
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X (foto Olivia Rianjani)
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi sorotan warganet dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah unggahan di media sosial mempertanyakan kecukupan gizi hingga kesesuaian anggaran dari paket makanan yang dibagikan kepada siswa.
Dalam unggahan yang beredar sejak Senin 23 Februari 2026, sejumlah foto memperlihatkan variasi menu MBG di beberapa wilayah Yogyakarta. Paket makanan yang dibagikan antara lain roti, jeruk, susu UHT, kurma, kacang, hingga telur. Sehari berikutnya, muncul lagi unggahan yang menampilkan menu di salah satu SMA di kawasan Wirobrajan, Kota Yogyakarta, berupa roti, jeruk, dan risoles mayo.
Unggahan tersebut memantik perdebatan publik. Warganet mempertanyakan apakah komposisi makanan yang diberikan telah memenuhi standar gizi serta sesuai dengan alokasi anggaran program.
Menanggapi polemik tersebut, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menyatakan telah meminta evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.
“Saya sudah meminta Sekda untuk memanggil penanggung jawab MBG, karena ada sejumlah pihak yang protes. Sepertinya materi atau kurang pas,” ujar Sultan saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kamis (26/2/2026).
Menurut Sultan, evaluasi diperlukan agar pelaksanaan program tidak menimbulkan asumsi negatif di masyarakat. Ia menegaskan, akuntabilitas harus menjadi perhatian utama, baik dari sisi kandungan gizi maupun transparansi harga setiap komponen menu.
“Jadi kami mengajukan syarat, tidak sekadar anggapannya ini harganya tidak Rp10.000. Harapannya, menu tersebut diperbaiki, termasuk kejelasan harganya. Dan mereka menyetujui hal tersebut. Misalnya, jika diberikan pisang, harus jelas berapa harganya supaya clear. Itu kesimpulannya,” tegasnya.
Sultan menjelaskan, rincian harga dan komposisi menu perlu disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan kecurigaan publik.
“Sehingga, tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat semua pihak merasa tidak nyaman. Itu saja,” pungkas Ngarsa Dalem.

🟢 Redaktur: Mawan












