
Walikota Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Letjen (TNI) Purn. Dadang Hendrayudha (foto Olivia Rianjani).
WARTA-JOGJA.COM, YOGYAKARTA – Kasus keracunan makanan yang terjadi di wilayah Wirobrajan, Yogyakarta, memicu perhatian serius dari Badan Pengawasan dan Pengendalian Gizi Nasional (BGN). Dalam pertemuan tertutup “Koordinasi dan Evaluasi Program MBG di DIY” yang berlangsung di ruang Yudhistira Balai Kota Yogyakarta, pada Kamis 6 November 2025.
Walikota Hasto Wardoyo menekankan pentingnya pengawasan air dan bahan baku yang digunakan dalam operasional Sekolah Pengelolaan Pangan dan Gizi (SPPG). Diungkapkanya bahwa temuan bakteri E. coli pada buah dan sayur menjadi perhatian utama.
“Saya mencurigai nyucinya buah dan sayur itu pakai air yang terkontaminasi E. coli. Maka saya akan perintahkan Dinas Kesehatan untuk sebelum operasional, ngecek dulu, airnya itu terkontaminasi E. coli nggak di tempat itu. Ini penting sekali karena terbukti kita ketemu E. coli,” ujarnya kepada awak media usai audiensi.
Kendati begitu, Hasto menegaskan untuk solusi pencegahan, yakni SPPG mewajibkan penggunaan air galon atau air PDAM yang difilter agar bebas dari kontaminasi bakteri.
“Kalau mau pakai air keran, ya air kerannya harus dipasang filter, yang kemudian akhirnya E. coli-nya sudah terfilter. Cara lain bisa pakai air per pipaan dari PDAM. Kalau pakai air sumur, risikonya kan terkontaminasi,” tegas Hasto.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Letjen (TNI) Purn. Dadang Hendrayudha, menyampaikan bahwa kasus serupa di DIY belum semuanya teridentifikasi, namun koordinasi dengan satgas percepatan penanganan terus dilakukan.
“Yang ada kejadian, ini langsung kita tutup. Kemudian kita lakukan evaluasi secara menyeluruh tentang tata kelola dan proses bisnis. Dari hasil yang ada, ini kan ada E. coli, berarti berkaitan dengan air. Kita sudah sarankan, kalaupun beli galon khusus untuk makanan, sehingga tidak terjadi lagi,” ujar Dadang.
Oleh karena itu, Dadang menekankan, kejadian ini menjadi momentum untuk meninjau kembali kualitas bahan baku, proses bisnis, dan infrastruktur penyediaan makanan di wilayah Yogyakarta.
“Niat kita adalah memberikan makan bergizi, bukan hanya makan kenyang. Tata kelola, rantai pasok, termasuk bahan baku, ini harus berkualitas,” pungkas Dadang.

🔶️ PIMPRED & REDAKTUR: MAWAN












