
GUNUNGKIDUL, DIY || WARTA-JOGJA.COM – Syawalan menjadi momentum luar biasa bagi ikatan perantau yang berada di Yogyakarta, Magelang dan Jakarta. Pada kesempatan liburan hari Raya Idul Fitri 1446 H tahun 2025 mereka bisa mudik, bertatap muka menciptakan keharmonisan sosial, mempererat silaturahmi, barbagi kebahagiaan dan saling memaafkan. Acara Syawalan berlangsung di Balai Padukuhan Brongkol, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (01/04/2025).
Hadir dalam acara tersebut Pimpinan Kalurahan Purwodadi Lurah Sagiyanto, Danarta, Pemangku wilayah (Dukuh) 4 Padukuhan (Padukuhan Brongkol, Padukuhan Grotan, Padukuhan Kenis dan Padukuhan Jimatan), Ketua RT, Ketua RW, tokoh Agama, tokoh budaya, para perantau 4 Padukuhan dan tokoh masyarakat.
Acara syawalan dimulai pukul 13.00 WIB berlangsung meriah ada momen sharing session, kembul bujono dilanjutkan pentas kesenian.
Dalam pidatonya Ketua Perantau Yogyakarta, Suratno menyampaikan, momen kebersamaan ini merupakan program mulia dari saudara perantau sehingga di tahun 2025 bisa menyelenggarakan kegiatan Istimewa,
“Kegiatan syawalan tahun 2025 kali ini Purwa Madya Wusana Alhamdulilah berjalan lancar,” paparnya.
Dijelaskan lebih lanjut Suwardiyo selaku penggagas kegiatan syawalan tahun 2025 bahwa tema dalam acara pada hari ini bertajuk ‘GUYUB RUKUN SELAWASE’, mempunyai makna yang indah,
“Yang di mana selain mempererat silaturahmi bersama perantau juga bisa menjalin persaudaraan selamanya bersama masyarakat empat padukuhan, terlebih pada kesempatan yang berbahagia ini kita bisa menghadirkan Pak Ustadz Drs. Sugeng Wibowo, M.S.i,” terangnya.
Lurah Sagiyanto sangat mengapresiasi adanya ide maupun gagasan terkait dengan kegiatan syawalan dalam rangka merayakan hari raya Idul Fitri 1446 H tahun 2025 bersama masyarakat empat Padukuhan,
“Acara pada hari ini sangat luar biasa, masyarakat bersama perantau 4 Padukuhan bisa kompak dan bisa bekerjasama dengan baik,” jelasnya.
Selesai melaksanakan syawalan pihak perantau Yogyakarta, Magelang dan Jakarta mengadakan kegiatan bakti sosial memberikan santunan kepada kaum duafa dan anak yatim.
Kemudian dilanjutkan acara seremonial sarasehan dengan melakukan dialog (sharing session), berbincang bersama tokoh masyarakat empat Padukuhan. Mereka membahas sehubungan dengan program adanya jalur alternatif menuju pantai melawati akses jalan Padukuhan Grotan.
Mereka berharap dengan adanya difungsikannya jalan alternatif tersebut bisa membawa dampak positif bagi masyarakat empat Padukuhan, bisa menumbuhkan pemberdayaan di bidang usaha dagang, mengangkat UMKM, menumbuhkan ekonomi lokal bisa mensejahterakan masyarakat.
Suasana hangat dan kesatuan bisa dirasakan ketika mereka dalam mengisi acara sharing session bisa terbangun chemistry yang baik, mereka bisa saling memberikan, melengkapi ide gagasan. Pada kesempatan itu juga dihadiri Ketua KALBU (Pemerhati seni) Muh Sukamto yang merupakan tokoh agama, ketua perantau (Yogyakarta, Magelang dan Jakarta).
Di dalam pembahasan mereka membedah buku Sejarah Asal Mula Berdirinya Gerotan (TIJITIBEH/Mukti Siji Mukti Kabeh) penulis Noviyanto Eko P.,S.E,
Menanggapi acara sharing session bedah Sejarah Asal Mula Berdirinya Gerotan, Endro Cahyono, A Md selaku akses Budaya Purwodadi menyampaikan, terkait Sejarah Gerotan, nanti perlunya revisi baik foto sebagai dokumentasi menyinkronkan portofolio yang ada.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Noviyanto yang telah andil dalam pembuatan buku Sejarah Gerotan yang di mana beliau juga sebagai kreator, penulis buku sejarah. Semoga dengan adanya terobosan ini buku bisa memberikan manfaat bagi masyarakat lokal Purwodadi secara luas bisa diketahui seluruh masyarakat Gunungkidul dan sekitarnya,” ujarnya.
Terkait dengan Seni Karawitan, “Alhamdhulilah banyak potensi seni yang kita miliki terutama kesenian anak-anak serta remaja. Harus kita pompa, kita motivasi agar ada penerus terutama seni budaya khususnya Seni Karawitan yang mempunyai nilai Adi Luhung,” terang Endro.
Selain itu Endro mengatakan Sejarah Asal Mula Berdirinya Gerotan merupakan bagian dari peninggalan nenek moyang, secara turun temurun sehingga bisa kita ketahui bersama menjadi sebuah tradisi salah satunya merupakan kegiatan syawalan.
“Maka dengan adanya syawalan ini diharapkan bisa menjadi acuan bahkan cambuk untuk menjalin persaudaraan, kebersamaan yang terus terjalin bersama masyarakat empat Padukuhan sampai regenerasi berikutnya. Semoga kedepan Insya Allah nilai history ini segera mungkin bisa kita Launcing, disandingkan dan bisa bekerjasama dengan Kundha Kabudayan Kabupaten Gunungkidul,” tandasnya.
Selesai acara sharing session dilanjutkan Pagelaran Wayang Kulit Ki Dalang Parino Darmono dari Padukuhan Gerotan.













