WARTA-JOGJA.COM || GUNUNGKIDUL, DIY – Ancaman krisis air bersih kembali menghantui masyarakat Kabupaten Gunungkidul seiring memanjangnya musim kemarau tahun ini. Salah satu wilayah yang paling terdampak parah adalah Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, di mana layanan distribusi air bersih melalui jaringan PDAM Tirta Handayani telah berhenti berfungsi sepenuhnya selama tiga bulan terakhir.
Kondisi ini dirasakan secara merata di seluruh 19 padukuhan yang ada di wilayah Purwodadi, termasuk di Padukuhan Ngande-Ande. Warga yang seharusnya sudah terlayani sistem perpipaan resmi kini terpaksa mencari jalan lain demi memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga, yaitu membeli air bersih melalui layanan pengiriman tangki keliling.
Sumawan, salah satu warga Padukuhan Ngande-Ande, menyampaikan keluh kesahnya terkait sulitnya mendapatkan air bersih,
“Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir saja, keluarga kami sudah menghabiskan pembelian air sebanyak delapan tangki. Jika dibandingkan dengan data tahun lalu, sepanjang satu musim kemarau 2025 kami rata-rata harus membeli hingga 15 tangki air,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa gangguan aliran air dari jaringan PDAM Tirta Handayani di wilayahnya sudah terjadi sejak tiga bulan silam dan hingga kini belum ada perbaikan yang nyata. Padahal, ketersediaan air bersih merupakan hak dasar setiap warga negara serta tanggung jawab pelayanan publik yang diamanatkan kepada pihak penyelenggara.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai keandalan infrastruktur air bersih di wilayah Gunungkidul, terutama menghadapi perubahan iklim yang membuat musim kemarau semakin panjang dan tidak menentu. Warga berharap pihak berwenang maupun pengelola PDAM segera melakukan evaluasi menyeluruh serta memberikan solusi berkelanjutan, bukan sekadar menunggu keluhan muncul di tengah krisis.


