
Proses evakuasi satu Siswa dirujuk RSA UGM (foto Olivia Rianjani)
🌐 WARTA-JOGJA.COM, SLEMAN, DIY – Sejumlah siswa dari tiga sekolah di wilayah Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, mengalami gejala diduga akibat keracunan makanan pada Jumat 24 Oktober 2025. Para siswa tersebut sebelumnya diketahui mengonsumsi lauk yang disediakan oleh penyedia makanan bergizi (SPPG) Sinduadi, Gedongan, Kabupaten Sleman.
Kepala Puskesmas Mlati 1, Isah Listiyani, mengatakan kasus ini mulai diketahui sekitar pukul 09.00 WIB setelah ada laporan dari pihak SMP Negeri 2 Mlati.
“Ada siswa yang diduga keracunan setelah mengonsumsi lauk MBG kemarin. Awalnya sekitar 50-an anak mengalami mual, sakit perut, dan lemas,” ujarnya kepada wartawan dilokasi, Jumat 24 Oktober 2025.
Isah menyebut, jumlah siswa yang datang ke Puskesmas Mlati 1 kemudian terus bertambah, termasuk dari MAN 3 Sleman dan SD Jombor Lor.
“Total ada sekitar 84 siswa yang kami tangani di puskesmas, dan satu orang dirujuk ke RSA UGM karena membutuhkan infus,” bebernya.
Ia menambahkan, sampel makanan sudah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut.

“Sampel makanan MBG kemarin dan hari ini sudah diamankan, nanti pemeriksaan akan dilanjutkan oleh Dinas Kesehatan,” kata Isah.
Menurutnya, gejala yang dialami para siswa umumnya ringan seperti mual, pusing, dan diare.
Sementara itu, Plt Panewu (Camat) Mlati, Arifin, mengatakan berdasarkan informasi yang dihimpun, total ada 214 siswa yang mengalami gejala di tiga sekolah tersebut. Namun, data resmi yang dicatat pihaknya baru mencakup siswa yang dibawa ke fasilitas layanan kesehatan.
“Yang dibawa ke puskesmas ada 90 siswa: dari MAN 3 Sleman 20 orang, SMPN 2 Mlati 55 orang, dan SD Jombor Lor 15 orang,” ujar Arifin melalui sambungan telepon.
Lanjut Arifin menyebut, seluruh sekolah tersebut mendapat menu makanan yang sama dari satu SPPG.
“Menunya sama, opor, tahu, dan acar,” jelasnya.
Arifin menambahkan, hampir semua siswa sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan obat.
“Hanya satu yang dirujuk ke RSA UGM karena kondisinya lemas dan perlu infus. Selebihnya rawat jalan,” ungkapnya.
Saat disinggung apakah kemungkinan penghentian sementara layanan dari penyedia makanan, Arifin mengatakan pihaknya menunggu hasil asesmen dari pihak berwenang.
“Biasanya kalau sudah seperti ini, nanti akan ada asesmen dari pihak BGN. Kalau memang harus disuspen, ya disuspen. Tapi itu kewenangan mereka,” ujarnya.
Ia menegaskan, sebelumnya pihak kecamatan sudah melakukan pemantauan terhadap SPPG di wilayah Mlati.
“Senin lalu kami bersama beberapa unsur sudah melakukan monitoring, termasuk soal SOP dan sanitasi dapur. Kami sudah menyarankan agar lebih diperhatikan,” pungkas Arifin.

🔷️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












