WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Belakangan ini, kasus dugaan bunuh diri yang melibatkan anak-anak dan remaja menjadi perhatian serius masyarakat. Dalam sebulan terakhir, setidaknya empat insiden serupa terjadi di Sumatera Barat dan Jawa Barat, memicu keprihatinan luas. Fenomena ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda, terutama Generasi Alpha, yakni anak-anak yang lahir antara 2010 hingga 2024.
Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) Universitas Gadjah Mada, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog, menyebut meningkatnya kasus bunuh diri pada anak sebagai “alarm darurat” yang menuntut tindakan cepat dari seluruh elemen masyarakat.
“Ini sudah semacam wake-up call yang harus membuat semua pihak waspada. Anak tidak hanya perlu sejahtera secara prestasi, tetapi juga secara mental,” ujar Nurul, Kamis (13/11/2025).
Menurut Nurul, karakter unik generasi Alpha membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan psikologis. Mereka tumbuh di tengah dunia digital, terpapar informasi secara masif, dan intens berinteraksi di dunia maya. Kondisi ini membuat anak-anak akrab dengan teknologi, namun berisiko mengalami kelelahan emosional lebih dini.
“Mereka berpotensi terjebak dalam tekanan mental yang berat, sementara kemampuan pengelolaan pikirannya belum matang. Kombinasi ini bisa berujung pada tindakan ekstrem,” jelasnya.
Nurul juga menekankan tantangan besar dalam mencegah depresi pada generasi ini, termasuk rendahnya literasi kesehatan mental di kalangan orang tua dan guru. Banyak orang dewasa yang belum mampu mengenali tanda awal gangguan psikologis, sehingga deteksi dini jarang terjadi. Kurangnya komunikasi empatik antara orang tua dan anak juga memperburuk kondisi.
“Kurangnya dialog yang suportif membuat proses pertolongan pertama psikologis tidak berjalan dengan baik,” katanya.
Selain itu, keterampilan anak dalam mengelola emosi kerap terbatas karena paparan dunia digital menggantikan peran pengasuhan langsung. Anak-anak jarang belajar mengekspresikan perasaan secara sehat, sementara perbandingan diri di media sosial dapat menimbulkan stres tambahan.
Untuk mengatasi masalah ini, Nurul menekankan peran penting keluarga dan sekolah. Di rumah, orang tua dianjurkan membatasi screen time dan menjadi “pelatih emosi” bagi anak, mencontohkan ekspresi perasaan yang sehat.
“Keluarga perlu membangun komunikasi yang suportif dan meningkatkan literasi kesehatan mental agar bisa mendeteksi tanda-tanda awal perubahan perilaku anak,” tegas Nurul.
Selain itu, sekolah disarankan membangun sistem kesehatan mental berbasis sekolah (school-based mental health system) yang fokus pada pencegahan dan promosi kesehatan mental. Guru bisa dilatih sebagai gatekeeper untuk mengenali perubahan perilaku siswa, sementara kurikulum perlu mengintegrasikan pembelajaran sosial dan emosional (SEL).
“Sekolah harus memastikan setiap anak merasa aman, terbebas dari tekanan sosial maupun perundungan,” tegasnya lagi.
Nurul berharap generasi Alpha dapat tumbuh di lingkungan yang mendukung kesehatan mental, baik di rumah, sekolah, maupun ruang digital. Pendidikan tidak hanya harus menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan emosional.
“Anak-anak perlu hidup di lingkungan yang sehat secara psikologis, memvalidasi emosi, mengajarkan literasi emosi, dan mendorong keberanian untuk meminta pertolongan ketika tidak baik-baik saja,” pungkasnya.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN













