara intensif menghasilkan pertunjukan yang menampilkan beragam tari tradisional dengan melibatkan peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan.
Dalam pementasan, para penari cilik tampil dengan penuh percaya diri. Mereka membawakan sejumlah tarian dengan gerakan yang dinamis dan lentur, berpadu dengan irama musik pengiring sehingga mampu menarik perhatian ratusan penonton.
Sejumlah tarian yang ditampilkan meliputi Tari Saman, Tari Suro Samparan, Tari Gendewo Dibyo, Tari Nawung Sekar, Tari Sekar Pangesti, Tari Caping Ayu, Tari Sintren, Tari Angin Mamiri, Tari Hanurogo, dan Tari Ayun-Ayun.
Keragaman repertoar tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran di kedua sanggar tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknik tari. Lebih dari itu, pembelajaran diarahkan untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap kekayaan seni dan budaya tradisional.
Bagi para peserta didik, kesempatan tampil di hadapan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter. Mereka tidak hanya belajar menguasai gerakan tari, tetapi juga dilatih untuk disiplin, bekerja sama, bertanggung jawab, serta memiliki keberanian tampil di ruang publik.
Momentum tersebut sekaligus menjadi sarana regenerasi pelaku seni. Pengenalan kesenian sejak usia dini diharapkan mampu menumbuhkan generasi yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan budaya tradisional di tengah perkembangan zaman.
Fitra Anjaryani menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan serta dukungan sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan lancar dan meriah.
Menurutnya, dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam keberlangsungan kegiatan sanggar, terutama dalam memberikan ruang kepada anak-anak untuk terus berlatih dan menampilkan hasil kreativitas mereka kepada masyarakat.
Kolaborasi antara Sanggar Saraswati dan Sanggar Mendak juga memperlihatkan kuatnya peran keluarga dan komunitas dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional. Hubungan kakak beradik yang menjadi pengelola kedua sanggar tersebut berkembang menjadi kerja sama dalam menciptakan ruang pembelajaran seni bagi generasi muda di Kwarasan Tengah dan sekitarnya.
Kegiatan tersebut juga menegaskan bahwa sanggar seni memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat berlatih dan mempertunjukkan karya. Sanggar dapat menjadi ruang pendidikan nonformal yang membantu anak-anak mengenal budaya, membangun kedisiplinan, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan kepercayaan diri.
Dukungan terhadap sarana dan prasarana latihan menjadi salah satu faktor penting agar proses pembelajaran seni dapat berlangsung secara optimal. Dengan fasilitas yang memadai dan hubungan yang baik antara kedua sanggar, aktivitas pembinaan anak-anak diharapkan semakin berkembang dan berkesinambungan.
Pentas seni di Kwarasan Tengah pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertunjukan. Kegiatan tersebut mempertemukan apresiasi masyarakat, pembinaan anak-anak, kolaborasi keluarga dan komunitas, serta komitmen bersama untuk menjaga seni tradisional agar tetap hidup dan berkembang.
Melalui pentas tersebut, Sanggar Seni Budaya Saraswati dan Sanggar Mendak menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan masyarakat melalui proses pembelajaran yang konsisten dan memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus mengembangkan warisan budaya leluhur.

Redaktur: Mawan

